Pundi Surga

Info

Info

Jangan Lupa Berterima Kasih

Jum’at, 1 Agustus 2025 / 6 Safar 1447 H Dibuat oleh : Admin Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menerima berbagai bentuk kebaikan dari orang lain—baik itu pertolongan, hadiah, perhatian, maupun dukungan. Namun, tidak sedikit dari kita yang lupa untuk mengucapkan satu kata sederhana namun penuh makna: “Terima kasih.” Dalam Islam, bersyukur dan berterima kasih adalah akhlak mulia yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Menariknya, Islam mengaitkan sikap terima kasih kepada sesama manusia dengan bentuk syukur kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi) Hadis ini mengajarkan bahwa mengucapkan terima kasih kepada orang lain bukan hanya soal sopan santun, tapi juga bagian dari ibadah dan bentuk syukur kepada Allah. Menghargai kebaikan orang lain menunjukkan hati yang lembut, rendah hati, dan tidak merasa diri paling berjasa. Allah telah memerintahkan manusia untuk bersyukur atas segala nikmat-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7) Bersyukur tidak hanya dengan lisan, tetapi juga melalui sikap dan perbuatan. Termasuk di dalamnya adalah menghargai peran orang-orang yang menjadi jalan datangnya nikmat Allah kepada kita—seperti orang tua, guru, sahabat, tetangga, bahkan rekan kerja. Ucapan “terima kasih” mungkin terasa ringan, tapi bisa meninggalkan kesan yang dalam. Bisa jadi, seseorang merasa dihargai dan termotivasi kembali untuk terus berbuat baik karena ucapan sederhana itu. Maka dari itu, jangan pernah meremehkan pentingnya berterima kasih. Ucapkanlah kepada siapa pun yang berbuat baik kepadamu, meskipun itu hal kecil. Karena di balik ucapan itu, ada cinta, penghargaan, dan keberkahan yang tumbuh. Islam adalah agama yang mengajarkan adab dan akhlak luhur. Salah satu adab yang harus kita jaga adalah berterima kasih. Mulailah membiasakan diri mengucapkan “terima kasih”—kepada orang tua, pasangan, teman, hingga kepada Allah Yang Maha Pemberi Segala Nikmat.

Info

Jangan Berlarut dalam Kesedihan

Kamis, 31 Juli/5 Safar 1447 H Dibuat oleh : Admin Dalam hidup, kesedihan adalah hal yang wajar. Kehilangan, kegagalan, atau ujian yang menimpa sering kali membuat hati terasa berat. Namun, Islam mengajarkan kita untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Allah Ta’ala berfirman: لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40) Ayat ini menjadi pengingat bahwa pertolongan Allah selalu dekat. Kesedihan yang terlalu lama hanya akan melemahkan jiwa dan membuat kita sulit melangkah. Nabi ﷺ pun bersabda bahwa orang beriman selalu berada dalam kebaikan, bahkan dalam musibah, selama ia bersabar dan ridha. Bangkitlah dengan doa dan zikir. Ingatlah bahwa setiap ujian datang bersama hikmah. Ganti kesedihan dengan semangat untuk memperbaiki diri dan mendekat kepada Allah. Sesungguhnya, hati yang berserah akan menemukan ketenangan. اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28) Jangan biarkan kesedihan mengikat langkahmu. Teruslah bergerak, karena rahmat Allah jauh lebih luas dari duka yang kita rasa.

