Pundi Surga

Info

Info

Keutamaan Sedekah Air

Dibuat oleh : Admin Kamis, 22 Agustus 2024 / 17 Safar 1446 H Pada beberapa waktu lalu, banyak berita yang menyampaikan tentang terjadinya bencana kekeringan di beberapa daerah di DIY. Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas. Mengungkapkan bahwa peringatan dini kekeringan meteorologis dikeluarkan karena berkurangnya curah hujan. “Peringatan dini kekeringan meteorologis adalah berkurangnya curah hujan dari keadaan normalnya, dalam jangka waktu yang panjang dengan kurun waktu bulanan, dua bulanan dan seterusnya,” kata Reni dalam keterangan tertulis yang dikutip detikJogja, Selasa (20/8/2024). Reni menjelaskan, peringatan ini dikeluarkan berdasarkan hasil pemantauan curah hujan hingga tanggal 20 Agustus 2024. Selain itu juga prakiraan peluang curah hujan 2 dasarian ke depan. Kemudian telah mengalami hari tanpa hujan lebih dari 31 hari dan prakiraan curah hujan rendah kurang 20 mm/dasarian dengan peluang terjadi di atas 70 persen, berdasarkan hal tersebut, Reni menjelaskan seluruh wilyah DIY dalam status siaga kekeringan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Yogyakarta, Noviar Rahmad, mengatakaan kepada Tempo.co tentang kabupaten yang paling terimbas kemarau pada tahun ini adalah Gunungkidul, Bantul, serta Kulon Progo. “Sebanyak 1.153 hektare lahan pertanian di kabupaten-kabupaten itu terdampak kekeringan dan sebagian besar mengalami puso (gagal panen),” katanya pada Senin, 19 Agustus 2024. Khusus di Kabupaten Gunungkidul, ada 10 kecamatan yang lahannya terganggu oleh kekeringan panjang. Area yang dimaksud mulai dari Semanu, Saptosari, Playen, Karangmojo, Gedangsari, Semin, Ngawen, Ponjong, Nglipar, sampai Patuk. Sebagian besar tanaman padi yang gagal panen di Gunungkidul ada di lahan sawah tadah hujan. Dari informasi diatas, ada sebuah pertanyaan bagaimana tanggapan kita dalam memberi respon dalam kasus bencana kekeringan ini?. Yang perlu kita pahami bersama, Sedekah air merupakan suatu  bentuk sedekah yang teramat disukai oleh Rasulullah SAW. Hal ini tercatat dalam hadits dari Sa’id bin Al-Musayyib, dari Sa’ad bin ‘Ubadah, ia berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ سَقْيُ الْمَاءِ “Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal dunia, apakah boleh aku bersedekah atas namanya?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Iya, boleh.” Sa’ad bertanya lagi, “Lalu sedekah apa yang paling afdal?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Memberi minum air.” (HR. An-Nasai, no. 3694 dan 3695. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lainnya). Lalu mengapa sedekah air menjadi suatu sedekah yang sangat afdal? Pertanyaan ini dijawab oleh Abu ‘Abdirrahman Syarof Al-Haqq Muhammad Asyraf Ash-Shidiqi Al-‘Azhim Abaadi, penulis kitab ‘Aun Al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud mengatakan, “Air dikatakan sebagai sedekah yang lebih utama karena kemanfaatannya sangat luas untuk urusan agama dan duniawi”. ‘Aun Al-Ma’bud, 3:76.

Info

Makna Kemerdekaan Dalam Islam

Dibuat oleh:  Admin Selasa, 20 Agustus 2024 / 15 Safar 1446 H Pekan lalu atau tepatnya tanggal 17 Agustus 2024, kita telah memperingati hari kemerdekaan negara Indonesia dengan riang gembira. Hari yang selalu diperingati sebagai hari ulang tahun negara ini pada setiap tahunnya. Namun apabila kita kembali menelaah lebih dalam tentang makna dari kemerdekaan itu sendiri, kita akan mendapat pemahaman lebih daripada kemerdekaan yang selama ini telah kita ketahui. Lalu, apa itu kemerdekaan dan bagai mana maksud dari kemerdekaan yang hakiki dalam agama Islam?, mari kita ulas bersama Mengetahui makna kemerdekaan dalam Islam tentu juga mengetahui batas-batas kebebasan yang ditetapkan syariat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemerdekaan dimaknai sebagai kebebasan, dapat berdiri sendiri, dan tidak terjajah lagi. Dari segi istilah, kemerdekaan artinya kebebasan individu untuk melakukan yang dikehendakinya tanpa pengaruh orang lain. Sementara itu, dalam bahasa Arab kemerdekaan disebut dengan al-Hurriyah. Menurut Muhammad Idris, LC dalam karyanya yang berjudul makna kemerdekaan bagi seorang muslim telah menyebutkan bahwasannya Dalam Islam, makna kemerdekaan lebih jauh dari sekedar kemerdekaan sebuah negara dan bangsa. Dalam Islam, kemerdekaan adalah tatkala seorang hamba bebas melakukan ketaatan kepada Allah Ta’ala tanpa adanya suatu penghalang apa pun. Dalam Islam, kemerdekaan adalah tatkala seorang muslim tidak memiliki penghalang antara dirinya dan surga Allah Ta’ala. Mengutip dari buku Al Qur’an sebagai Sumber Hukum yang disusun Alik Al Adhim, dalam Al-Qur’an kemerdekaan disebut sebagai al-Hurriyah. Islam menghormati kemerdekaan individu, kemerdekaan berfikir, kemerdekaan berbicara, bahkan kemerdekaan memilih dan menentukan agama dan jalan hidupnya. Ini diterangkan dalam surah Al Baqarah ayat 256, لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Bahkan, kemerdekaan termasuk salah satu prinsip dalam penerapan hukum Islam. Diterangkan dalam buku Pemikiran dan Filsafat Hukum Islam yang ditulis Prof Dr Izomiddin MA, kemerdekaan dan kebebasan dalam Islam menghendaki agar agama Islam disiarkan tidak berdasar paksaan, melainkan berdasarkan penjelasan, demonstrasi dan argumentasi. Selain al-Hurriyah, kemerdekaan dalam Islam juga disebut sebagai al-Istiqla. Kata tersebut ditafsirkan sebagai al-taharrur wa al-khalash min ay-qaydin wa saytharah ajnabiyyah atau bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain. Secara syariah, makna kemerdekaan dalam Islam berarti kondisi ketika seseorang sadar dan berusaha keras untuk memposisikan diri sebagai hamba Allah SWT. Jadi, muslim harus tunduk kepada Allah SWT semata, tidak ada selain-Nya. Kemerdekaan dalam islam dengan aspek kemanusiaan mencangkup : Kebebasan Beragama Alquran berulang kali menyebutkan bahwa Allah SWT mengangkat derajat manusia dari makhluk lainnya dan berulang kali pula akan menurunkan derajatnya sampai lebih hina dari binatang apabila tidak mampu menggunakan anugerah akal dan kelengkapan anggota jasmani yang diberikan kepadanya. Di satu sisi derajatnya diangkat melebihi dari Malaikat, tetapi di sisi lain ia juga bisa menjadi lebih rendah dari hewan. Salah satu dari jaminan dasar itu ialah kebebasan beragama atau yang  sering diungkapkan dengan kemaslahatan agama. Syariat Islam menjamin terpeliharanya kelima hak pokok yang diberikan Allah SWT kepada manusia bagi terciptanya kemaslahatan kehidupan, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Toleransi merupakan hal yang tetap dibutuhkan demi berjalannya transformasi sosial sepanjang sejarah umat manusia. Bahkan sejarah membuktikan bahwa agama merupakan dobrakan moral atas kungkungan yang ketat dari pandangan yang dominan yang berwatak menindas. Hal tersebut telah dibuktikan oleh Islam dengan dobrakannya atas ketidakadilan wawasan hidup jahiliah yang dianut mayoritas bangsa Arab di zamannya. Manusia di tempatkan pada martabat yang tinggi dan merupakan karunia pemberian Tuhan kepadanya, bukan pemberian manusia lain dan bukan pula pemberian negara atau superioritas lainnya. Pembahasan terhadap berbagai masalah di atas memiliki tolak ukur dari beberapa ayat Al-Qur’an, salah satunya : وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَاٰمَنَ مَنْ فِى الْاَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًاۗ اَفَاَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ “Dan jikalau Tuhan-mu  menghendaki  tentulah semua orang yang ada di muka bumi beriman seluruhnya. Maka apakah   kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. (Q.S Yunus :99). Kebebasan Berpikir Kebebasan berfikir juga perlulah seiring dengan tuntutan iman dan batasan aqidah. Dalam hal ini, manusia boleh menggunakan kebebasan berfikir untuk menyatakan pandangan atau melontarkan pendapat selagi perkara tersebut tidak menyalahi agama. Kebebasan Berpolitik Pada dasarnya Islam tidak pernah mendoktrinkan sebuah sistem politik tertentu secara utuh dan baku. Politik dalam Islam sangatlah lentur dan dinamis, terlihat dari bagaimana rekam jejak Nabi dan para penggantinya yang disebut Khulafaurrasyidin mengelola kehidupan politik umat Islam di awal sejarah. Relasi Islam dan politik memang telah diperbincangkan sejak sangat lama. Beberapa ulama yang pernah mengkaji politik Islam di antaranya adalah al-Farabi (w. 339 H), al-Mawardi (w. 450 H), al-Ghazali (w. 505 H), Ibn Taymiyah (728 H) dan Ibn Khaldun (w. 784 H). Dan di era kontemporer di antaranya adalah Jamaludin al-Afghani (w. 1897 M), Hasan al-Banna (w. 1949 M), Abdul Wahab Khalaf (w. 1956 M), Ali Abd al-Raziq (w. 1966 M), Sayyid Quthb (w. 1966), al-Maududi (w. 1979 M), Abdurrahman Wahid (w. 2009 M), dan lainnya. Namun meski Islam tidak mengajarkan sebuah sistem yang utuh tentang politik, Islam menekankan sejumlah prinsip dan moralitas berpolitik dan bernegara. Paling tidak ada tujuh prinsip politik Islam yang tersirat di dalam Al-Quran. Antara lain  Amanah,

