Pundi Surga

Info

Info

Keutamaan-Keutamaan Di Bulan Muharram

Senin, 30 Juni 2025 / 4 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Bulan Muharram diambil dari kata “haram” yang memiliki arti suci atau terlarang. Orang arab pada masa sebelum masuknya agama Islam, ada sebuah larangan untuk berperang atau membunuh selama bulan ini berlangsung. Larangan ini tetap berlaku ketika agama Islam masuk, dan bulan ini termasuk dalam empat bulan yang dihormati. Keutamaan bulan Muharram dalam Islam meliputi beberapa aspek penting yang dihormati oleh umat Muslim. Berikut adalah beberapa keutamaan utama bulan Muharram: Awal Tahun Hijriah Muharram menandai awal tahun baru dalam kalender Islam (kalender hijriah), yang dimulai dari hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Ini adalah momen untuk merenungkan perjuangan dan keteguhan dalam menghadapi tantangan, serta untuk memperkuat iman dan praktik keagamaan. Bulan Haram (Suci) Bulan Muharam merupakan salah satu bulan haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah : 36) Empat bulan haram yang menurut Surat At Taubah ayat 36 ini adalah bulan Dzulqidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Ashurul haram (bulan haram), termasuk bulan Muharam ini adalah bulan yang Allah muliakan. Bulan-bulan ini memiliki kesucian dan karenanya menjadi bulan pilihan. Di antara bentuk kesucian dan kemuliaan bulan-bulan ini adalah kaum muslimin dilarang berperang, kecuali terpaksa karena diserang oleh kaum kafir. Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah mengutip penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.  “Amal shalih di bulan haram pahalanya lebih besar, dan kezaliman di bulan ini dosanya juga lebih besar dibanding di bulan-bulan lainnya, kendati kezaliman di setiap keadaan tetap besar dosanya.” Anjuran Berpuasa Puasa yang dianjurkan pada bulan Muharram ialah puasa Tasua dan Asyura. Puasa Asyura, merupakan puasa sunah yang disyariatkan agama. Pelaksanaannya pada hari Asyura yaitu tanggal 10 bulan Muharram. Puasa Asyura dituntunkan oleh Rasulullah SAW karena puasa di hari Asyura merupakan bagian dari warisan agama yang telah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim sebelum adanya perintah pelaksanaan bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk melaksanakan puasa Tasua yang dilaksanakan pada 9 Muharram. Anjuran tambahan in diberikan sebagai pembeda dari kaum Yahudi yang juga melaksanakan puasa di hari Asyura. Puasa Tasua dan Asyura serta puasa sunnah lainnya nilainya menjadi puasa yang paling mulia setelah Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam.” (HR. Muslim) Waktu Yang Tepat Untuk Bersedekah Dan Beramal Saleh Bulan Muharram juga dikenal sebagai bulan di mana umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan amalan saleh, bersedekah, dan melakukan kebaikan kepada sesama. Ini mencerminkan semangat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan. Keutamaan-keutamaan ini menjadikan bulan Muharram sebagai waktu yang istimewa dalam kehidupan umat Muslim, di mana mereka meningkatkan ibadah, merenungkan sejarah Islam, dan memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT serta dengan sesama.

