Pundi Surga

Info

Info

Menjaga Kesehatan Ala Rasulullah

Dibuat oleh: Admin Rabu, 6 November 2024 / 4 Jumadil Awal 1446 H Selama hidupnya Rasulullah hanya mengalami dua kali sakit. Pertama, saat diracun Zainab binti Al-Harits. Kedua, menjelang wafatnya. Selain itu, Rasulullah selalu sehat dan bugar. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang yang  menjaga dan memperhatikan kesehatan diri dengan baik. Kesehatan bagi manusia bukan hanya berdampak pada fitnya badan, melainkan juga pada ketahanan tubuh, usia, dan tentunya kemampuan untuk beraktifitas. Semakin rendah tingkat kesehatan kita, maka akan rendah pula aktifitas yang bisa kita lakukan. Sedangkan, untuk berkarya dan memberikan manfaat yang besar bagi masayrakat, tentu saja membutuhkan kesehatan yang baik. Sangat disayangkan jika kita tidak bisa beraktifitas dan berkarya hanya karena kita tidak bisa menjaga kesehatan diri kita dengan benar. Padahal Allah tetap menitipkan amanah tubuh ini pada manusia agar dapat dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Lantas bagaimana cara Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menjaga agar tubuhnya selalu sehat? Mari kita ulas bersama! Makan Sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang “Kami adalah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak pernah kekenyangan”(HR Bukhari Musim). Dari hadits tersebut, Rasulullah menyampaikan bahwa hendaknya kita makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Dari aspek kesehatan ini sangat berarti karena makan sebelum lapar menghindarkan kita dari sakit lambung dan berhenti sebelum kenyang akan membuat kita tidak berlebihan dalam makan. Makan secukupnya Dari Aisyah RA, “Dahulu Rasulullah tidak pernah mengenyangkan perutnya dengan dua jenis makanan. Ketika sudah kenyang dengan roti, beliau tidak akan makan kurma, dan ketika sudah kenyang dengan kurma, beliau tidak akan makan roti.” Makan secukupnya artinya Rasul memilih makan sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Perintah ini mengartikan bahwa kita harus menakar kebutuhan makan kita agar tidak terjadi penumpukan, tidak habis saat makan, dan menjadi sumber penyakit jika makanan yang dimakan tidaklah sehat atau terlalu banyak. Olahraga “Ajarkan putera-puteramu berenang dan memanah”. (HR. Ath-Thahawi). Dari Hadits di atas, Rasulullah juga mengajarkan kita untuk berolahraga. Olahraga yang dianjurkan oleh Rasulullah adalah berkuda, memanah, dan berenang. Olahraga tentunya sangat dibutuhkan dan juga tubuh membutuhkan untuk mengeluarkan segala macam zat yang tidak dibutuhkan lewat olahraga. Rajin sikat gigi “Andaikan aku tidak memberatkan ummatku, niscaya aku akan menyuruh mereka bersiwak (menyikat gigi) setiap kali berwudhu.” (HR Bukhari dan Muslim) Untuk menjaga kesehatan gigi, Rasulullah juga mencontohkan untuk bersiwak dan menyikat gigi. Tentu saja hal ini akan membuat gigi kita lebih sehat dan bersih, serta segar. Kebersihan dan kesehatan gigi lebih terawat dan tidak akan banyak kuman yang terus menempel. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan Agar pola hidup sehat didapatkan, maka menjaga kebersihan diri adalah kewajiban. Bukan hanya diri sendiri namun juga lingkungan kita. Sebagaimana Rasulullah yang tidak malas mandi, membersihkan tempat tidur, dan juga memperhatikan kesehatan di lingkungan tersdekatnya.