Info

Kebutuhan Dasar Sebagai Manusia

Dibuat oleh : Admin Senin, 19 Agustus 2024 / 14 Safar 1446 H Kebutuhan manusia merupakan keinginan manusia pada suatu barang ataupun jasa yang bisa untuk memenuhi kepuasan rohani dan jasmani demi kelangsungan hidupnya. Apabila kebutuhan manusia dapat terpenuhi, maka dapat dikatakan kehidupannya telah mencapai kemakmuran. Oleh sebab itu, pengertian kemakmuran yaitu keadaan manusia di mana sebagian besar kebutuhannya dapat terpenuhi. Namun perlu diketahui, bahwa kemakmuran berbeda dengan kekayaan. Kemakmuran diartikan sebagai bagian besar kebutuhan terpenuhi, sementara kekayaan merujuk kepada jumlah harta yang dimiliki seseorang. Dalam konsep teori hierarki kebutuhan Maslow mengatakan bahwa terdapat lima tingkat kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Adapun dalam perspektif islam, kebutuhan ditentukan oleh konsep maslahah. Maslahah adalah segala sesuatu yang memberikan manfaat baik untuk didunia maupun diakhirat. Menurut Syatibi, kebutuhan dibedakan menjadi tiga, yaitu kebutuhan pokok/primer (dharuriyah), kebutuhan pelengkap/sekunder (hajjiyah), dan kebutuhan perbaikan/tersier (tahsiniyah). Dharuriyat (primer) Kebutuhan Dharuriyat adalah kebutuhan paling utama  dan paling penting. Kebutuhan ini harus terpenuhi agar manusia dapat hidup layak. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi hidup manusia akan terancam didunia maupun akhirat. Kebutuhan ini meliputi, khifdu din (menjaga agama), khifdu nafs (menjaga kehidupan), khifdu ‘aql (menjaga akal), khifdu nasl (menjaga keturunan), dan khifdu mal (menjaga harta). Hajiyat (sekunder) Kebutuhan hajiyat adalah kebutuhan sekunder atau  kebutuhan setelah kebutuhan dharuriyat. Apabila kebutuhan hajiyat tidak terpenuhi tidak akan mengancam keselamatan kehidupan umat manusia, namun manusia tersebut akan mengalami kesulitan dalam melakukan suatu kegiatan. Kebutuhan ini merupakan penguat dari kebutuhan dharuriyat. Tahsiniyat (tersier) Kebutuhan tahsiniyah adalah kebutuhan yang tidak mengancam kelima hal pokok yaitu khifdu din (menjaga agama), khifdu nafs (menjaga kehidupan), khifdu aql (menjaga akal), khifdu nasl (menjaga keturunan), serta khifdu maal (menjaga harta) serta tidak menimbulkan kesulitan umat manusia.  Kebutuhan ini muncul setelah kebutuhan dharuriyah dan kebutuhan hajiyat terpenuhi. Konsumsi dalam islam tidak dapat dipisahkan dari keimanan. Seorang muslim yang baik, pada saat akan mengkonsumsi sesuatu pasti akan melihat dari berbagai macam aspek, seperti dari halal dan haramnya, kemaslahatannnya, kebutuhan dan kewajibannya. Sedangkan seorang muslim yang tingkat keimanannya pada tingkat yang kurang baik, tidak akan memperhatikan aspek tersebut, tetapi dipengarihi oleh ego, keinginan dan rasionelisme serta utility (kepuasan). Selanjutnya ada beberapa contoh tambahan yang pastinya sangat dibutuhkan tiap manusia yang mana beberapa hal ini adalah kebutuhan diluar kesadaran manusia itu sendiri, seperti : Kesehatan Dengan adanya jaminan kesehatan serta kebutuhan yang layak dan higienis menjadikan bahwa kesehatan adalah kebutuhan manusia yang kerap kali tidak kita sadari. Keamanan Apabila lingkungan kita tidak aman pastinya kita akan merasa khawatir dan was-was, sehingga kita sangat membutuhkan yang namanya keamanan. Ketentraman Lingkungan yang aman, kesehatan yang baik serta kebutuhan yang telah terpenuhi tentunya sebuah kebutuhan kita sebagai manusia. Keselamatan Ketika kita akan berangkat kerja atau melakukan segala aktivitas harian tentunya kita memerlukan yang namanya keselamatan, karena demi menunjang kelancaran kegiatan yang akan kita lakukan maka keselamatan adalah suatu hal yang sangat kita butuhkan. Dihargai dan Menghargai Sebagai manusia tentunya kita menginginkan penghargaan dari orang lain tapi kitapun perlu ingat agar selalu menghargai orang lain terlebih dahulu.   Setelah kita pahami dan kita rasakan, maka tidak ada lagi alasan bagi kita untuk berpangku tangan ketika menyaksikan segala kondisi yang terjadi diberbagai tempat di dunia. Banyak sekali fakta yang terpampang dengan jelas bahwa masih banyak saudara-saudara kita dibelahan dunia yang lain masih memperjuangkan hak-hak mereka atas tanah air, serta tidak terpenuhinya hak-hak atas kebutuhan mereka sebagai manusia yang hidup di dunia karena keadaan yang memaksa mereka untuk siap apabila suatu saat mereka akan menghadapi kematian. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ (رواه مسلم) Maknanya: “Barang siapa meringankan suatu kesulitan dunia dari seorang mukmin, maka Allah ringankan darinya kesulitan di antara kesulitan-kesulitan di hari kiamat. Barang siapa memudahkan bagi orang yang kesulitan, maka Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). Marilah kita kembali berintrospeksi diri, apakah kita sudah melakukan kebaikan kebaikan atas harta yang telah Allah titipkan kepada kita. Ataukah kita masih saja lupa dengan segala titipan dunia ini hanya bersifat sesaat saja, sehingga kita masih enggan untuk mengulurkan tangan untuk membantu saudara-saudara kita diluar sana yang masih mengalami kesulitan.