Info

Muharram 1447 H : Momentum Hijrah Menuju Kebaikan

Kamis, 26 Juni 2025/29 Dzulhijjah 1446 H Dibuat oleh : Admin Tanggal 1 Muharram 1447 H yang jatuh pada hari  Jumat, 27 Juni 2025, menandai awal tahun baru dalam kalender Islam. Lebih dari sekadar pergantian waktu, bulan Muharram adalah momen spiritual yang mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah tersebut bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga transformasi spiritual dan sosial yang mendalam. Telah kita ketahui Bersama bahwasannya makna Hijrah adalah suatu perubahan enuju Kebaikan. Hijrah mengajarkan kita bahwa perubahan adalah bagian dari perjalanan hidup. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari keputusasaan menuju harapan. Sehingga bulan Muharram dapat kita jadikan sebagai waktu yang tepat untuk merenungkan langkah-langkah kita selama ini dan menetapkan niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dikemudian hari. Bulan Muharram, yang juga disebut sebagai Syahrullah atau Bulan Allah, adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam menyambut tahun baru Islam, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan berbagai amalan kebaikan, seperti : Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun Memohon ampunan atas kesalahan di tahun lalu dan memohon perlindungan serta keberkahan untuk tahun yang akan datang. Berpuasa Sunnah Memperbanyak puasa sunah, terutama pada hari Asyura (10 Muharram), yang memiliki keutamaan besar. Bersedekah dan Menyantuni Anak Yatim Menunjukkan kepedulian sosial kita dengan membantu sesama, terutama kepada anak-anak yatim. Introspeksi Diri dan Berhijrah Untuk Menjadi Lebih Baik Melakukan muhasabah atau evaluasi diri untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan keimanan. Membaca Al-Qur’an dan Memperbanyak Dzikir Momentum ini dapat kita jadikan sebagai motivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah-ibadah yang mendalam. Tahun baru Islam adalah waktu yang tepat untuk memperbarui niat dan tekad dalam menjalani kehidupan. Mari kita jadikan 1 Muharram tahun ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan semangat hijrah, kita dapat meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amal saleh yang diridhai oleh  Allah SWT. Mari kita jadikan Muharram sebagai momentum untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.    

Info

Antara Syawal Dan Fenomena Balik Ke Asal

  Dibuat oleh: Admin 22 April 2025 / 23 Syawal 1446 H Ramadhan telah berlalu. Gemuruh takbir telah mereda. Hidangan khas lebaran telah dinikmati, dan suasana Idul Fitri pun berangsur menjadi kenangan. Namun, di balik semua euforia Syawal, ada satu fenomena yang patut kita renungi bersama: fenomena “balik ke asal.” Selama sebulan penuh, umat Islam ditempa dalam disiplin spiritual. Kita bangun lebih awal untuk sahur, menahan lapar dan dahaga, menjaga lisan, menahan amarah, bahkan mengurangi aktivitas duniawi demi memperbanyak ibadah. Banyak dari kita yang tiba-tiba rajin tadarus, shalat malam, dan bersedekah. Ramadhan bagaikan madrasah kehidupan yang menuntun kita kembali ke fitrah: suci, taat, dan bertakwa. Namun, sayangnya  Tidak sedikit dari kita yang setelah Ramadhan justru kembali ke kebiasaan lama—meninggalkan shalat berjamaah, lalai membaca Al-Qur’an, kembali berkata kasar, bahkan membiarkan hawa nafsu kembali mengendalikan diri. Seolah-olah semangat ibadah yang begitu tinggi selama Ramadhan hanyalah “musiman.” Inilah yang disebut fenomena “balik ke asal.” Bukan kembali ke fitrah, tapi kembali ke titik sebelum Ramadhan, seolah-olah Ramadhan tak pernah mengubah apa-apa. Lalu mengapa fenomena ini biasa terjadi ? mari kita ulas Bersama dalam artikel kali ini. Ibadah yang berbasis momen, bukan kesadaran Banyak yang menjalani ibadah di Ramadhan karena suasana atau “efek keramaian,” bukan karena kesadaran pribadi yang mendalam. Kurangnya evaluasi diri Setelah Ramadhan, kita jarang merenung: “Apa yang berubah dalam diriku?” Padahal evaluasi pasca-Ramadhan sangat penting untuk menjaga konsistensi. Belum menjadikan ketaqwaan sebagai gaya hidup Ramadhan seharusnya menjadi titik awal pembentukan pribadi muttaqin (bertakwa), bukan hanya momen spiritual sesaat. Lalu apa yang bisa lakukan dalam menyikapi hal tersebut? Penulis memiliki opini dalam bagaimana cara kita menyikapi fenomena ini dengan beberapa cara seperti : Menjadikan bulan Syawal sebagai sebuah awal baru Dengan memanfaatkan Ramadhan sebagai pondasi dalam membangun kebiasaan ibadah yang berkelanjutan, bukan hanya dilakukan selama 30 hari saja. Memiliki target ibadah pasca Ramadhan Seperti tetap melaksanakan sholat malam, tadarus rutin dan segala amalan yang telah dilakukan di bulan Ramadhan Mengawali bulan Syawal dengan berpuasa sunnah Rasulullah SAW menganjurkan kita sebagai umatnya untuk berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal. Selain mendapat pahala yang besar, berpuasa di bulan Syawal menjadi sebuah cara yang optimal dalam menjaga semangat beribadah kita setelah melewati bulan Ramadhan. Berkumpul dengan orang soleh Karena dapat membantu kita dalam menjaga semangat kita dalam beribadah kepada Allah Wallahu a’lam bishshowwab.

