Pundi Surga

Info

Info

Bahaya Makan Berlebihan Menurut Imam Ghazali

Dibuat oleh: Admin Rabu, 20 November 2024 / 18 Jumadil Awal 1446 H Makanan merupakan sumber utama penghasil energi pada tubuh manusia dan makhluk hidup lainnya. Bagi umat Islam, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan sewajarnya saja, sebab makan berlebihan bisa membawa bahaya. Makanan yang dimaksud tentu masih dalam kategori halal, karena makanan haram jelas akan membawa bahaya lebih banyak lagi. Bahaya makan berlebihan ini disinggung oleh Imam Al-Ghazali. Menurutnya, ada 10 bahaya yang akan didapat seseorang ketika terlalu banyak mengonsumsi makanan, hal ini ia ungkap dalam kitab Minhajul Abidin (Beirut: Darul Basyair al-Islamiyah, 2001), halaman 201-209, sebagaimana berikut: Hati Menjadi Keras Dan Redup Banyak makan bisa menyebabkan hati menjadi keras dan cahayanya jadi redup bahkan hilang. Rasulullah Saw bersabda: لاَ تُمِيتُوا اَلْقُلُوبَ بِكَثْرَةِ اَلطَّعَامِ وَ اَلشَّرَابِ وَ إِنَّ اَلْقُلُوبَ تَمُوتُ كَالزَّرْعِ إِذَا كَثُرَ عَلَيْهِ اَلْمَاءُ Artinya: “Janganlah kalian mematikan hati dengan banyak makan dan minum, sesungguhnya hati itu seperti tanaman yang akan mati apabila terlalu banyak air.” Mendorong Untuk Berbuat Dosa Terlalu banyak makan bisa mendorong atau merangsang anggota tubuh untuk berbuat berlebihan dan tidak baik. Seseorang yang perutnya kenyang akan merangsang mata untuk melihat sesuatu yang tidak baik. Begitu pun pada telinga, tangan, kaki, dan anggota tubuh lainnya akan terdorong untuk melakukan perbuatan dosa. Mengurangi Kecerdasan Makan berlebihan apalagi sampai membuat perut jadi buncit bisa menyebabkan berkurangnya kecerdasan dan ilmu. Ad Darani mengatakan bahwa jika seseorang menginginkan hajat dunia atau akhiratnya terpenuhi, maka ia harus mampu mengondisikan makannya. Mengurangi Semangat Beribadah Terlalu banyak makan bisa menurunkan semangat beribadah. Dengan banyak makan bisa menaikkan berat badan, mata jadi mengantuk, dan anggota tubuh lain jadi lemah sehingga enggan untuk melaksanakan ibadah. Sebuah istilah mengatakan: jika kamu termasuk orang yang perutnya buncit, anggap saja kamu sedang lumpuh. Dikisahkan, Iblis hampir saja menjerat Nabi Yahya, karena saat itu Nabi Yahya dalam keadaan kenyang. Sejak mengetahui bahaya itu, Nabi Yahya tidak pernah kenyang seumur hidupnya. Kesulitan Menikmati Ibadah Banyaknya asupan makanan yang masuk ke dalam perut bisa mengakibatkan sulit merasakan manisnya ibadah. Abu Bakar As Shidiq berkata: “Sejak masuk Islam, aku tidak pernah merasakan kenyang agar aku bisa merasakan manisnya ibadah kepada Tuhanku. Dan aku tidak pernah menghilangkan dahaga agar aku rindu bertemu dengan Tuhanku.” Rasulullah Saw memberikan sebuah isyarat melalui sabdanya: مَا فَضَلَكُمْ أَبُو بَكْرٍ  بِفَضْلِ صِيَامٍ وِلاَ صَلاَةٍ، وَاِنَّمَا هُوَ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ Artinya: “Tidaklah Abu Bakar berhasil mengungguli kalian karena ia lebih banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi dengan sesuatu yang tertanam di dalam dadanya.”