Info

Tips Menjaga Kerendahan Hati Di Tengah Kesuksesan

Dibuat oleh: Admin Rabu, 30 Oktober 2024 / 27 Rabiulakhir 1446 H Banyak sekali orang yang lupa diri ketika dia telah mencapai titik kesuksesan, padahal. Dalam agama Islam sendiri sangatlah menghindari rasa terlalu bangga atas pencapaian yang di dapatkan. Lalu bagaimana cara agar kita tetap mampu menahan diri dari rasa sombong ketika telah mencapai titik kesuksesan yang kita impikan? Mari kita  pelajari bersama-sama dalam artikel kali ini. Selalu ingat awal perjalanan Salah satu cara agar tetap rendah hati adalah dengan selalu mengingat asal-usul dan perjalanan hidup yang telah kita lalui selama ini. Kenang kembali perjuangan dan tantangan yang telah kita hadapi hingga mencapai posisi atau prestasi saat ini. Sadari bahwa kita juga berasal dari seseorang yang pada awalnya bukanlah siapa-siapa. Ingatlah bahwa tidak ada seseorang pun yang mencapai kesuksesan tanpa melewati rintangan dan ujian dalam hidup. Menghargai perjalanan tersebut akan membantu kita untuk tetap rendah hati dan menghindarkan diri dari kesombongan. Tetap fokus dalam proses! Mengapa penulis mengatakan demikian? Karena apabila kita terlalu fokus pada hasil yang akan kita dapatkan, maka besar kecenderungan akan merasa sombong ketika kita telah benar-benar mencapai kesuksesan yang kita impikan. Sehingga alihkan perhatian kita dari pujian dan pengakuan orang lain karena sejatinya hal itu adalah duri didalam daging, dan tetap fokus pada perbaikan diri dan pertumbuhan yang terus berkelanjutan. Dengan fokus pada proses, kita akan selalu merasa rendah hati dan termotivasi untuk terus belajar dan berkembang. Selalu terima masukan dari orang lain Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita bertemu, bagaimana dia menjalankan hidupnya, pahit manis proses yang telah dia lalui serta pencapaian apa yang telah dia peroleh. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya ada beberapa orang yang mana ketika dia telah mencapai titik kesuksesan maksiaml dia justru memiliki kecenderungan untuk menutupinya dan terlihat sesederhana mungkin. Sehingga apabila kita mendapatkan suatu masukan dari orang lain yang tidak kita kenal sekalipun, jangan pernah kita tolak mentah-mentah dan tetap sampaikan terimakasih kepadanya. Hormati dan selalu hargai siapapun Kerendahan hati erat kaitannya dengan rasa hormat dan menghargai orang lain. Jangan pernah kita meremehkan atau merendahkan orang lain karena perbedaan status, kekayaan, atau pencapaian. Tetap bersikap ramah dan selalu berempati terhadap setiap orang yang kita temui. Mendengarkan dan menghargai pendapat dan pengalaman orang lain bisa membantu kita untuk memahami perspektif yang berbeda serta menghindari sikap sombong. Dengan menghormati dan menghargai seseorang, kita juga bisa menambah pengalaman dan wawasan ketika bertukar pikiran dengan orang tersebut.

Info

Panduan Hidup Sehat Ala Nabi

Dibuat oleh: Admin Selasa, 29 Oktober 2024 / 26 Rabiulakhir 1446 H Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu memberikan contoh yang sangat baik dalam menjalani kehidupan. Beliau mengajarkan umatnya untuk menjaga kesehatan tubuh sebagai rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Salah satu aspek terpenting dalam menjaga kesehatan adalah pola makan yang baik. Berikut adalah beberapa pola hidup sehat yang diajarkan Rasulullah SAW. Ada beberapa cara yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam menjaga kesehatan, lalu apa saja tips-tips yang dilakukan beliau dalam menjaga kesehatan? Mari kita bahas bersama. Mengatur porsi makan Rasulullah beberapa kali menyampaikan kepada kita untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk untuk urusan makan. Beliau menegaskan kepada kita untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf Ayat 31yang berbunyi: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Memakan makanan yang halal dan thayyib Rasulullah SAW sangat selektif terhadap apa yang beliau makan. Makanan tersebut harus memenuhi persyaratan halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan akhirat, yaitu kehalalan cara memperoleh dan prosesnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan kehidupan dunia, yaitu apakah makanan yang dimakan itu baik dan bermanfaat bagi kesehatan atau tidak. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 168 yang berbunyi: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah -langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” Minum air putih yang cukup Rasulullah mengatakan bahwa air adalah minuman terbaik didunia, Rasulullah biasa minum dengan cara meminum sebanyak tiga teguk dan bernafas diluar wadah disetiap teguknya. Makan dengan tangan kanan Rasulullah SAW juga mengajarkan tentang cara makan yang baik dan sehat, yaitu beliau selalu makan dengan tangan. Secara ilmiah, makan langsung dengan tangan disebut lebih sehat. Hal ini karena tangan mengandung enzim Rnase yang mengurangi aktivitas pathogen dalam tubuh. Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk tidak meniup makanan ketika masih panas, karena bisa memindahkan bakteri dan reaksi kimia.