Info

Semangat Berqurban : Wujud Cinta dan Kepedulian Sosial

Dibuat oleh: Admin 15 April 2025 / 16 Syawal 1446 H Hari Raya Idul adha bukan hanya sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga sebuah momentum besar kepada umat muslim untuk kembali menumbuhkan nilai-nilai keikhlasan, kepedulian, dan solidaritas sosial. Di balik ibadah kurban sendiri tersimpan banyak sekali makna yang mendalam seperti sebuah simbol pengorbanan serta wujud cinta kepada Sang Pencipta sekaligus kepada sesama. Secara historis, kurban mengingatkan kita pada kisah Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya, Ismail AS, dan ketawadhu’an nabi Ismail AS yang rela sepenuh hati untuk menerimanya dengan lapang dada yang bisa kita pahami bahwa hal tersebut merupakan bentuk ketaatan mutlak kepada Allah SWT. Dari kisah tersebut, umat Islam diajak untuk merefleksikan arti pengorbanan dan kepasrahan. Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi melatih diri untuk melepaskan ego, harta, dan kepentingan pribadi demi tujuan yang lebih mulia. Semangat berkurban juga mencerminkan nilai kepedulian sosial yang tinggi. Daging hewan kurban didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan, menghapus sekat sosial antara si kaya dan si miskin. Ini adalah bentuk nyata dari prinsip keadilan sosial dalam Islam, di mana semua orang dapat merasakan nikmat yang sama tanpa memandang status ekonomi. Dalam konteks masyarakat modern yang seringkali individualistis, kurban menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati datang dari memberi, bukan hanya menerima. Ketika umat Islam bersama-sama melaksanakan kurban, tercipta kebersamaan, gotong royong, dan empati yang memperkuat ikatan sosial dalam komunitas. Setiap kali kita berkurban, kita diajak untuk bertanya: apa yang telah kita relakan demi kebaikan bersama? Sudahkah kita bersedia “mengorbankan” waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu orang lain? Kurban menjadi ajang introspeksi, mengingatkan kita untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman serta amal. Semangat berkurban adalah semangat mencintai Tuhan dan manusia. Ia bukan hanya ritual tahunan, tapi cerminan nilai-nilai luhur yang perlu hidup dalam keseharian kita. Mari jadikan Idul adha sebagai momentum untuk menumbuhkan keikhlasan, mempererat silaturahmi, dan memperkuat kepedulian sosial.