Info

Siapa yang Mencintai Seseorang, Maka Sampaikan Kepadanya

Dibuat oleh: Admin Juma’at, 15 November 2024 / 13 Jumadal Ula 1446 H Cinta sangat identik dengan perasaan kasih sayang, suka, dan sebagainya. Semua orang pastinya juga pernah merasakan cinta, mulai dari bayi, remaja, dan juga dewasa. Cinta tentunya ada pada masing-masing individu, namun cara mengungkapkan sebuah cinta juga akan berbeda-beda. Cinta tidak hanya membahas persoalan pasangan, namun di dalam sahabat dan keluarga juga terdapat cinta. Dalam ajaran agama Islam sendiri tidak ada larangan apabila kita memiliki perasaan kepada lawan jenis, selama perasaan itu tidak dilanjutkan kepada hubungan yang mengandung unsur maksiat (Berpacaran, berdua-duaan dengan lawan jenis dsb). Hal ini berkaitan dengan sebuah kisah yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ujarnya, “Ada seseorang yang bersanding dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas lewatlah seseorang. Orang yang disanding Nabi tadi pun berkata, “Sejatinya aku mencintai orang ini”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bertanya, ‘Sudahkah engkau beri tahu dia?’ Ia menjawab, ‘Belum’. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kalau begitu berilah dia tahu’”. Anas menceritakan, “Maka orang tadi pun mengejarnya seraya berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Ia menimpali, ‘Semoga Dzat yang telah membuatmu mencintaiku, mencintaimu’” (HR Abu Dawud). Prof. Dr. AG. K. H. Al-Habib Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. memberikan pesan kepada kita, baik laki-laki maupun perempuan, mencintai seseorang dengan niat untuk menikahinya, maka kita harus menyatakan kepada orang tersebut. Sehingga perlu kita garis bawahi bersama dari pernyataan tersebut dalam maksud untuk menikahinya. Ini menjadi pesan untuk kita bahwa tidak ada seorangpun yang mengerti perasaan orang lain. Meski demikian, menurut beliau, agama Islam sendiri mengajarkan kepada kita untuk mencintai sesuatu dalam batas wajar,” Kalau engkau mencintai sesuatu, cintailah dengan wajar” tegasnya.

Info

Refleksi Hari Pahlawan : Guru Adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Dibuat oleh: Admin Senin, 11 November 2024 / 9 Jumadilawal 1446 H Baru saja kita memperingati hari pahlawan pada hari Ahad lalu yang bertepatan pada tanggal 10 November 2024, telah kita ketahui bersama bahwasannya tanggal tersebut adalah hari untuk memperingati para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia sehingga kita bisa menjalani hidup dengan tenang hingga saat ini. Namun selain perjuangan para pahlawan terdahulu yang harus menenteng senjata dan siap gugur di medan juang, pada saat ini seorang guru juga harus kita anggap dan kita hormati karena berperan dalam mendidik calon-calon penerus bangsa yang akan datang. Guru adalah pahlawan yang hadir di sekitar kita tanpa embel-embel gelar atau tanda jasa yang membuat mereka dikenal di seluruh negeri. Namun ironisnya, keberadaan mereka justru semakin terpinggirkan. Bukankah sangat menyedihkan bahwasanya kontribusi pahlawan tanpa tanda jasa ini sering kali dianggap remeh dan seakan hanya bayangan dari kejayaan pahlawan di masa lalu. Karena jika kita bicara tentang pahlawan tak lagi sekadar tentang orang-orang yang berperang melawan penjajah di masa lampau. Hari ini, pahlawan hadir dalam wujud-wujud sederhana yang mungkin tak kita sadari keberadaannya. Alasan kuat mengapa gurusangatlah pantas disebut sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa adalah karena guru memberikan kontribusi besar bagi bangsa sehingga layak disebut pahlawan. Namun, guru tidak pernah memperoleh tanda jasa seperti pahlawan-pahlawan nasional. Bahkan hingga saat ini masih banyak guru yang memperoleh imbal jasa tidak layak. Menurut Anas Basaruddin dalam Secangkir Kopi untuk Sang Guru (2023), julukan guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa diperkirakan sudah ada sejak 1970 hingga 1980-an. Pada saat itu, menjadi guru adalah profesi yang luar biasa berat. Guru-guru zaman dahulu dituntut mengajar para siswa di tengah segala keterbatasan akses, fasilitas, dan jaminan keamanan. Mereka juga dituntut untuk bersekolah hingga jenjang tinggi, memiliki banyak pengetahuan, mengorbankan waktu dan tenaga. Namun, bayarannya sangat rendah. Bahkan, banyak fenomena yang terlihat di masyarakat ketika guru terpaksa harus menjalani pekerjaan tambahan untuk menambah penghasilannya. Hal inilah yang menjadi latar belakang julukan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tidak seperti pahlawan yang bertempur di medan perang, guru tidak mendapat tanda jasa atau gelar kehormatan meskipun jasanya sangat besar. Setelah kita pahami bersama bahwa kita tidaklah cukup hanya mengenang perjuangan pahlawan yang memegang senjata dimasa lalu saja, akan tetapi kita juga harus memperlakukan seorang guru dengan baik dan penuh penghormatan, karena seorang guru bukan hanya seperti seorang pahlawan. Akan tetapi, pada saat ini seorang guru adalah sebenar-benarnya pahlawan bangsa. Karena nasib negara ini bergantung pada guru-guru yang mendidik generasi penerus untuk menentukan arah mau dibawa kemana bangsa ini kedepannya.