Info

Sikap Kita Dalam Menghadapi Kasus Kemanusiaan

Dibuat oleh : Admin Selasa, 13 Agustus 2024 / 8 Safar 1446 H Dalam era globalisasi  saat ini, kita dihadapkan pada berbagai krisis kemanusiaan yang menyelimuti berbagai belahan dunia. Dari konflik bersenjata, bencana alam, hingga krisis pengungsi, setiap insiden menguji nilai-nilai kemanusiaan kita. Menggali makna kemanusiaan dalam konteks krisis global ini bukan hanya sekadar refleksi moral, tetapi juga panggilan untuk aksi nyata. Solidaritas dan empati adalah fondasi dari kemanusiaan. Saat kita melihat penderitaan orang lain, respon alami kita harusnya adalah merasakan empati dan berusaha membantu. Contoh paling nyata adalah respon internasional terhadap bencana alam. Ketika gempa bumi atau banjir melanda suatu negara, bantuan dari berbagai penjuru dunia datang tanpa memandang batas negara atau perbedaan budaya. Ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, kita memiliki ikatan kemanusiaan yang melampaui segalanya. Solidaritas tidak hanya terjadi pada level internasional, tetapi juga dalam komunitas lokal. Dalam situasi krisis, seperti banjir atau gempa bumi, kita sering melihat komunitas lokal bersatu untuk membantu satu sama lain. Orang-orang membuka pintu rumah mereka untuk tetangga yang terkena dampak, sukarelawan bekerja tanpa henti untuk mendistribusikan bantuan, dan berbagai organisasi lokal berkoordinasi untuk memberikan bantuan. Solidaritas lokal ini seringkali menjadi tulang punggung dari upaya pemulihan pasca-bencana. Selain itu, Hak asasi manusia adalah prinsip dasar yang mengakui bahwa setiap individu, tanpa memandang latar belakangnya, berhak untuk hidup dengan martabat dan mendapatkan perlakuan yang adil. Di tengah krisis, hak-hak ini sering kali terancam. Pengungsi, misalnya, sering kali harus meninggalkan rumah mereka tanpa membawa apa-apa, dan mereka menghadapi ketidakpastian tentang masa depan mereka. Mereka juga sering menghadapi diskriminasi dan stigma di negara-negara tempat mereka mencari perlindungan. Badan-badan internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), berperan penting dalam melindungi hak asasi manusia di tengah krisis. Namun, tanggung jawab ini tidak hanya berada di tangan organisasi internasional. Setiap negara, komunitas, dan individu memiliki peran dalam memastikan bahwa hak asasi manusia dihormati dan dilindungi. Ini bisa dilakukan melalui kebijakan yang adil, pendidikan yang inklusif, dan tindakan nyata dalam membantu mereka yang terkena dampak krisis. Beberapa hal diatas dapat kita lakukan dengan cara memberikan pendidikan tentang hak asasi manusia dan kemanusiaan sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan tentang pentingnya menghargai dan melindungi hak-hak orang lain, serta bagaimana mereka bisa berperan dalam menciptakan masyarakat yang adil dan inklusif. Selain itu, pendidikan tentang isu-isu global, seperti perubahan iklim, migrasi, dan kesehatan global, juga penting untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan. Universitas dan lembaga pendidikan tinggi juga memiliki peran penting dalam pendidikan kemanusiaan. Mereka bisa menjadi pusat penelitian dan inovasi dalam bidang ini, serta menyediakan platform untuk diskusi dan kolaborasi antara akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi. Pendidikan tinggi juga bisa membantu menciptakan pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman mendalam tentang isu-isu kemanusiaan dan komitmen untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Untuk Mengatasi krisis kemanusiaan tidak hanya tentang memberikan bantuan jangka pendek, tetapi juga tentang memahami dan mengatasi akar masalah yang menyebabkan krisis tersebut. Banyak krisis kemanusiaan berakar pada masalah struktural seperti ketidaksetaraan ekonomi, ketidakadilan sosial, dan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, upaya kemanusiaan juga harus mencakup inisiatif untuk mengatasi akar masalah ini dan menciptakan perubahan jangka panjang. Misalnya, dalam menangani krisis pengungsi, penting untuk tidak hanya memberikan bantuan darurat seperti makanan dan tempat tinggal, tetapi juga mendukung inisiatif yang membantu pengungsi membangun kembali kehidupan mereka. Ini bisa mencakup akses ke pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan kerja. Dengan cara ini, pengungsi bisa menjadi mandiri dan berkontribusi positif pada masyarakat tempat mereka tinggal. Di tengah krisis, harapan dan ketahanan adalah sumber kekuatan yang penting. Harapan memberikan semangat untuk terus berjuang, sementara ketahanan memungkinkan kita untuk bertahan dan bangkit kembali dari kesulitan. Menginspirasi harapan dan ketahanan adalah bagian penting dari upaya kemanusiaan. Ini bisa dilakukan melalui cerita dan contoh-contoh inspiratif dari mereka yang telah berhasil mengatasi tantangan besar. Misalnya, cerita tentang pengungsi yang berhasil membangun kembali kehidupan mereka dan berkontribusi positif pada masyarakat baru mereka bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi orang lain. Selain itu, mendukung inisiatif yang mempromosikan kesejahteraan mental dan emosional juga penting dalam membantu orang mengembangkan ketahanan. Harapannya setiap tindakan kecil kita, ketika digabungkan, dapat memberikan dampak besar dalam mengatasi krisis kemanusiaan global. Pendidikan, inovasi, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab adalah alat penting dalam upaya ini. Dengan menginspirasi harapan dan ketahanan, serta mengatasi akar masalah, kita bisa menciptakan perubahan jangka panjang yang mendalam. Mari kita bersama-sama menggali dan menghidupkan kembali makna kemanusiaan kita, demi dunia yang lebih adil dan manusiawi.