Info

Mengembangkan Sikap Thawadu Dalam Diri

Dibuat oleh: Admin Rabu, 23 Oktober 2024 / 20 Rabiulakhir 1446 H Selama ini, sudah pasti kita sangat familiar dengan istilah thawadu’. Secara bahasa thawadu’ itu sendiri berarti rendah hati dan menerima kebenaran. Thawadu’ sendiri merupakan lawan kata dari takabur yang berarti sombong, sehingga dalam ajaran Islam sendiri sangatlah menganjurkan umat muslim untuk selalu memiliki sikap thawadu’ dalam dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 24. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’ : 24). Ayat di atas mewajibkan kita untuk bersikap tawadhu’ kepada kedua orang tua atas dasar rasa kasih sayang. Lain dari itu kita hendaknya mendoakan kepada kedua orang tua agar senantiasa dirahmati oleh Allah. Dilansir dari NU Online, ada beberapa ciri dari orang yang memiliki sikap thawadu’, antara lain : Tidak ingin mendapatkan popularitas Orang dengan sikap thawadu’ dalam dirinya memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan dirinya dalam segala hal yang mana ini bertujuan untuk menghidari timbulnya rasa sombong dalam dirinya. Sehingga orang dengan sikap yang thawadu’ akan lebih mudah dalam menjalani kesehariannya. Menjunjung tinggi kebenaran Mereka yang ber-tawadhu’ akan menjunjung tinggi kebenaran tanpa memandang hal-hal duniawi, seperti status sosial dari orang yang menyatakan suatu hal. Hal ini sejalan dengan nasihat yang diberikan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib yang berbunyi “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla. Artinya: “Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya.” Sehingga memiliki sifat jujur. Bergaul dengan siapa saja Yang ketiga adalah, orang dengan sikap thawadu’ tidak memilih-milih dalam pergaulan. Tidak memilih-milih di sini berarti orang dengan sikap thawadu’ tidak peduli dengan harta, jabatan dan segala keduniawian dalam bergaul. Hal ini merupakan sikap yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut: Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i…. yuhibbul fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum. Artinya: “Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’”. Beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.” Tidak segan membantu dan berterimakasih Ciri orang yang ber-thawadu’ lainnya adalah suka membantu orang lain yang sedang kesulitan serta tidak segan mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah membantunya dan tanpa memandang status sosial orang tersebut. Itulah sedikit pengertian dari sikap thawadu’ dalam ajaran agama Islam beserta ciri-ciri seseorang yang memiliki sikap thawadu’ dalam dirinya.