Info

Menjaga Kesehatan Ala Rasulullah

Dibuat oleh: Admin Rabu, 6 November 2024 / 4 Jumadil Awal 1446 H Selama hidupnya Rasulullah hanya mengalami dua kali sakit. Pertama, saat diracun Zainab binti Al-Harits. Kedua, menjelang wafatnya. Selain itu, Rasulullah selalu sehat dan bugar. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang yang  menjaga dan memperhatikan kesehatan diri dengan baik. Kesehatan bagi manusia bukan hanya berdampak pada fitnya badan, melainkan juga pada ketahanan tubuh, usia, dan tentunya kemampuan untuk beraktifitas. Semakin rendah tingkat kesehatan kita, maka akan rendah pula aktifitas yang bisa kita lakukan. Sedangkan, untuk berkarya dan memberikan manfaat yang besar bagi masayrakat, tentu saja membutuhkan kesehatan yang baik. Sangat disayangkan jika kita tidak bisa beraktifitas dan berkarya hanya karena kita tidak bisa menjaga kesehatan diri kita dengan benar. Padahal Allah tetap menitipkan amanah tubuh ini pada manusia agar dapat dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Lantas bagaimana cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjaga agar tubuhnya selalu sehat? Mari kita ulas bersama! Makan Sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak pernah kekenyangan”(HR Bukhari Musim). Dari hadits tersebut, Rasulullah menyampaikan bahwa hendaknya kita makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Dari aspek kesehatan ini sangat berarti karena makan sebelum lapar menghindarkan kita dari sakit lambung dan berhenti sebelum kenyang akan membuat kita tidak berlebihan dalam makan. Makan secukupnya Dari Aisyah RA, “Dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti.” Makan secukupnya artinya Rasul memilih makan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Perintah ini mengartikan bahwa kita harus menakar kebutuhan makan kita agar tidak terjadi penumpukan, tidak habis saat makan, dan menjadi sumber penyakit jika makanan yang dimakan tidaklah sehat atau terlalu banyak. Olahraga “Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah”. (HR. Ath-Thahawi). Dari Hadits di atas, Rasulullah juga mengajarkan kita untuk berolahraga. Olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah adalah berkuda, memanah, dan berenang. Olahraga tentunya sangat dibutuhkan dan juga tubuh membutuhkan untuk mengeluarkan segala macam zat yang tidak dibutuhkan lewat olahraga. Rajin sikat gigi “Andaikan aku tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan menyuruh mereka bersiwak (menyikat gigi) setiap kali berwudhu.” (HR Bukhari dan Muslim) Untuk menjaga kesehatan gigi, Rasulullah juga mencontohkan untuk bersiwak dan menyikat gigi. Tentu saja hal ini akan membuat gigi kita lebih sehat dan bersih, serta segar. Kebersihan dan kesehatan gigi lebih terawat dan tidak akan banyak kuman yang terus menempel. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan Agar pola hidup sehat didapatkan, maka menjaga kebersihan diri adalah kewajiban. Bukan hanya diri sendiri namun juga lingkungan kita. Sebagaimana Rasulullah yang tidak malas mandi, membersihkan tempat tidur, dan juga memperhatikan kesehatan di lingkungan tersdekatnya.