Info

Solidaritas Kemanusiaan Kepada Sesama

Dibuat oleh : Admin Senin, 12 Agustus 2024 / 7 Safar 1446 H Konflik besar yang sedang  terjadi di Palestina saat ini telah memberikan banyak sekali pelajaran dan memberitahu kita tentang apa yang bisa dilakukan seorang manusia kepada manusia yang lain. Beberapa waktu lalu badan PBB menyatakan untuk jumlah pengungsi Palestina mengatakan lebih dari 75.000 warga Palestina di Gaza selatan terpaksa mengungsi dalam beberapa hari terakhir. Peristiwa ini tak lama setelah banyak dari mereka diizinkan kembali ke daerah mereka. Pasukan Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi baru di Khan Younis ketika mereka melakukan operasi militer ketiga mereka di sana sejak Oktober lalu. Dikutip dari aljazeera.com, para petugas medis dan orang-orang yang selamat dari serangan Israel terhadap sebuah sekolah di Kota Gaza mengumpulkan bagian-bagian tubuh para korban dan mencari orang-orang yang hilang ketika para pemimpin dunia mengutuk pengeboman yang menewaskan lebih dari 100 orang tersebut. Sedikitnya 39.790 orang telah terbunuh dan 92.002 orang terluka dalam perang Israel di Gaza. Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas pada tanggal 7 Oktober, dan lebih dari 200 orang ditawan. Pederitaan masyarakat Gaza tak hanya datang dari serangan Israel. Mereka juga harus menghadapi penyakit kulit yang mulai merajalela di Jalur Gaza. Tragis, kini kasus penyakit kulit di Gaza semakin meningkat dipicu oleh krisis sanitasi, air bersih, hingga produk perawatan tubuh di tengah genosida. Melansir dari VOA Indonesia, masyarakat Gaza telah memohon agar akses perbatasan dibuka. Mereka sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan, termasuk bahan bakar untuk pompa sistem sanitasi. Namun sayangnya, bantuan kemanusiaan sulit tersalurkan ke Jalur Gaza. PBB mengaku kesulitan menyalurkan bantuan ke daerah tersebut. Operasi militer Israel dan situasi yang tak kondusif di Gaza menghambat masuknya truk-truk yang mengangkut berbagai barang kebutuhan masyarakat Gaza. Banyaknya truk yang sulit melintas membuat distribusi produk perawatan tubuh seperti sabun, sampo, hingga obat-obatan tidak sampai ke tangan mereka yang membutuhkan. Saat ini, sebagian besar masyarakat Gaza tengah mengungsi dengan keadaan yang memilukan. Mereka harus berdempetan di area seluas 50 kilometer persegi. Tempat pengungsian dibangun secara darurat di daerah yang tidak memiliki sistem pembuangan limbah yang layak, seperti area gurun dan lahan pesisir. Di tempat tersebut, masyarakat Gaza juga sangat kesulitan mendapatkan akses air bersih. Sebagian besar penderita penyakit kulit di Jalur Gaza adalah anak-anak. Sanitasi yang buruk juga membuat kamp pengungsian dipenuhi banyak lalat yang hinggap di tubuh anak-anak. “Serangga dan lalat selalu ada di wajahnya. Ada di WC, sampah, lalu hinggap di tangan dan wajahnya. Ini benar-benar kotor dan tercemar,” kata Manar Al-Hessi, Bunda di Kamp Pengungsi Shati, dikutip dari video di akun Instagram @voaindonesia. Lalu apa yang bisa kita lakukan dalam merespon tragedi kemanusiaan yang terjadi disana? Sebagai bangsa yang pernah merasakan pahitnya penjajahan yang terjadi selama kurang lebih 350 tahun, tentunya kita bisa ikut merasakan apa yang terjadi di Palestina saat ini. Dengan ikut merasakan apa yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina, tentunya kita sebagai bangsa yang telah merdeka memiliki rasa ingin menolong mereka yang menjadi korban di tanah air mereka sendiri. Ketika kita berbicara tentang selalu tolong menolong dengan sesama, hal pertama yang terlintas adalah bagaimana kita bisa membantu satu sama lain, berbagi dan saling memberikan dukungan. Hal ini penting karena kita harus mengingat bahwa kita semua adalah bagian dari satu komunitas yang lebih besar. Bila kita tidak bisa saling bekerja sama, maka komunitas kita tidak akan berfungsi dengan baik, dan kemungkinan kita tidak akan bisa mencapai tujuan yang telah kita tetapkan. Kita juga harus mengingat bahwa tolong menolong dengan sesama bukan hanya berarti berbagi dan memberikan dukungan, tetapi juga berarti menghormati satu sama lain. Karenanya, kita harus mempelajari cara berinteraksi dengan sesama yang baik dan bijaksana. Karena jika kita tidak saling menghormati, maka kita tidak akan bisa bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan. Di luar itu, tolong menolong sesama juga penting untuk memastikan bahwa kita semua mendapatkan kesempatan yang sama dalam hidup. Dengan tolong menolong sesama, kita dapat mengurangi kesenjangan antara si miskin dan si kaya, mengurangi ras dan perbedaan budaya, dan membantu orang-orang yang membutuhkan. Dengan cara ini, kita dapat memastikan bahwa semua orang diberi kesempatan untuk hidup yang lebih baik. Tolong-menolong dalam islam dibangun diatas sebuah kaedah yang ada dalam firman Allah: وَتَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ… “….Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [QS Al Ma”idah:2]. Al-Qurthuby berkata bahwa Ayat tersebut adalah perintah untuk setiap makhluk agar senantiasa tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, maksudnya: sebagian kalian harus menolong sebagiannya lagi, dan kalian harus saling memotivasi untuk mentaati segala perintah Allah dan mengamalkannya, dan berhenti dari segala yang Allah larang.” (Tafsir Qurthuby : 6/46) . Kesimpulannya, tolong menolong sesama penting untuk memastikan bahwa kita semua hidup dalam harmoni, meningkatkan solidaritas di antara kita, memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Hal ini penting bagi kita semua untuk membangun dan mempertahankan komunitas yang kuat dan terikat satu sama lain.

Info

Apa Perbedaan Zakat Dan Pajak?