Info

Esensi Bulan Syawal

Bulan Syawal adalah salah satu bulan dalam kalender Hijriyah yang mana bulan ini berlangsung setelah terlewatnya bulan suci Ramadhan. Ketika bulan Syawal tiba, umat muslim dianjurkan untuk mengerjakan beberapa amalan seperti berpuasa. Seperti dalam sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi : “Siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian diiringi dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim). Selain itu, terdapat beberapa esensi yang dapat kita pahami Bersama pada bulan ini  seperti : Penyempurna Ramadhan Karena pada bulan ini kita dapat mengisi kekurangan-kekurangan amalan yang kita lakukan dibulan Ramadhan. Sebagai bulan kemenangan Bulan ini disebut sebagai bulan kemenangan karena menjadi titik berakhirnya ujian melawan segala hawa nafsu ketika menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Momentum dalam mempererat silaturahmi Bulan Syawal dijadikan momen untuk mempererat tali silaturahmi. Ketika 1 Syawal tiba, umat Islam bergembira menyambut Hari Raya Idul Fitri dan mengunjungi sanak saudara, kerabat hingga tetangga. Selain itu, silaturahmi juga menjadi salah satu tanda orang beriman sebagaimana sabda Rasulullah SAW. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim). Bulan untuk melangsungkan pernikahan Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk menikah di bulan Syawal, karena beliau menikahi Aisyah RA ketika Syawal. Aisyah berkata, “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dariku?” (HR Muslim). Bulan pembukti ketakwaan Syawal juga disebut sebagai bulan pembuktian takwa. Setelah Ramadan berakhir, umat Islam bisa terus meningkatkan intensitas ibadah ketika Syawal. Apabila berhasil dan konsisten, maka muslim membuktikan keberhasilan ketakwaan dan keistiqomahan. Bulan Syawal bukan sekadar penutup Ramadan, melainkan awal untuk mempertahankan ketakwaan. Semoga semangat ibadah yang telah dibangun terus tumbuh dan mekar di bulan-bulan berikutnya. Mari jadikan Syawal sebagai momentum untuk melanjutkan kebaikan, mempererat tali silaturahmi, dan menjaga hati tetap bersih seperti setelah Ramadan. Semoga kita istiqamah dalam ketaatan.

Info

Sikap Seorang Muslim Dalam Menyambut Tahun Baru

Dibuat oleh : Admin Selasa, 31 Desember 2024/29 Rabiulakhir 1446 H Tahun baru menandakan telah berakhirnya satu tahun dan dimulainya tahun yang baru sehingga tahun baru merupakan suatu momen yang selalu diperingati oleh banyak orang di dunia, momen ini biasanya digunakan untuk merefleksikan diri, perayaan dan menumbuhkan suatu harapan baru untuk di waktu yang akan datang. Karena penanggalan tahun merupakan karya agung umat manusia terkait astronomi (dalam Islam disebut dengan Falak), sehingga wajar saja para pewarisnya (umat manusia sekarang) melestarikan dengan tetap memakai dan merayakannya. Meski ada sebagian Muslim yang melarang perayaan tahun baru Masehi, tak sedikit juga yang membolehkannya. Merayakan tahun baru boleh-boleh saja akan tetapi harus dengan berbagai pertimbangan, karena segala sesuatu ada dampak positifnya dan negatifnya. Maka sebagai umat Islam harus pandai-pandai memilah dan memilih. Sebaik-baiknya perayaan tahun baru yakni dengan tetap introspeksi diri dari perbuatan masa lampau dan tetap menjaga amal perbuatan yang baik di masa yang akan datang. Jika perbuatan masa lampau merupakan perbuatan baik maka harus tetap dilestarikan, dan sebaliknya, jika perbuatan buruk maka cepat-cepat ditinggalkan. Jadikan perbuatan masa lampau sebagai pelajaran hidup yang berharga, sehingga bisa menjadikan nilai untuk kehidupan yang akan datang. Abu Darda dan Al Hasan ra menuturkan: “Hari demi hari datang kepadamu dan meninggalkan kamu. Karena itu, ambillah pelajaran sebaik-baiknya, agar engkau tidak dalam keadaan lalai ketika ajalmu tiba.” Dari pernyataan Abu Darda tersebut maka sebaik-baik manusia ketika menghadapi tahun baru yakni manusia yang tetap mempersiapkan bekal (perbuatan yang baik) di masa yang akan datang. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat Al Hasyr ayat 18: يا آيها الذين أمنوا اتقواالله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقواالله إن الله خبير بما تعملون (الحشر: ١٨). Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan “ (QS Al Hasyr: 18). Dengan tetap istiqomah dalam kebaikan berarti kita juga telah mempersiapkan bekal yang baik untuk pulang ke kampung halaman (negeri akhirat). Karena kebaikan akan mengantarkan kita kepada kampung halaman surga.  