Info

Tips Menjaga Kerendahan Hati Di Tengah Kesuksesan

Dibuat oleh: Admin Rabu, 30 Oktober 2024 / 27 Rabiulakhir 1446 H Banyak sekali orang yang lupa diri ketika dia telah mencapai titik kesuksesan, padahal. Dalam agama Islam sendiri sangatlah menghindari rasa terlalu bangga atas pencapaian yang di dapatkan. Lalu bagaimana cara agar kita tetap mampu menahan diri dari rasa sombong ketika telah mencapai titik kesuksesan yang kita impikan? Mari kita  pelajari bersama-sama dalam artikel kali ini. Selalu ingat awal perjalanan Salah satu cara agar tetap rendah hati adalah dengan selalu mengingat asal-usul dan perjalanan hidup yang telah kita lalui selama ini. Kenang kembali perjuangan dan tantangan yang telah kita hadapi hingga mencapai posisi atau prestasi saat ini. Sadari bahwa kita juga berasal dari seseorang yang pada awalnya bukanlah siapa-siapa. Ingatlah bahwa tidak ada seseorang pun yang mencapai kesuksesan tanpa melewati rintangan dan ujian dalam hidup. Menghargai perjalanan tersebut akan membantu kita untuk tetap rendah hati dan menghindarkan diri dari kesombongan. Tetap fokus dalam proses! Mengapa penulis mengatakan demikian? Karena apabila kita terlalu fokus pada hasil yang akan kita dapatkan, maka besar kecenderungan akan merasa sombong ketika kita telah benar-benar mencapai kesuksesan yang kita impikan. Sehingga alihkan perhatian kita dari pujian dan pengakuan orang lain karena sejatinya hal itu adalah duri didalam daging, dan tetap fokus pada perbaikan diri dan pertumbuhan yang terus berkelanjutan. Dengan fokus pada proses, kita akan selalu merasa rendah hati dan termotivasi untuk terus belajar dan berkembang. Selalu terima masukan dari orang lain Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita bertemu, bagaimana dia menjalankan hidupnya, pahit manis proses yang telah dia lalui serta pencapaian apa yang telah dia peroleh. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya ada beberapa orang yang mana ketika dia telah mencapai titik kesuksesan maksiaml dia justru memiliki kecenderungan untuk menutupinya dan terlihat sesederhana mungkin. Sehingga apabila kita mendapatkan suatu masukan dari orang lain yang tidak kita kenal sekalipun, jangan pernah kita tolak mentah-mentah dan tetap sampaikan terimakasih kepadanya. Hormati dan selalu hargai siapapun Kerendahan hati erat kaitannya dengan rasa hormat dan menghargai orang lain. Jangan pernah kita meremehkan atau merendahkan orang lain karena perbedaan status, kekayaan, atau pencapaian. Tetap bersikap ramah dan selalu berempati terhadap setiap orang yang kita temui. Mendengarkan dan menghargai pendapat dan pengalaman orang lain bisa membantu kita untuk memahami perspektif yang berbeda serta menghindari sikap sombong. Dengan menghormati dan menghargai seseorang, kita juga bisa menambah pengalaman dan wawasan ketika bertukar pikiran dengan orang tersebut.