Info

Enggan Shodaqah Adalah Ciri Kemunafikan

Selasa, 29 Juli 2025 / 4 Shafar 1447 H Dipost oleh : Admin Sumber : Tulisan Adika Mianoki, Al Minhatu ar Rabbaniyyah fii Syarhi al Arba’iin an Nawawiyyah, Syaikh Dr. Shalih Fauzan hafidzahullah   Salah satu ciri orang yang beriman adalah gemar bershodaqah. Sedangkan di antara ciri kemunafikan adalah enggan untuk bersedekah. Rasul shallallahu ‘alaiahi wa sallam bersabda : وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ “Shodaqah adalah burhan (bukti) “ (H.R Muslim) Yang dimaksud burhan adalah bukti yang menunjukkan benarnya keimanan. Tidaklah akan rela mengeluarkan harta yang ia cintai untuk dishodaqahkan, kecuali hanya orang yang memiliki keimanan dalam hatinya. Maka ketika seseorang mengedepankan ketaatan kepada Allah dengan bersedekah, ini merupakan bukti benarnya keimanan di dalam hatinya. Selain itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala sangat mencintai sifat dermawan karena Sifat dermawan dan gemar bershodaqah adalah merupakan akhlak baik dalam islam. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها “ Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi. Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia dan Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi,shahih) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jaminan kepada kita bahwasanya Apabila kita bersedekah, tidaklah sedikitpun mengurangi harta yang kita miliki. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ “Shodaqah tidak akan mengurangi harta” (HR. Muslim) Anggapan orang bahwa bershodaqah akan mengurangi harta tidaklah tepat. Bahkan dengan banyak bershodaqah, harta semakin bertambah berkah dan akan mendapat ganti yang lebih baik. Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang gemar bershodaqah dan kita berharap senantiasa mendapat rezeki harta yang penuh dengan berkah.  

Info

Sedekah: Tanda Kebaikan yang Mengalir Tanpa Henti

Senin, 28 Juli 2025 / 3 Shafar 1447 H Dibuat oleh: Admin Sedekah bukan sekadar memberi, melainkan cerminan keimanan dan kepedulian terhadap sesama. Dalam Islam, sedekah memiliki kedudukan istimewa sebagai amalan yang mendatangkan pahala, membersihkan harta, serta mempererat tali persaudaraan. Secara bahasa, sedekah berasal dari kata “shidq” yang berarti kebenaran, menunjukkan bahwa sedekah adalah bukti kejujuran iman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah adalah bukti (keimanan).” (HR. Muslim) . Sedekah tidak hanya berupa harta, tetapi juga bisa dalam bentuk senyuman, bantuan tenaga, atau ilmu yang bermanfaat. Setiap bentuk sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Manfaat dari bersedekah Membersihkan Harta dan Jiwa: Dengan bersedekah, seseorang membersihkan hartanya dari hak orang lain dan menumbuhkan rasa syukur dalam dirinya. Menghapus Dosa: Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api Menolak Bala dan Musibah: Sedekah diyakini mampu melindungi diri dari berbagai bencana dan musibah. Mendatangkan Keberkahan dan Rezeki: Allah SWT menjanjikan akan mengganti setiap sedekah dengan yang lebih baik dan melipatgandakan rezeki bagi pelakunya Mempererat Ukhuwah Islamiyah: Dengan berbagi, tali persaudaraan antar sesama muslim semakin erat dan harmonis. Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Contohnya adalah membangun masjid, menyediakan air bersih, atau mendukung pendidikan anak-anak yatim. Amal-amal ini akan menjadi bekal di akhirat kelak. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menanam benih kebaikan yang akan tumbuh dan berbuah di dunia serta akhirat. Mari jadikan sedekah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sebagai tanda kebaikan yang mengalir tanpa henti.