Info

Karakter Yang Harus Dimiliki Pemimpin Muslim

Dibuat oleh: Admin Kamis, 28 November 2024 / 26 Jumadilawal 1446 H Dalam bermasyarakat, kepemimpinan dibangun atas nilai-nilai kearifan lokal. Jika kultur dan kearifan lokal dikaitan dengan aktivitas kepemimpinan, maka ia menjadi sebuah entitas yang tidak bisa dipisahkan. Kepemimpinan tidak bisa terlepas dari nilai-nilai budaya dan kehidupan sosial masyarakat yang dianut. Ia tidak bisa dipertentangkan, tetapi ia harus direlasikan atau bahkan diintegrasikan. Salah satu ciri kearifan lokal adalah memiliki tingkat solidaritas yang tinggi atas lingkungannya. Ibnu Taimiyyah menyatakan agama Islam tidak akan bisa tegak dan abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan, dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama. Dalam Islam istilah kepemimpinan dikenal dengan kata Imamah. Sedangkan kata yang terkait dengan kepemimpinan dan berkonotasi pemimpin dalam Islam ada delapan istilah, yaitu; Imam  dalam Surat al-Baqarah 124. Khalifah pada al-Baqarah: 30.  Malik,  al-Fatihah : 4, Wali  pada al-A’raf : 3. ‘Amir dan Ra’in, Sultan,  Rais, dan Ulil ‘amri. Karakteristik manusia yang mempunyai motivasi tinggi untuk menjadi pemimpin tampak dalam tingkah laku yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa apa yang dilakukannya merupakan bagian dari ibadah kepada Allah. Pemimpin merupakan suatu panggilan yang sangat mulia dan perintah dari Allah yang menempatkan dirinya sebagai makhluk pilihan sehingga tumbuh dalam dirinya kehati-hatian, menghargai waktu, hemat, produktif, dan memperlebar sifat kasih sayang sesama manusia. Sehingga karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin yang pertama adalah sikap Shidiq (jujur). Seorang pemimpin wajib berlaku jujur dalam melaksanakan tugasnya. Jujur dalam arti luas. Tidak berbohong, tidak menipu, tidak mengada-ngada fakta, tidak bekhianat, serta tidak pernah ingkar janji dan lain sebagainya. Mengapa harus demikian? Karena ketidak jujuran itu selain merupakan perbuatan yang jelas-jelas tercela, jika terbiasa dilakukan, akan memberikan pengaruh negatif kepada kehidupan pribadi dan keluarga pemimpin itu sendiri. bahkan lebih jauh lagi, sikap dan tindakan yang seperti itu akan mewarnai dan mempengaruhi kehidupan masyarakat yang di pimpinnya. Dalam Alquran, keharusan bersikap jujur dalam memimpin, sudah diterangkan dengan sangat jelas dan tegas yang antara lain kejujuran tersebut.  Di beberapa ayat, dihuhungkan dengan pelaksanaan timbangan, sebagaimana Firman Allah swt:  Sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. (QS Al An’aam: 152). Yang kedua adalah sikap amanah atau tanggung jawab, seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas usaha dan pekerjaan yang telah dipilihnya tersebut. Tanggung jawab di sini artinya, mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) masyarakat yang memang secara otomatis tanggung jawab tersebut berada  di pundaknya. Dalam pandangan Islam sendiri, setiap pekerjaan manusia adalah mulia. Pemimpin merupakan suatu tugas mulia, lantaran tugasnya antara lain memenuhi kebutuhan seluruh anggota masyarakat akan barang dan atau jasa untuk kepentingan hidup dan kehidupannya. Ketiga, tidak menipu. Pemimpin hendaknya menghindari penipuan, sumpah palsu, janji palsu, keserakahan, perselisihan dan keburukan tingkah polah manusia lainnya. Setiap sumpah yang keluar dan mulut manusia harus dengan nama Allah. Jika sudah dengan nama Allah, maka harus benar dan jujur. Jika tidak henar, maka akibatnya sangatlah fatal. Oleh sehab itu, Rasulululah saw selalu memperingatkan kepada para pemimpin untuk tidak mengobral janji atau berpromosi secara berlebihan yang cenderung mengada-ngada, semata-mata agar terpilih, lantaran jika seorang pedagang berani bersumpah palsu, akibat yang akan menimpa dirinya hanyalah kerugian. Sebagai pemimpin hendaknya kita selalu berupaya menyempurnakan keilmuan, berani mengambil risiko dan mampu mengambil ibrah dari keberhasilan serta kegagalan para pemimpin terdahulu. Jadilah pemimpin yang berangkat atas dasar keilmuan dan ketakwaan bukan atas dasar nafsu dan keserakahan. Sumber : Riau Pos

