
Selasa, 22 Juli 2025 / 25 Muharram 1447 H
Dibuat oleh : Admin
Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram. Sayangnya, sebagian masyarakat masih terpengaruh oleh mitos dan anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau penuh musibah. Padahal, dalam Islam tidak ada bulan yang dianggap membawa kesialan.
Menghilangkan Mitos dan Tahayul
Dahulu, di masa jahiliyah, orang-orang Arab percaya bahwa bulan Safar membawa kesialan dan musibah, hingga mereka enggan menikah atau bepergian pada bulan ini. Namun, Rasulullah ﷺ menolak dan membatalkan keyakinan tersebut. Dalam hadis beliau bersabda:
“Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada kesialan pada bulan Safar…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Islam datang untuk menghapus segala bentuk tahayul dan keyakinan syirik seperti itu. Maka, langkah awal dalam menyambut bulan Safar adalah membersihkan hati dan pikiran dari kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid.
Menjadikan Safar sebagai Momen Muhasabah
Alih-alih takut dan khawatir, mari jadikan bulan Safar sebagai momentum muhasabah diri. Apakah setelah Muharram kita sudah meningkatkan ibadah dan kebaikan? Apakah kita sudah memperbaiki niat dan amal untuk setahun ke depan?
Rasulullah ﷺ tidak pernah mengistimewakan bulan Safar dengan ibadah tertentu, tetapi sebagai seorang Muslim, kita bisa mengisinya dengan amal-amal umum yang dicintai Allah, seperti:
- Shalat sunnah
- Puasa sunnah (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh)
- Sedekah dan membantu sesama
- Istighfar dan dzikir harian
Menyambut Safar dengan Optimisme dan Tawakal
Meyakini bahwa semua hari dan bulan adalah milik Allah menjadikan hati lebih tenang. Semua yang terjadi adalah takdir-Nya yang penuh hikmah. Maka, sikap terbaik adalah optimis, berserah diri, dan terus berusaha dalam kebaikan.
“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami…”
(QS. At-Taubah: 51)
Menyambut bulan Safar bukan dengan rasa takut, tapi dengan iman yang lurus dan jiwa yang tenang. Mitos tentang bulan sial harus diluruskan, dan diganti dengan keyakinan bahwa semua waktu adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Jadikan Safar sebagai bulan memperbaiki niat, memperkuat amal, dan menepis syirik kecil yang tersembunyi dalam budaya. InsyaAllah, setiap bulan akan penuh berkah bagi yang bersandar kepada Allah.