Dibuat oleh : Admin Rabu, 7 Agustus 2024 / 2 Safar 1446 H Dalam menjalani kehidupan saat ini, apakah pernah terbesit  di pikiran kita tentang tentang perbedaan zakat dengan pajak? Atau apakah zakat dan pajak itu adalah dua hal yang sama? Mari bersama-sama kita ulik perbedaan dan persamaan antara zakat dan pajak. Mengutip dari Fiqih Zakat Kontemporer Dompet Dhuafa, berikut ini merupakan sisi persamaan antara zakat dan pajak: Pajak dan zakat sama-sama disalurkan melalui lembaga. Tidak ada imbalan tertentu bagi yang mengeluarkan pajak ataupun zakat dari lembaga yang menerimanya. Keduanya memiliki target-target pada aspek sosial, ekonomi, politik tertentu Secara gamblang, zakat dan pajak memiliki persamaan karena perintah mengeluarkan sebagian harta ini dijalankan menurut aturan tertentu yang menaungi sebuah kelompok masyarakat. Zakat dibayar berdasarkan syariat Islam, sedangkan pajak dibayarkan menurut undang-undang perpajakan yang berlaku dalam sebuah negara. “…dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43) Meskipun zakat dan pajak memiliki persamaan seperti yang telah di sampaikan pada paragraf diatas, bukan berarti zakat dan pajak adalah dua hal yang sama. Karena jika kita pelajari jauh lebih dalam makna dari zakat, maka kita pasti akan menemukan pebedaan-perbedaan  antara zakat dan pajak. Lalu apa saja yang membuat zakat dan pajak menjadi berbeda? Mari kita ulik bersama sama. Perbedaan yang ada pada dua hal itu antara lain : Penerima Orang yang berhak menerima zakat ada 8 golongan mustahik (golongan orang yang berhak menerima zakat), dan dapat dirasakan langsung atau tidak langsung bagi penerima, sedangkan pajak tidak bisa dirasakan lansung oleh penerima. Waktu Pemberian Zakat dikeluarkan / dibayarkan saat harta telah mancapai nisab (batasan minimal kekayaan seseorang yang diwajibkan membayar zakat), sedangkan pajak dikeluarkan pada tiap tahunya (tidak peduli keadaan yang sedang dialami). Alat pembayaran Pembayaran zakat lebih fleksibel karena bisa menggunakan uang tunai maupun barang pokok lain yang dimiiki sedangkan pajak hanya bisa dibayarkan menggunakan uang tunai. Perbedaan Secara bahasa zakat dan pajak memiliki makna yang sangat jauh berbeda. Dalam bahasa arab pajak memiliki dharibah/ tagihan yang membebani. Sedangkan zakat memiliki makna pembersihan,pertumbuhan, dan keberkahan. Nabi Sallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: harta tidak akan berkurang dengan sedekah (HR. Tarmidzi).Lalu, Allah berfirman dalam Al Quran surat At-Taubah ayat 103: “ Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.“ Merujuk pada Al Quran dan hadits, zakat bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan harta karena tidak semua bagian adalah milik kita. Ada hak orang lain di dalam harta yang kita gunakan dan konsumsi. Sasaran wajib zakat/Pajak Zakat hanya di wajibkan bagi orang islam, sedangkan pajak diwajibkan oleh seluruh warga negara. Jumlah nominal yang dikeluarkan Ukuran/kadar harta yang dikeluarkan dalam berzakat telah ditrntukan secara mutlak oleh syariat. Sedangkan besaran nominal yang arus dikeluarkan untuk pajak diatur oleh pemerintah. Penyaluran Perbedaan zakat dan pajak yang terakhir yaitu penyaluran setelah dana terkumpul. Untuk zakat, Al Quran telah mengatur penyaluran kepada 8 golongan mustahik atau penerima zakat. Zakat menyimpan pesan tersirat untuk kemanusiaan. Kalau pajak. penyaluran digunakan untuk menutupi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Demikian lah beberapa contoh persamaan dan perbedaan antara zakat dan pajak yang bisa kita pahami bersama. Semoga setelah kita memahami persamaan dan perbedaan antara zakat dan pajak untuk kedepanya kita bisa membedakan kapan kita harus membayar zakat dan kapan kita harus membayar pajak sehingga kita tetap bisa menjadi umat muslim dan warga negara yang taat pada peraturan karena hakikatnya meski ketetapan pajak dirancang oleh manusia tetapi bisa terealisasikan karena ijin Allah SWT.  