Info

Panduan Hidup Sehat Ala Nabi

Dibuat oleh: Admin Selasa, 29 Oktober 2024 / 26 Rabiulakhir 1446 H Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu memberikan contoh yang sangat baik dalam menjalani kehidupan. Beliau mengajarkan umatnya untuk menjaga kesehatan tubuh sebagai rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Salah satu aspek terpenting dalam menjaga kesehatan adalah pola makan yang baik. Berikut adalah beberapa pola hidup sehat yang diajarkan Rasulullah SAW. Ada beberapa cara yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam menjaga kesehatan, lalu apa saja tips-tips yang dilakukan beliau dalam menjaga kesehatan? Mari kita bahas bersama. Mengatur porsi makan Rasulullah beberapa kali menyampaikan kepada kita untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk untuk urusan makan. Beliau menegaskan kepada kita untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf Ayat 31yang berbunyi: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Memakan makanan yang halal dan thayyib Rasulullah SAW sangat selektif terhadap apa yang beliau makan. Makanan tersebut harus memenuhi persyaratan halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan akhirat, yaitu kehalalan cara memperoleh dan prosesnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan kehidupan dunia, yaitu apakah makanan yang dimakan itu baik dan bermanfaat bagi kesehatan atau tidak. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 168 yang berbunyi: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah -langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” Minum air putih yang cukup Rasulullah mengatakan bahwa air adalah minuman terbaik didunia, Rasulullah biasa minum dengan cara meminum sebanyak tiga teguk dan bernafas diluar wadah disetiap teguknya. Makan dengan tangan kanan Rasulullah SAW juga mengajarkan tentang cara makan yang baik dan sehat, yaitu beliau selalu makan dengan tangan. Secara ilmiah, makan langsung dengan tangan disebut lebih sehat. Hal ini karena tangan mengandung enzim Rnase yang mengurangi aktivitas pathogen dalam tubuh. Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk tidak meniup makanan ketika masih panas, karena bisa memindahkan bakteri dan reaksi kimia.

Info

Mengembangkan Sikap Thawadu Dalam Diri

Dibuat oleh: Admin Rabu, 23 Oktober 2024 / 20 Rabiulakhir 1446 H Selama ini, sudah pasti kita sangat familiar dengan istilah thawadu’. Secara bahasa thawadu’ itu sendiri berarti rendah hati dan menerima kebenaran. Thawadu’ sendiri merupakan lawan kata dari takabur yang berarti sombong, sehingga dalam ajaran Islam sendiri sangatlah menganjurkan umat muslim untuk selalu memiliki sikap thawadu’ dalam dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 24. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’ : 24). Ayat di atas mewajibkan kita untuk bersikap tawadhu’ kepada kedua orang tua atas dasar rasa kasih sayang. Lain dari itu kita hendaknya mendoakan kepada kedua orang tua agar senantiasa dirahmati oleh Allah. Dilansir dari NU Online, ada beberapa ciri dari orang yang memiliki sikap thawadu’, antara lain : Tidak ingin mendapatkan popularitas Orang dengan sikap thawadu’ dalam dirinya memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan dirinya dalam segala hal yang mana ini bertujuan untuk menghidari timbulnya rasa sombong dalam dirinya. Sehingga orang dengan sikap yang thawadu’ akan lebih mudah dalam menjalani kesehariannya. Menjunjung tinggi kebenaran Mereka yang ber-tawadhu’ akan menjunjung tinggi kebenaran tanpa memandang hal-hal duniawi, seperti status sosial dari orang yang menyatakan suatu hal. Hal ini sejalan dengan nasihat yang diberikan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib yang berbunyi “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla. Artinya: “Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya.” Sehingga memiliki sifat jujur. Bergaul dengan siapa saja Yang ketiga adalah, orang dengan sikap thawadu’ tidak memilih-milih dalam pergaulan. Tidak memilih-milih di sini berarti orang dengan sikap thawadu’ tidak peduli dengan harta, jabatan dan segala keduniawian dalam bergaul. Hal ini merupakan sikap yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut: Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i…. yuhibbul fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum. Artinya: “Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’”. Beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.” Tidak segan membantu dan berterimakasih Ciri orang yang ber-thawadu’ lainnya adalah suka membantu orang lain yang sedang kesulitan serta tidak segan mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah membantunya dan tanpa memandang status sosial orang tersebut. Itulah sedikit pengertian dari sikap thawadu’ dalam ajaran agama Islam beserta ciri-ciri seseorang yang memiliki sikap thawadu’ dalam dirinya.