Info

Mempersiapkan Diri Menyambut Bulan Safar: Menepis Mitos, Menjemput Berkah

Selasa, 22 Juli 2025 / 25 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram. Sayangnya, sebagian masyarakat masih terpengaruh oleh mitos dan anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau penuh musibah. Padahal, dalam Islam tidak ada bulan yang dianggap membawa kesialan. Menghilangkan Mitos dan Tahayul Dahulu, di masa jahiliyah, orang-orang Arab percaya bahwa bulan Safar membawa kesialan dan musibah, hingga mereka enggan menikah atau bepergian pada bulan ini. Namun, Rasulullah ﷺ menolak dan membatalkan keyakinan tersebut. Dalam hadis beliau bersabda: “Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada kesialan pada bulan Safar…” (HR. Bukhari dan Muslim) Islam datang untuk menghapus segala bentuk tahayul dan keyakinan syirik seperti itu. Maka, langkah awal dalam menyambut bulan Safar adalah membersihkan hati dan pikiran dari kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid. Menjadikan Safar sebagai Momen Muhasabah Alih-alih takut dan khawatir, mari jadikan bulan Safar sebagai momentum muhasabah diri. Apakah setelah Muharram kita sudah meningkatkan ibadah dan kebaikan? Apakah kita sudah memperbaiki niat dan amal untuk setahun ke depan? Rasulullah ﷺ tidak pernah mengistimewakan bulan Safar dengan ibadah tertentu, tetapi sebagai seorang Muslim, kita bisa mengisinya dengan amal-amal umum yang dicintai Allah, seperti: Shalat sunnah Puasa sunnah (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh) Sedekah dan membantu sesama Istighfar dan dzikir harian Menyambut Safar dengan Optimisme dan Tawakal Meyakini bahwa semua hari dan bulan adalah milik Allah menjadikan hati lebih tenang. Semua yang terjadi adalah takdir-Nya yang penuh hikmah. Maka, sikap terbaik adalah optimis, berserah diri, dan terus berusaha dalam kebaikan. “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami…” (QS. At-Taubah: 51) Menyambut bulan Safar bukan dengan rasa takut, tapi dengan iman yang lurus dan jiwa yang tenang. Mitos tentang bulan sial harus diluruskan, dan diganti dengan keyakinan bahwa semua waktu adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadikan Safar sebagai bulan memperbaiki niat, memperkuat amal, dan menepis syirik kecil yang tersembunyi dalam budaya. InsyaAllah, setiap bulan akan penuh berkah bagi yang bersandar kepada Allah.  

Info

Menjemput Berkah di Hari Senin: Keutamaan Puasa Sunnah

Senin, 14 Juli 2025 / 17 Muharram 1447 H Dibuat oleh: Admin Hari Senin adalah hari yang tak hanya membuka pekan, tetapi juga membuka kesempatan untuk menjemput pahala lewat ibadah sunnah yakni berpuasa pada hari Senin. Rasulullah ﷺ sangat mencintai puasa di hari Senin dan Kamis. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: “Amal-amal diperlihatkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin amalku diperlihatkan dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. Tirmidzi, shahih) Dalam keseharian yang sibuk, seringkali kita lupa bahwa amalan kecil dan rutin seperti puasa Senin-Kamis justru sangat dicintai Allah. Ia adalah latihan kesabaran, penyucian hati, dan pengingat bahwa dunia bukan segalanya. Lalu apa saja keutamaan dalam berpuasa pada hari Senin? Menjalankan sunnah Rasulullah SAW Mendapatkan pahala yang besar Menjaga kesehatan lahir maupun batin Mustajab apabila berdoa kepada Allah Meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Meningkatkan kepekaan terhadap sosial bermasyarakat Tak perlu menunggu Ramadhan untuk mendekat pada Allah. Hari ini, cukup niat tulus, lalu mulai menahan lapar dan dahaga demi keridhaan-Nya. Jika hari ini kita belum sempat untuk berpuasa, tidak apa-apa. Masih ada hari Kamis insyaAllah. Yang penting, terus niatkan diri untuk menjadi hamba yang lebih baik—sedikit demi sedikit, namun konsisten. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita agar selalu istiqamah dalam mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.