Info

Perjuangan Mereka Belum Berakhir Dan Syahidnya Sang Pemimpin Perjuangan

Dibuat oleh: Admin Selasa, 6 Agustus 2024 / 1 Safar 1446 H Kekejaman yang dilakukan oleh pasukan zionis Israel kepada rakyat palestina sungguh diluar batas hati nurani manusia, Menurut kementrian kesehatan setempat, genosida yang dilakukan oleh kaum zionis telah merenggut hingga 39.583 korban tewas dan 91.398 lainya menjadi korban luka-luka. Menurut sumber yang dilansir dari tvonenews.com, kementrian kesehatan terkait menambahkan bahwa “ Pasukan Israel membunuh setidaknya 33 orang dan melukai 118 lainya dalam dua ‘ pembantaian’ terhadap keluarga-keluarga Palestina selama 24 jam terakhir.’ Dilansir pada Minggu (4/8/2024). Setelah hampir 10 bulan lamanya perang yang terjadi antara Penjuang Palestina yang memperjuangkan tanah air mereka melawan tentara kaum zionis, telah menyebabkan hancurnya sebagian wilayah di Gaza serta blokade yang dilakukan kaum zionis untuk melumpuhkan pasokan makanan,air bersih, obat obatan dan segala bantuan logistik yang diberikan internasional. Beberapa waktu yang lalu, kita mendapat kabar yang menggemparkan atas syahidnya Ismail Haniyah pada hari rabu (31/7) dipenginapanya yang mana pada saat itu, beliau sedang berada di Teheran,Iran untuk menghadiri pelantikan Presiden Iran yang baru. Padahal jauh sebelum tewasnya Ismail Haniyah di Teheran, Iran. Kita bisa melihat rekam jejak dari upaya yang dilakukan pasukan zionis untuk membunuh beliau yang mana telah beberapa kali dilakukan seperti pada 6 September 2003 lalu dan 20 oktober 2006. Akan tetapi Ismail Haniyah masih ditakdirkan Allah SWT untuk berjihad hingga akhirnya Allah SWT memanggilnya pada hari Rabu,31 Juli 2024 lalu Hal ini semakin membuktikan kepada kita bagaimana kebengisan luar biasa yang telah  dilakukan oleh kaum zionis meskipun telah mendapat kecaman dari berbagai negara anggota PBB, kasus-kasus diatas hanyalah beberapa contoh kebiadaban tentara zionis kepada rakyat palestina. Dan masih sangat banyak tragedi-tragedi kemanusiaan yang sangat mengiris perasaan bagi setiap orang yang masih memiliki hati nurani. Menurut buku yang berjudul 333 Mutiara Kebaikan yang ditulis oleh Syaikh Abu Hamzah Abdul Hamid menyebutkan bahwasanya  tolong menolong antar sesama muslim sudah sejatinya harus dilakukan sebab umat islam itu bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan, sehingga apabila salah satu bagian dari bangunan itu rapuh, maka seluruh bangunan akan mudah roboh. Hal ini diperkuat dengan sabda Rasulullah Muhammad SAW dalam hadits yang berbunyi : “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain bagai sebuah bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain.” (HR Bukhari) Rasulullah SAW juga mengumpamakan bahwa sesama muslim itu bagaikan satu tubuh yang bisa merasakan satu sama lain, apalagi ketika salah satunya ada yang merasa kesulitan. Dari An-Nu’man bin Basyir RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling cinta, saling mengasihani, dan belas kasih mereka bagaikan satu jasad. Apabila satu anggotanya sakit maka seluruh tubuh akan merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim) Untuk itu, marilah kita bersama-sama terus mengikrarkan perjuangan yang dilakukan oleh sodara-sodara kita yang disana, dan tidak lupa untuk ikut berjuang dengan cara memberikan sumbangan donasi serta melakukan aksi boikot untuk tidak membeli/menggunakan  segala produk yang memiliki keterkaitan dengan negara zionis untuk meneruskan genosida yang ada disana. Dalam sebuah hadits yang dinukil dari buku Sunan At-Tirmidzi Jilid 2 oleh Muhammad bin Isa bin Saurah (Imam at-Tirmidzi) dituliskan, dari Qutaibah, dari Abu Awanah, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia mengutip perkataan Rasulullah SAW yang bersabda, ١٤٢٥ – (صَحِيحٌ) حَدَّثَنَا فَتَيَبةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: ((مَنْ نَفْسَ عَنْ مُؤْمِن كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ سَتَرَهُ اللهُ في الدُّنْيَا وَالْآخِرَة وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ)) Artinya: “Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang mukmin ketika di dunia, maka Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan di akhirat. Barangsiapa yang menutupi keburukan seorang muslim, Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim) Sebuah hadis membantu sesama juga disabdakan oleh Rasulullah SAW. Beliau berkata, عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ تَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ (صحيح البخاري ، رقم: ٦٤٨٤) Artinya: Dari Anas bin Malik RA berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Tolonglah saudaramu, yang berbuat zalim maupun yang dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, ini (kami paham) menolong orang yang dizalimi. Tetapi, bagaimana menolong orang yang justru menzalimi?” Rasulullah SAW menjawab, “Ambil tangannya (agar tidak berbuat zalim lagi).” (HR Bukhari) Hadits di atas menganjurkan setiap muslim untuk saling menolong sesama saudara muslim yang lainnya dan tidak menzaliminya. Bahkan, jika melihat saudaranya berbuat zalim, seorang muslim wajib untuk menghentikan saudaranya agar tidak berlaku demikian dan kembali ke jalan yang benar.   Sebaliknya, apabila seorang muslim tidak mau menolong sesama padahal dirinya mampu untuk membantunya, maka Allah SWT akan membalasnya dengan balasan yang setimpal.

Info

Pentingnya Kesejahteraan Seorang Guru

Dibuat oleh : Admin Dipost          : Kamis, 1 Agustus 2024 / 26 Muharram 1446 H Seorang guru adalah pendidik generasi penerus bangsa yang memiliki tugas utama memberi pendidikan dan bimbingan kepada siswa pada jenjang pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Pekerjaan menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan menyerap seluruh kekuatan fisik maupun mental. Hal tersebut dikarenakan, hampir seluruh waktu dihabiskan oleh guru dengan para siswanya di dalam ruang kelas atau di dalam media pembelajaran terkait kegiatan belajar mengajar. Namun, pengabdian yang diberikan oleh seorang guru nampaknya tidak setara dengan tingkat kesejahteraan guru yang tergolong masih rendah pada saat ini, terutama bagi guru honorer. Rasulullah SAW bersabda : رواه الخطيب البغدادي عن جابر .أكْرِمُوا العُلَمَاءَ فإنَّهُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، فَمَنْ أكرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ الله وَرَسُولَهُ :وقال صلى الله عليه وسلم” Artinya: “Hendaklah kamu semua memuliakan para ulama (guru) karena mereka itu adalah pewaris para nabi. Maka, siapa memuliakan mereka, berarti memuliakan Allah dan rasulNya”. (HR Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul) Bagi seorang guru, kesejahteraan merupakan suatu hal yang mendasar, karena dengan kesejahteraan yang memadai itulah yang mampu mendongkrak peningkatan mutu pendidikan dalam proses belajar mengajar. Para guru akan dapat mengajar para siswa dengan sangat baik tanpa membedakan status siswa, semua siswa dididik dan dibina dengan sepenuh hati sehingga menjadi siswa yang cerdas, berkualitas, dan bertanggung jawab. Hal itu menunjukkan bahwa guru ikut bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dimasa depan melalui pendidikan. Namun pada saat ini hal tersebut belum dapat terwujud sepenuhnya dalam lingkungan kehidupan seorang guru, dikarenakan kesejahteraan  guru yang masih belum merata, kehidupan guru di desa tidak sama dengan kehidupan seorang guru di kota. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya kesejahteran merupakan hal yang penting bagi semua guru, kesejahteraan guru mampu meningkatkan motivasi, semangat kerja, serta meningkatkan sikap loyalitas guru terhadap sekolah dan peserta didiknya. Maka dari itu, hendaknya para guru diberikan kesejahteraan dan kompensasi secara maksimal, terutama untuk mempertahankan guru yang memiliki kemampuan dan bakat yang baik dalam kegiatan belajar mengajar. Pentingnya kesejahteraan agar dapat meningkatkan taraf kehidupan guru yang lebih baik serta menerima pendapatan yang layak, sehingga dapat menjadi sebuah motivasi bagi seorang guru agar lebih bersemangat dan maksimal dalam mengemban tugas untuk mengajar generasi penerus bangsa. Dalam hal  ini sangat diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat dan lembaga-lembaga terkait. Semua kekuatan tersebut akan mempercepat mewujudkan kesejahteraan guru, terutama kesejahteraan bagi guru honorer. Banyak kisah-kisah hebat para ulama tentang kegigihannya dalam belajar saat duduk di bangku pendidikan. Dengan kesungguhan dan ketekunannya dalam belajar, akhirnya bisa menjadikan dirinya ulama hebat yang sukses dalam dunia keilmuan. Bahkan tidak sedikit juga yang melahirkan banyak karya-karya yang bisa dinikmati dan dibaca hingga saat ini. Namun demikian, sekadar mencukupkan “belajar” pada dasarnya tidak akan cukup jika tidak disertai dengan adab memuliakan guru-gurunya. Seorang murid sudah seharusnya tidak tertipu dengan kegigihan dan ketekunannya dalam belajar, hingga lupa untuk memuliakan gurunya. Karena itu, para ulama sejak zaman dahulu selalu berpesan perihal pentingnya memuliakan guru. Memuliakan guru merupakan bagian dari memuliakan ilmu itu sendiri, dan orang yang tidak memuliakan gurunya, sama halnya dia tidak memuliakan ilmu yang sedang ia tekuni, dan siapa saja yang tidak memuliakan ilmunya, maka sampai kapan pun ia tidak akan mendapatkan ilmu. Hal ini sebagaimana nasihat yang disampaikan oleh Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, dalam salah satu kitabnya ia mengatakan: كُنْ مُوَقِّرًا لِمُعَلِّمِكَ مُعَظِّمًا لَهُ، فَاِنَّ تَعْظِيْمَهُ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ. وَلاَ يَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِتَعْظِيْمِهِ وَتَعْظِيْمِ أَهْلِهِ، وَكُنْ مُعْتَقِدًا أَيْضَا أَهْلِيَتَهُ وَرُجْحَانَهُ عَلىَ مَنْ كَانَ فِي طَبَقَتِهِ Artinya, “Jadilah kamu orang yang memuliakan serta mengagungkan pada gurumu. Karena sungguh, memuliakannya merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan memuliakan orang yang berilmu. Dan, jadilah kamu orang yang yakin pada kapasitas dan keunggulannya pada orang yang ada pada masanya.” (Syekh Syatha, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], halaman 170). Dapat kita pahami bersama bahwa rendahnya tingkat kesejahteraan guru tentunya juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi rendahnya kinerja guru dalam mengajar sehingga kualitas pendidikan di dalam negeri ikut menurun. Guru adalah faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran merupakan titik utama pada pendidikan sebagai cermin kualitas, guru memberikan jasa yang sangat besar pada kualitas pendidikan. Kesejahteraan guru menjadi suatu harapan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan sepeprti dengan pendapatan yang layak. Sejauh mana pemerintah dalam melakukan pemberian pendapatan yang layak untuk para pendidik juga sangat menentukan kualitas pendidikan Maka dari itu, untuk kesejahteraan guru, langkah yang perlu dilakukan ialah dengan memberikan pendapatan yang layak sesuai dengan tingkat kinerja yang pantas dan sesuai. Mutu pendidikan akan sulit meningkat jika program pendidikan telah dibuat sebaik mungkin, namun tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru. Mari bersama-sama kita berusaha untuk memberikan kesejahteraan kepada guru-guru kita agar generasi penerus bangsa tetap mendapatkan pendidikan secara maksimal. Sehingga kelak Indonesia bisa menjadi negara maju sehingga bisa melebihi negara-negara maju di Eropa saat ini dan membawa syiar yang baik untuk kehidupan di dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam.