Info

Sikap Umat Muslim Dalam Menyikapi Pemimpin Baru

Dibuat oleh: Admin Selasa, 22 Oktober 2024 / 19 Rabiulakhir 1446 H Pada tanggal 20 Oktober lalu, kita bersama-sama telah menyaksikan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Republik Indonesia yang baru. Presiden yang terpilih pada saat ini adalah bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakilnya. Lalu bagaimana respon kita sebagai umat muslim dalam menyikapi pergantian seorang pemimpin yang sesuai dengan apa yang agama Islam ajarkan? Ada beberapa hal yang perlu bahkan wajib kita perhatikan mengenai bagaimana pandangan syariat Islam dan sikap yang harus kita jalani terhadap pemimpin yang terpilih secara sah dan demokratis di negara kita tercinta, Indonesia. Kewajiban Menaati Pemimpin dalam Kebajikan Yang pertama yakni kewajiban mentaati kepada pemimpin sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits sangat banyak sekali. Dalil di dalam Al-Qur’an di antaranya adalah firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4]: 59). Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh perintah “taatilah” karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (tâbi’) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan taat kepada mereka justru kita harus menjadi penegak amar ma’ruf nahi munkar seperti yang akan kita bahas bersama dalam artikel ini. Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita tidak menaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ “Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Tirmidzi) Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum muslimin yang tidak bersalah menjadi korban. Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan menaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at yang mulia ini. Amar Ma’ruf Nahi munkar kepada Pemimpin Seperti yang penulis sampaikan pada point pertama tentang ketaatan kita terhadap ulil amri jika perintahnya menuju kebaikan dan kita tetap harus menjalankan amar ma’uf nahi munkar apabila pemimpin kita memberi perintah kepada keburukan. Berikut ini adalah dalil kebolehan amar ma’ruf, nahi munkar dengan cara mengkritik pemimpin/pemerintah: وقال صلى الله عليه وسلم: أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik jihad adalah ucapan yang hak disisi pemimpin yang zalim. (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah) Namun demikian, amar ma’ruf nahi munkar harus dengan lemah lembut dan pelakunya harus mempunyai ilmu yang cukup agar bisa bertindak dengan benar. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri berkata: لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال: رفيق بما يأمر، رفيق بما ينهى، عدل بما يأمر، عدل بما ينهى، عالم بما يأمر، عالم بما ينهى “Seseorang tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah, adil ketika menyeru dan mencegah, mengilmui sesuatu yang diseru dan dicegahnya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ul Ulum wal Hikam). Dikisahkan ada seseorang yang akan beramar ma’ruf dan nahi munkar, lalu dia meminta pendapat kepada seorang ulama agar diizinkan dengan cara yang keras karena pelakunya itu sudah dianggap keterlaluan, namun sang ulama menjawab bahwa kamu tidak lebih baik dari Nabi Musa as dan orang yang akan kamu nasihati tidak lebih jahat dari Fir’aun, tapi Allah di dalam Al-Qur’an tetap memerintahkan Nabi Musa as dan Nabi Harun as) untuk berbicara dengan lemah lembut kepada Fir’aun: اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ، فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (QS. Thaha 43-44). Larangan Memberontak dan Menyibukkan Diri Mencelanya Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan di antara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah: ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أُمورنا ، وإن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ، ولا ننزع يداً من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصيةٍ ، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة “Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” (Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Al-Hanafi, dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah) Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menukil ijma’. Dari Ibnu Batthal rahimahullah, ia berkata: “Para fuqaha telah sepakat wajibnya taat kepada pemerintah (muslim) yang berkuasa, berjihad bersamanya, dan bahwa ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 13/7) Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawy Al Haddad dalam kitabnya ‘Adda’wah Attammah menjelaskan tentang sikap yang harus dilaksanakan kepada pemimpin: ومهما كان الولي مصلحا حسن الرعاية جميل السيرة كان على الرعية أن يعينوه بالدعاء له و الثناء عليه بالخير “Jika seorang pemimpin membawa kemaslahatan untuk rakyat, bersungguh-sungguh dalam memberi perhatian kepada mereka, dan mempunyai kinerja yang bagus maka rakyat harus membantunya dengan berdoa untuknya serta memujinya atas kinerjanya yang bagus”. Sekian beberapa point yang bisa penulis sampaikan, jika ada kurang atau lebihnya mohon dimaafkan karena segala kelebihan berasal dari Allah dan segala kekurangan berasal dari kekhilafan penulis. Salam