Info

Sikap Umat Muslim Dalam Menyikapi Pemimpin Baru

Dibuat oleh: Admin Selasa, 22 Oktober 2024 / 19 Rabiulakhir 1446 H Pada tanggal 20 Oktober lalu, kita bersama-sama telah menyaksikan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Republik Indonesia yang baru. Presiden yang terpilih pada saat ini adalah bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakilnya. Lalu bagaimana respon kita sebagai umat muslim dalam menyikapi pergantian seorang pemimpin yang sesuai dengan apa yang agama Islam ajarkan? Ada beberapa hal yang perlu bahkan wajib kita perhatikan mengenai bagaimana pandangan syariat Islam dan sikap yang harus kita jalani terhadap pemimpin yang terpilih secara sah dan demokratis di negara kita tercinta, Indonesia. Kewajiban Menaati Pemimpin dalam Kebajikan Yang pertama yakni kewajiban mentaati kepada pemimpin sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits sangat banyak sekali. Dalil di dalam Al-Qur’an di antaranya adalah firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4]: 59). Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh perintah “taatilah” karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (tâbi’) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan taat kepada mereka justru kita harus menjadi penegak amar ma’ruf nahi munkar seperti yang akan kita bahas bersama dalam artikel ini. Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita tidak menaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ “Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Tirmidzi) Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum muslimin yang tidak bersalah menjadi korban. Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan menaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at yang mulia ini. Amar Ma’ruf Nahi munkar kepada Pemimpin Seperti yang penulis sampaikan pada point pertama tentang ketaatan kita terhadap ulil amri jika perintahnya menuju kebaikan dan kita tetap harus menjalankan amar ma’uf nahi munkar apabila pemimpin kita memberi perintah kepada keburukan. Berikut ini adalah dalil kebolehan amar ma’ruf, nahi munkar dengan cara mengkritik pemimpin/pemerintah: وقال صلى الله عليه وسلم: أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik jihad adalah ucapan yang hak disisi pemimpin yang zalim. (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah) Namun demikian, amar ma’ruf nahi munkar harus dengan lemah lembut dan pelakunya harus mempunyai ilmu yang cukup agar bisa bertindak dengan benar. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri berkata: لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال: رفيق بما يأمر، رفيق بما ينهى، عدل بما يأمر، عدل بما ينهى، عالم بما يأمر، عالم بما ينهى “Seseorang tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah, adil ketika menyeru dan mencegah, mengilmui sesuatu yang diseru dan dicegahnya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ul Ulum wal Hikam). Dikisahkan ada seseorang yang akan beramar ma’ruf dan nahi munkar, lalu dia meminta pendapat kepada seorang ulama agar diizinkan dengan cara yang keras karena pelakunya itu sudah dianggap keterlaluan, namun sang ulama menjawab bahwa kamu tidak lebih baik dari Nabi Musa as dan orang yang akan kamu nasihati tidak lebih jahat dari Fir’aun, tapi Allah di dalam Al-Qur’an tetap memerintahkan Nabi Musa as dan Nabi Harun as) untuk berbicara dengan lemah lembut kepada Fir’aun: اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ، فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (QS. Thaha 43-44). Larangan Memberontak dan Menyibukkan Diri Mencelanya Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan di antara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah: ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أُمورنا ، وإن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ، ولا ننزع يداً من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصيةٍ ، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة “Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” (Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Al-Hanafi, dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah) Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menukil ijma’. Dari Ibnu Batthal rahimahullah, ia berkata: “Para fuqaha telah sepakat wajibnya taat kepada pemerintah (muslim) yang berkuasa, berjihad bersamanya, dan bahwa ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 13/7) Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawy Al Haddad dalam kitabnya ‘Adda’wah Attammah menjelaskan tentang sikap yang harus dilaksanakan kepada pemimpin: ومهما كان الولي مصلحا حسن الرعاية جميل السيرة كان على الرعية أن يعينوه بالدعاء له و الثناء عليه بالخير “Jika seorang pemimpin membawa kemaslahatan untuk rakyat, bersungguh-sungguh dalam memberi perhatian kepada mereka, dan mempunyai kinerja yang bagus maka rakyat harus membantunya dengan berdoa untuknya serta memujinya atas kinerjanya yang bagus”. Sekian beberapa point yang bisa penulis sampaikan, jika ada kurang atau lebihnya mohon dimaafkan karena segala kelebihan berasal dari Allah dan segala kekurangan berasal dari kekhilafan penulis. Salam