Info

Pentingnya Pendidikan Dalam Islam

Dibuat oleh: Admin Dipost         : Selasa, 30 Juli 2024 / 24 Muharram 1446 H Agama Islam telah mendorong umatnya untuk belajar sejak awal turunnya Al-qur’an. Hal ini mendorong kita untuk belajar pada segala jenis pengetahuan dunia seperti penelitian ilmiah, membuka lingkaran belajar, pemanfaatan sumber daya masyarakat, pendekatan pemecahan masalah, bercerita dan pendidikan gratis maupun tentang mempersiapkan kehidupan setelah kematian (akhirat). Pentingnya pembelajaran dalam Islam ini berdasar pada fakta bahwa ayat yang pertama kali Allah SWT turunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril ialah surah Al-alaq yang artinya  “Bacalah dengan menyebut nama nama Tuhanmu, yang telah menciptakan (semua yang ada). Dia telah menciptakan manusia dari bekuan darah (sepotong darah tebal). Bacalah Tuhanmu Maha Pemurah, yang telah mengajarkan, Dia telah mengajarkan manusia yang dia tidak tahu. “(Qs Al-Alaq: 1-5), Rasulullah SAW juga banyak mengingatkan umatnya tentang pentingnya menuntut ilmu, seperti dalam hadits: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim”. (HR.Ibnu Majah) Selain itu nabi Muhammad menjadikan pendidikan sebagai bagian integral dari Islam. Nabi Muhammad mendirikan Sesi Pengetahuan pertama di Dar’ul Arqam. Dia akan duduk di masjid setelah sholat, teman-temannya berkumpul di sekelilingnya. Nabi Muhammad mengajari mereka tentang dasar-dasar Islam, pentingnya moralitas dan yang terpenting Keesaan Tuhan. Nabi Muhammad mengajarkan para siswa dalam syair pengetahuannya tentang ayat-ayat Alquran. Tak hanya di tempat itu, Nabi Muhammad juga menekankan pemerataan pendidikan. Ia mengirim guru Alquran ke komunitas-komunitas di luar Mekkah dan Madinah. Setelah kita memahami bersama bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang sangat dianjurkan maka, seyogyanya kita untuk terus belajar selama kita hidup di dunia. Selain itu, kita juga bisa melihat sejarah masa lalu ketika agama Islam memasuki masa keemasan dalam berbagai bidang seperti Ibnu Rusd,Ibnu Sina, Al-Khawarismi,Ibnu Khaldun yang mana mereka ahli dalam bidang yang berbeda. Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan mengembangkan keterampilan generasi muda. Berbicara tentang pentingnya pendidikan, kita tidak hanya memikirkan belajar membaca, menulis, atau menghitung. Lebih dari itu, pendidikan adalah alat yang membentuk individu yang mampu berkontribusi dan berkompetisi di tengah masyarakat1. Mari kita lihat beberapa aspek mengapa pendidikan sangat penting: Masa Depan yang Lebih Baik Pendidikan membuka pintu menuju masa depan yang lebih baik. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan yang baik memiliki akses ke pengetahuan dan keterampilan yang membantu mereka membangun karier yang sukses dan berkontribusi pada masyarakat dimasa yang akan datang. Karakter dan Etika Pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi juga mengembangkan karakter dan etika. Generasi muda yang mendapatkan pendidikan yang baik cenderung memiliki nilai-nilai moral yang kuat, seperti integritas dan rasa tanggung jawab. Selain itu, dengan pendidikan yang memadai maka generasi penerus akan tetap berpegang teguh pada akhlakul karimah (akhlak yang baik). Menghadapi Tantangan Global Di era globalisasi saat ini, pendidikan semakin penting, khususnya bagi generasi muda yang mana harus siap dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, teknologi, dan ekonomi yang terus berubah. Pendidikan memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk bersaing di pasar global di masa yang akan datang. Akan tetapi, pada saat ini kita dihadapkan pada berbagai problem ketika akan mengenyam pendidikan seperti biaya pendidikan yang mahal, keperluan keperluan wajib yang harus dimiliki dan masih banyak lagi. Tingginya Angka Putus Sekolah Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sulit pula seorang siswa untuk meneruskan mimpinya. Data dalam laporan BPS pun menunjukkan meningkatnya angka putus sekolah di samping tingginya jenjang pendidikan. Pada tingkatan sekolah dasar, terdapat 1 dari 1.000 orang yang putus sekolah. Angka ini lebih rendah dibandingkan jenjang sekolah menengah atas yang mencapai 13 dari 1.000 orang yang putus sekolah. Jika dilihat berdasarkan tipe daerah, terdapat kesenjangan antara perkotaan dan perdesaan. Angka putus sekolah pada semua jenjang pendidikan di pedesaan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Hal ini disebabkan karena anak-anak yang tinggal di perkotaan lebih mudah mengakses sekolah dibandingkan anak-anak di pedesaan. Anak-anak di daerah yang terpencil banyak yang mimpinya terhalang keadaan ekonomi. Meskipun terdapat beasiswa, namun semakin bertambahnya usia, prioritas mereka untuk membantu ekonomi keluarga jauh lebih tinggi dibandingkan melanjutkan pendidikan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar rata-rata biaya pendidikan yang harus dikeluarkan. Melalui laporan Statistik Penunjang Pendidikan 2021, BPS menjabarkan untuk jenjang perguruan tinggi rata-rata total biaya yang diperlukan adalah Rp14,47 juta selama tahun ajaran 2020-2021. Jumlah tersebut, kata BPS, lebih tinggi hampir dua kali lipat dari rata-rata total biaya pendidikan jenjang sekolah menengah (SM)/sederajat yang sebesar Rp7,80 juta. Berdasarkan karakteristik, rata-rata biaya sekolah negeri tingkat dasar (SD)/sederajat sebesar Rp2,81 juta pada 2021. Sementara swastanya sebesar Rp4,93 juta. Selanjutnya, sekolah negeri tingkat menengah pertama (SMP)/sederajat membutuhkan rata-rata biaya sebesar Rp5,11 juta. Sedangkan sekolah swasta tingkat ini sebesar Rp6,79 juta. Kemudian, sekolah negeri tingkat SM/sederajat membutuhkan Rp7,10 juta. Swastanya sebesar Rp9,04 juta. Lain halnya tingkat perguruan tinggi, untuk negeri sebesar Rp12,71 juta. Sementara swastanya sebesar Rp17,01 juta. Adapun biaya pendidikan dalam laporan BPS merupakan hasil penjumlahan dari uang pendaftaran, uang saku, uang transpor, dan biaya operasional seperti Sumbangan Pembinaan Pendidikan/Uang Kuliah Tunggal (SPP/UKT), seragam sekolah, alat tulis, buku pelajaran, serta biaya lainnya yang dikeluarkan oleh peserta didik. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia yang terjadi saat ini? Kita bisa bersama-sama untuk membantu mengapresiasi guru honorer maupun membantu kaum dhuafa yang terpaksa putus sekolah karena terkendala biaya dengan memberikan sedikit rezeki yang telah Allah titipkan kepada kita seperti sabda Rasulullah SAW : عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ،  فَإِنَّمَا  تُرْزَقُوْنَ  وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ (رواه أبو داود) “Dari Abu Darda’ ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Abu Dawud). Semoga kitra senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan rezeki sehingga sebagian dari rizki kita dapat disedekahkan untuk para pengajar dan membantu pendidikan kaum dhuafa agar mereka mendapatkan kesejahteraan dan pendidikan yang setara dengan kita untuk mengembangkan kompetensi mereka dimasa yang akan datang.