Info

Peran Zakat Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat

Dibuat oleh: Admin Kamis, 17 Oktober 2024 /14 Rabiulakhir 1446 H Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia. Selain itu, zakat merupakan ibadah yang memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Banyak sekali hikmah serta manfaat zakat untuk meningkatkan kesejahteraan umat Islam. Beberapa bentuk dari manfaat yang bisa dirasakan dari zakat antara lain : Menolong kaum Dhuafa Manfaat dari zakat yang pertama dapat digunakan untuk tolong-menolong, membantu, membina, dan membangun kualitas hidup kaum dhuafa untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup mereka. Dengan kondisi tersebut, mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt dengan baik dan hati yang tenang. Pembuktian Persaudaraan Islam Zakat adalah ibadah harta yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah. Dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam. Pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah. Terwujudnya Tatanan Masyarakat Yang Harmonis Zakat apat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera sehingga hubungan seorang dengan dlainnya menjadi rukun, damai, harmonis dan dapat menciptakan situasi yang tenteram, aman lahir dan batin. Selalu ada hikmah disetiap perintah-perintah yang Allah berikan kepada kita hambanya,  Begitu pula dengan zakat, harta yang kita cari dengan susah payah lalu dizakatkan kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat), tentu kita bertanya-tanya untuk apa zakat tersebut. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah tertuang dalam surat At-taubah ayat 103, Allah berfirman “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” Dalam surat tersebut kita dapat menemukan dua hikmah yang terkandung pada zakat. Pertama, zakat dapat membersihkan dari perkara haram, kedua, harta dapat membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakil. Zakat menjadi proteksi bagi harta seorang muslim.

Info

Menghadapi Tantangan Hidup Dengan Kesabaran Dan Keikhlasan

  Dibuat oleh: Admin Rabu, 16 Oktober 2024 / 13 Rabiulakhir 1446 H Saat ini merupakan era dimana segala hal sangat mudah untuk diakses, di sisi lain perlu kita pahami pula bahwa hidup yang serba mudah seperti ini justru penuh dengan situasi yang menuntut kesabaran dan keikhlasan dari setiap individu. Kita sering kali terjebak dalam pergolakan hidup yang membuat kita lupa tentang makna sejati yang terkandung dalam kedua kata tersebut. Namun, penting bagi kita untuk memahami pentingnya sabar dan ikhlas sebagai pilar penuntun dalam menjalani kehidupan. Sebelumnya kita perlu untuk memahami definisi dari kata sabar yang memiliki sebuah makna “ketahanan diri dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan”. Dalam kondisi seperti masa kini, kesabaran merupakan suatu sikap yang sangatlah penting. Karena banyak sekali hal yang terjadi diluar kendali kita, seperti kemacetan lalu lintas, terkena suatu musibah, atau bahkan berita negatif yang mendominasi media. Namun, sebagai umat Muslim, kita dituntut untuk menjaga kesabaran kita dalam menghadapi semua ini. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada hikmah di balik apa yang ditunda, kecuali kesabaran dan tidak ada kesalahan dalam menghadapi apa yang ditimpa, kecuali kesabaran pula.” Sementara itu, keikhlasan adalah keadaan di mana seseorang melakukan sesuatu dengan hati yang tulus tanpa adanya suatu harapan atau keinginan yang tersembunyi. Ikhlas membawa kebaikan bagi kita dan orang lain yang berada di sekitar kita. Ketika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, semuanya terasa lebih ringan dan berkah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Ingatlah, jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, sesungguhnya kamu berbuat untuk dirimu sendiri pula.” (QS. Al-Isra: 7). Ini menekankan pentingnya ikhlas dalam berbagai aspek kehidupan Sabar dan ikhlas adalah dua sikap penting yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan sabar, kita dapat menjaga ketenangan dalam menghadapi permasalahan, sedangkan dengan ikhlas, kita dapat menerima segala keadaan dengan lapang dada. Kedua sikap ini tidak hanya penting dalam agama, tetapi juga memiliki dampak yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mampu bersabar dan ikhlas, kita dapat menghadapi permasalahan dengan bijak dan mengambil tindakan yang tepat untuk meraih kebaikan di masa depan. Oleh karena itu, mari kita kembangkan kedua sikap ini dalam diri kita dan jadikan sebagai kunci untuk menghadapi setiap ujian hidup. Bersabarlah dalam menjalani proses, dan ikhlaslah dalam menerima segala keadaan. Dengan begitu, kita akan dapat menghadapi setiap tantangan hidup dengan sikap yang baik dan bijak.