Info

Peran Zakat Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat

Dibuat oleh: Admin Kamis, 17 Oktober 2024 /14 Rabiulakhir 1446 H Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia. Selain itu, zakat merupakan ibadah yang memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Banyak sekali hikmah serta manfaat zakat untuk meningkatkan kesejahteraan umat Islam. Beberapa bentuk dari manfaat yang bisa dirasakan dari zakat antara lain : Menolong kaum Dhuafa Manfaat dari zakat yang pertama dapat digunakan untuk tolong-menolong, membantu, membina, dan membangun kualitas hidup kaum dhuafa untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup mereka. Dengan kondisi tersebut, mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt dengan baik dan hati yang tenang. Pembuktian Persaudaraan Islam Zakat adalah ibadah harta yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah. Dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam. Pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah. Terwujudnya Tatanan Masyarakat Yang Harmonis Zakat apat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera sehingga hubungan seorang dengan dlainnya menjadi rukun, damai, harmonis dan dapat menciptakan situasi yang tenteram, aman lahir dan batin. Selalu ada hikmah disetiap perintah-perintah yang Allah berikan kepada kita hambanya,  Begitu pula dengan zakat, harta yang kita cari dengan susah payah lalu dizakatkan kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat), tentu kita bertanya-tanya untuk apa zakat tersebut. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah tertuang dalam surat At-taubah ayat 103, Allah berfirman “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” Dalam surat tersebut kita dapat menemukan dua hikmah yang terkandung pada zakat. Pertama, zakat dapat membersihkan dari perkara haram, kedua, harta dapat membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakil. Zakat menjadi proteksi bagi harta seorang muslim.

Info

Menghadapi Tantangan Hidup Dengan Kesabaran Dan Keikhlasan

  Dibuat oleh: Admin Rabu, 16 Oktober 2024 / 13 Rabiulakhir 1446 H Saat ini merupakan era dimana segala hal sangat mudah untuk diakses, di sisi lain perlu kita pahami pula bahwa hidup yang serba mudah seperti ini justru penuh dengan situasi yang menuntut kesabaran dan keikhlasan dari setiap individu. Kita sering kali terjebak dalam pergolakan hidup yang membuat kita lupa tentang makna sejati yang terkandung dalam kedua kata tersebut. Namun, penting bagi kita untuk memahami pentingnya sabar dan ikhlas sebagai pilar penuntun dalam menjalani kehidupan. Sebelumnya kita perlu untuk memahami definisi dari kata sabar yang memiliki sebuah makna “ketahanan diri dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan”. Dalam kondisi seperti masa kini, kesabaran merupakan suatu sikap yang sangatlah penting. Karena banyak sekali hal yang terjadi diluar kendali kita, seperti kemacetan lalu lintas, terkena suatu musibah, atau bahkan berita negatif yang mendominasi media. Namun, sebagai umat Muslim, kita dituntut untuk menjaga kesabaran kita dalam menghadapi semua ini. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada hikmah di balik apa yang ditunda, kecuali kesabaran dan tidak ada kesalahan dalam menghadapi apa yang ditimpa, kecuali kesabaran pula.” Sementara itu, keikhlasan adalah keadaan di mana seseorang melakukan sesuatu dengan hati yang tulus tanpa adanya suatu harapan atau keinginan yang tersembunyi. Ikhlas membawa kebaikan bagi kita dan orang lain yang berada di sekitar kita. Ketika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, semuanya terasa lebih ringan dan berkah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Ingatlah, jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, sesungguhnya kamu berbuat untuk dirimu sendiri pula.” (QS. Al-Isra: 7). Ini menekankan pentingnya ikhlas dalam berbagai aspek kehidupan Sabar dan ikhlas adalah dua sikap penting yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan sabar, kita dapat menjaga ketenangan dalam menghadapi permasalahan, sedangkan dengan ikhlas, kita dapat menerima segala keadaan dengan lapang dada. Kedua sikap ini tidak hanya penting dalam agama, tetapi juga memiliki dampak yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mampu bersabar dan ikhlas, kita dapat menghadapi permasalahan dengan bijak dan mengambil tindakan yang tepat untuk meraih kebaikan di masa depan. Oleh karena itu, mari kita kembangkan kedua sikap ini dalam diri kita dan jadikan sebagai kunci untuk menghadapi setiap ujian hidup. Bersabarlah dalam menjalani proses, dan ikhlaslah dalam menerima segala keadaan. Dengan begitu, kita akan dapat menghadapi setiap tantangan hidup dengan sikap yang baik dan bijak.