Info

Mengapa Rezeki Setiap Orang Berbeda-beda

Dibuat Oleh : Administrator Selasa, 23 Juli 2024 / 17 Muharram 1445 H   Allah subhanahu wata’ala telah menjamin rezeki untuk seluruh makhluknya, akan tetapi masih banyak dari kita yang bertanya-tanya mengapa rezeki yang diterima setiap orang saling berbeda? Mengapa ada orang kaya dengan banyak harta namun ada juga fakir miskin yang perharinya belum tentu bisa makan? Mengapa semua ini dapat terjadi? Bahkan masih ada orang yang meragukan atas  keadilan yang Allah SWT miliki. Perlu kita pahami bersama bahwa rezeki yang diterima oleh setiap individu berbeda-beda karena Allah SWT menghendaki agar rezeki mengalir ke masing-masing orang dengan cara yang berbeda. Perbedaan ini memungkinkan hak rezeki diberikan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi individu. Ingatlah bahwa rezeki bukan hanya sebatas harta materi, tetapi juga melibatkan ilmu, akhlak, dan manfaat lain yang diberikan oleh Allah. Allah SWT Berfirman dalam surat Hud ayat 6 yang berbunyi : وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا ‘Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya.’ (QS. Hud: 6). Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim). Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Dikisahkan bahwa Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham  ( ulama generasi tabi’ tabi’in ) karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang ini pun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510) Telah kita pahami bersama bahwa rezeki pasti akan Allah berikan kepada makhluknya, akan tetapi ada beberapa point juga yang perlu kita pahami bahwa jaminan atas rezeki yang akan Allah berikan tidaklah semata-mata tiba tiba muncul tanpa usaha karena rezeki merupakan taqdir yang mana hal itu adalah rahasia Allah, sehingga kita tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berpangku tangan serta Rasuullah menjelaskan bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan ikhtiyar (Berusaha dalam mencari rezeki) sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi : لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Hadits tersebut menjelaskan bahwa kita tetap harus berikhtiyar terlebih dahulu seperti seekor burung yang keluar dari sarangnya dipagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang (karena berusaha mencari rezeki). Setelah kita memahami bagaimana konsep rezeki yang telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT, mari kita bersama-sama berintrospeksi diri atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu (wahai manusia) hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa dihari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Rezeki bisa dibagi ke dalam dua kutub besar: rezeki halal dan haram. Perbedaan antara keduanya sangat jelas. Rezeki haram manfaatnya tidak bertahan lama, akan habis dalam waktu sekejap. Sedangkan, rezeki yang halal, sekalipun manfaatnya sedikit di mata sebagian orang, tetapi sejatinya harta itu terus bertambah keberkahannya. Umat Islam harus merenungkan makna ayat ke-71 dari surah an-Nahl:” Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberi rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka, mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? Lalu, mengapa rezeki yang diterima oleh individu berbeda satu dengan yang lain? karena Perbedaan tersebut dimaksudkan agar rezeki dapat mengalir ke individu dengan cara yang berbeda-beda. Jika terjadi perbedaan rezeki, Allah akan memberikan haknya dalam bentuk yang lain. Hal ini karena, sekali lagi perlu ditegaskan dalam ingatan kita bahwa, rezeki bukan hanya uang semata, tetapi rezeki adalah segala sesuatu yang dirasakan manfaatnya oleh manusia. Karena itu, bentuk rezeki yang diberikan Allah tidak terbatas. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS al-Baqarah [2]: 212). Pada saat ini sebagian besar dari kita lalu bersikap sinis dan terheran dengan rezeki lebih yang diterima oleh orang kafir. Tetapi, mengapa kaum Muslim itu tidak mencoba menghitung betapa besarnya nilai kebajikan yang Allah berikan kepada mereka? Belum lagi rezeki berupa rasa nyaman yang dirasakan oleh hati. Terlebih jika mereka mengetahui bahwa hari pembalasan pasti akan tiba. Allah akan memberi balasan sesuai dengan keyakinan dan amal yang telah diperbuat selama di dunia (QS an-Nahl [16]: 96-97). Marilah kita bersama-sama saling mengingatkan agar selalu bersyukur atas segala rezeki yang telah Allah berikan kepada kita, dan selalu yakin bahwa rezeki yang kita dapat itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kita.