Info

Makna Hijrah

  Dibuat oleh: Admin Senin, 14 Oktober 2024 / 11 Rabiulakhir 1446 H Makna Hijrah Hijrah atau secara bahasa diambil dari kata (الهجر) yang artinya meninggalkan. Adapun secara istilah syariat yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad at Tamimi Rahimahullah dalam risalahnya Tsalatsatul Ushul, وَالهِجْرَةُ: الاِنْتِقَالُ مِنْ بَلَدِ الشِّرْكِ إِلى بَلَدِ الإِسْلاَمِ “Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin). Hijrah sendiri memiliki dua bentuk, yaitu : Hijrah tempat Hijrah tempat adalah hijrah dari negeri musyrik ke negeri Islam sebagaimana penjelasan di atas. Hijrah tempat memiliki contoh seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan umat muslim yang berpindah dari kota Makkah ke kota Madinah, hal ini dilakukan karena pada masa itu Makkah adalah kota yang berisi bani quraisy yang masih Jahiliyah sehingga Rasulullah mengajak para umatnya untuk hijrah ke Madinah karena keadaan kota disana lebih baik. Hijrah Maknawi Hijrah ini memiliki makna perpindahan suatu posisi pola hidup yang pada awalnya buruk (Maksiat) menuju kepada kebaikan (ketaatan kepada Allah SWT). Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi : والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه “Dan Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang” (HR. Bukhari). Demikianlah kedua jenis hijrah yang bisa penulis sampaikan dalam artikel kali ini, apabila masih banyak sekali kekurangan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya. Semoga kita selalu bersemangat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar bisa berjumpa dengan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Info

Berbuat Baik Untuk Dirimu Sendiri

  Dibuat oleh: Admin Jum’at, 11 Oktober 2024 / 8 Rabiulakhir 2024 Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin karena memiliki banyak sekali ajaran-ajaran kebaikan, seperti kebaikan terhadap sesama manusia maupun makhluk Allah yang lain. Pada artikel kali ini admin mengajak pembaca untuk membahas tentang perbuatan baik yang mana pada akhirnya jika kita melakukan perbuatan baik, maka kebaikan tersebut akan kembali kepada diri kita sendiri. Sesuai dari isi Al-Quran dalam surah Al-Isra’ ayat 7 yang berbunya : “إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ” Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri.” Ayat ini menjelaskan suatu makna yang sangat mendalam tentang bagaimana kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali ke diri kita sendiri, lalu apa saja manfaat kebaikan yang kembali pada diri kita? Mari kiita ulas bersama-sama. Yang pertama  ada kesejahteraan mental dan emosional, studi menunjukan bahwasannya tindakan kebaikan dapat memicu pelepasan hormon endorfin yang meningkatkan perasaan positif dan menghilangkan stres Kedua yaitu dapat meningkatkanan hubungan Sosial, perbuatan baik dapat menciptakan suatu ikatan yang kuat antara individu hal ini karena apabila kita berbuat baik, maka akan membangun jaringan sosial yang lebih erat dan mendukung kepada sesama manusia sehingga akan memberikan rasa aman dan kepuasan sosial tersendiri. Ketiga memberikan dampak positif untuk jangka panjang, misalnya saat kita membantu seseorang yang sedang berada pada keadaan sulit dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif sehingga diri kita juga akan merasakan kepuasan tersendiri. Yang terakhir, dalam segi spiritual. Berbuat baik adalah salah satu cara kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT karena melalui kebaikan tersebut. Seorang muslim dapat merasakan kebahagiaan batin yang mendalam, rasa damai serta merasa lebih dekat kepada Allah SWT. Ayat di atas mengingatkan kita bahwa setiap tindakan baik yang kita lakukan tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Dalam Islam, kebaikan adalah investasi jangka panjang yang akan membawa kebaikan kembali kepada pelakunya, baik dalam bentuk kesejahteraan mental, hubungan sosial yang lebih baik, maupun pertumbuhan spiritual.