Info

Memperingati Hari Guru Dalam Prespektif Agama Islam

Dibuat oleh: Admin Senin, 25 November 2024 / 23 Jumadilawal 1446 H Setiap tanggal 25 November kita selalu memperingati Hari Guru Nasional / Hari PGRI. Peringatan ini bertujuan untuk mengenang, menghargai dan memberi apresiasi sebesar-besarnya atas jasa para guru di seluruh Indonesia. Maka kita sebagai warga Indonesia memiliki tugas untuk memulihkan kualitas pendidikan Indonesia, tentunya bukan hanya murid saja yang dituntut untuk diperbaiki, namun semua elemen pendidikan, yaitu guru, murid, dan orang tua murid.             Agama Islam sendiri memposisikan seorang guru sebagai suatu tempat yang mulia. Karena guru merupakan orang yang berilmu sehingga dapat menjadi contoh kepada murid-muridnya. Allah Subhanahu wa ta’ala  Guru adalah seorang yang berilmu, sedang orang yang beriman dan berilmu akan Allah tinggikan derajatnya. Allah swt berfirman dalam Al-Quran surah al-Mujadalah ayat 11 yang berbunyi : يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Ada sebuah kisah dimana Imam al-Syafi’i pergi mengunjungi Amirul Mukminin Harun Arrasyid. Beliau meminta izin untuk masuk ke rumahnya. Sampai di sana, Imam Syafi’i ditemani pembantu Harun Arrasyid untuk menemui Abu ‘Abdul Shamad, guru yang mengajari anak-anak Khalifah Harun. Si pembantu berkata kepada Imam Syafi’i: Wahai Imam, ini adalah anak-anak Khalifah Harun dan itu adalah guru mereka, barangkali engkau berkenan memberikan nasihat kepada mereka. Imam Syafi’i pun dengan senang hati memberikan nasihat berharga kepada Abdul Shamad: Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam mendidik seorang murid adalah memperbaiki dirimu terlebih dahulu. Sungguh, pandangan mereka tertuju kepadamu. Mereka akan mengikuti kamu dalam memandang baik buruknya sesuatu. Maka ajarilah mereka Al-Quran. Jangan kamu paksa mereka sehingga mereka jadi bosan untuk belajar, jangan juga kamu terlalu lalai sehingga mereka meninggalkan pelajaran. Kemudian ajarilah mereka syair dan hadis supaya jiwa mereka menjadi baik dan mulia. Dan janganlah kamu bawa mereka dari satu pelajaran ke pelajaran lainnya, sebelum mereka benar-benar menguasai pelajaran tersebut. Sebab, banyaknya pembicaraan yang masuk ke pendengaran, dapat membuat sesat pemahaman (Muhammad Shiddiq al-Minsyawi, 100 Qishshah wa Qishshah min Hayat al-Syafi’i, Kairo: Qataf Linnasyr wa al-Tawzī’, 2015, hal. 18). Demikianlah nasihat Imam Syafi’i kepada guru. Guru adalah profesi yang mulia, mereka bertugas menyebarkan ilmu kepada murid-muridnya, mengajarkan etika dan norma yang baik sekaligus menjadi contoh dan panutan. Rasulullah saw bersabda: فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صلَّى اللّٰهُ عليْهِ وسلَّمَ إنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكتَهُ وأَهلَ السَّماوَاتِ وَالأَرْضِ حَتَّى النَّمْلةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوْتَ لِيُصَلُّونَ عَلى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخيرَ Artinya: Keutamaan seorang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian. Sungguh Allah, malaikat, penduduk langit, dan bumi, bahkan semut di sarangnya, juga ikan paus, mereka semua mendoakan orang yang mengajarkan manusia kepada kebaikan.”