Info

Kurma, Buah Kesukaan Rasulullah dan Manfaatnya Bagi Tubuh

  Dibuat oleh: Admin Rabu, 9 Oktober 2024 / 6 Rabiulakhir 1446 H Buah kurma merupakan salah satu buah kesukaan Nabi Muhammad SAW. Bahkan Rasulullah sangat mengajurkan agar umat Islam berbuka puasa dengan buah kurma. Rasulullah juga bersabda tentang anjuran berbuka puasa menggunakan buah kurma,seperti yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan kurma , sebab kurma itu mendatangkan berkah. Namun apabila tidak ada, berbukalah dengan air karena air itu bersih.” Lalu apa saja manfaat dari mengonsumsi buah kurma bagi tubuh kita sehingga Rasulullah sendiri sangat menganjurkan kita sebagai umatnya untuk mengonsumsi buah tersebut? Mari kita bahas bersama dalam artikel kali ini. Dikutip dari  kementrian kesehatan dalam artikelnya, disebutkan bahwa terdapat banyak manfaat dari mengonsumsi buah kurma bagi kesehatan tubuh antara lain seperti : Mencukupi Kebutuhan Gizi dan Kalori Sebagian besar kalori kurma dari karbohidrat dan sisanya dari protein. Meski tinggi kalori, kurma mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Melancarkan Sistem Pencernaan Dengan kandungan serat di dalam kurma, Anda dapat memasukkan kurma ke dalam diet harian. Serat dalam kurma dapat mencegah konstipasi dan membuat gerakan usus besar lebih teratur. Mencegah Penyakit Kronis Manfaat konsumsi kurma setiap hari yakni dapat terhindar dari beberapa penyakit kronis. Dikarenakan karena antioksidan dari kurma. Menstabilkan Gula Darah dan Pengganti Gula yang Lebih Sehat Dengan rasa yang manis, kurma dapat digunakan sebagai pengganti gula putih. Tidak hanya memaniskan, kurma kaya nutrisi, serat dan antioksidan. Meski masih membutuhkan penelitian, buah kurma dipercaya bisa memperbaiki kesehatan tulang dan membantu mengatur gula darah. Jadi Menu Tambahan dalam Diet Kurma dapat dimakan langsung maupun dikombinasikan dengan makanan sehat lain, seperti kacang almond, keju, oatmeal dan sebagainya. Tetapi karena kalorinya cukup tinggi, sebaiknya tidak perlu menambahkan terlalu banyak pada makanan / minuman. Mengganti Elektrolit Tubuh yang Hilang Dengan kadar potassium yang tinggi yakni salah satu unsur elektrolit yang dibutuhkan tubuh, kurma bermanfaat untuk menguatkan tubuh sekaligus membangun otot dalam tubuh. Melindungi Tubuh dari Peradangan Agar tubuh terlindungi dari radang, dibutuhkan asupan antioksidan yang cukup, yakni dari polifenol. Buah kurma kaya akan polifenol dibandingkan buah lain. Meningkatkan Kesuburan Kurma memiliki kandungan asam amino dan seng. Buah kurma dapat meningkatkan kesuburan, baik pada wanita maupun pria. Mencegah Anemia Manfaat kurma yang terakhir adalah buah kurma dapat membuat Anda tidak mudah lelah dan pucat karena anemia. Dengan makan kurma tiap hari, kandungan zat besinya akan meningkatkan produksi sel darah merah. Demikianlah beberapa manfaat dari mengonsumsi buah kurma bagi tubuh sehingga sangat jelas alasan mengapa Rasulullah SAW menganjurkan kita sebagai umatnya untuk mengonsumsi buah kurma.