Info

Berbuat Baik Di Awal Tahun : Kecil Di Mata Manusia, Besar Di sisi Allah

Selasa, 8 Juli 2025 / 12 Muharram1447 H Dibuat oleh : Admin Beberapa waktu yang lalu kita telah merayakan tahun baru hijriyah, Muharram membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup seorang Muslim. Saat kalender Islam memasuki tahun 1447 H, ini bukan sekadar pergantian angka, melainkan momen penting untuk refleksi, evaluasi, dan memulai langkah baru yang lebih bermakna. Di antara banyak amalan yang bisa dilakukan di awal tahun ini, salah satu yang paling ringan namun penuh keberkahan adalah berbuat baik, sekecil apa pun itu. Terkadang kita merasa bahwa suatu amal hanya bernilai jika besar, tampak oleh banyak orang, atau mendapat pengakuan. Padahal, dalam pandangan Allah, bukan ukuran dunia yang menentukan nilai sebuah amal, melainkan niat dan ketulusan hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walau hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang cerah.” (HR. Muslim) Senyum yang tulus, mengucapkan salam dengan ikhlas, membantu orang tua menyebrang, mentransfer sedekah Rp10.000 di awal bulan, atau menahan diri dari berkata buruk di media sosial—semua itu mungkin tampak kecil, tapi sangat besar nilainya di sisi Allah ﷻ. Bulan Muharram disebut sebagai salah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Di bulan ini, amal kebaikan lebih dicintai dan dilipatgandakan pahalanya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beramal pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dan lebih besar pula pahalanya.” (Tafsir Ibnu Katsir) Maka, memanfaatkan awal Muharram untuk berbuat baik adalah langkah yang cerdas dan berpahala. Ia menjadi awal yang bersih untuk hati yang ingin lebih dekat kepada Allah. Kebaikan sejati adalah yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa berharap pujian atau balasan dari makhluk. Karena yang menilai amal bukan manusia, tetapi Allah ﷻ, Dzat yang Maha Mengetahui isi hati. “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu.” (HR. Muslim) Bahkan amal yang tidak disadari orang lain bisa menjadi penentu keberuntungan akhirat, karena itulah amal yang benar-benar dilakukan hanya karena-Nya. Dari uraian diatas menjelaskan kepada kita bahwa Tidak perlu menunggu kaya, terkenal, atau punya jabatan untuk berbuat baik. Mulailah dari hal-hal kecil: menolong, mendoakan, menasihati dengan lembut, atau bahkan diam agar tidak menyakiti. Semuanya tercatat rapi oleh Allah, dan bisa jadi menjadi tiket kita ke surga.

Info

Keutamaan Sedekah Yatim Di Bulan Muharram

Jum’at, 4 Juli 2025 /8 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Keutamaan sedekah yatim di bulan Muharram sangat banyak, bisa menjadi cara mengumpulkan pahala untuk di akhirat nanti. Yuk amalkan amalan bulan Muharram agar mendapatkan keutamaannya. Simak keutamaan pada artikel berikut ini. Bersedekah kepada anak yatim, menjadi salah satu kemuliaan. Apalagi jika dilakukan di bulan yang suci, tentunya akan banyak keutamaan sedekah yatim di bulan Muharram yang bisa didapatkan. Apakah ada hadits dan anjuran, tentang bersedekah kepada anak yatim pada bulan Muharram?. Bagi Anda yang belum terlalu paham, namun ingin melaksanakan sedekah tersebut. Beberapa dalil berikut bisa dijadikan pedoman. Al-Baqarah ayat 220 Di dalam surat Al-Baqarah ayat 220 dijelaskan bahwa, memperbaiki keadaan anak yatim merupakan suatu hal yang sangat baik. Rasulullah SAW sangat mencintai anak yatim Pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah selalu melakukan jamuan untuk anak-anak tersebut dan juga keluarga mereka sebagai wujud rasa sayangnya. Hadits Riwayat Ibnu Majah Di dalam salah satu hadits riwayat Ibnu Majah,Abu Hurairah RA pernah mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa rumah paling baik dari umat muslim yaitu rumah dimana terdapat anak yatim yang diperlakukan baik. Rumah yang paling jelek di antara kaum muslim adalah rumah dimana di dalamnya ada anak yatim yang mendapat perlakuan buruk. Hadits Riwayat Thabrani Di dalam salah satu hadits riwayat Thabrani, dikatakan tentang melakukan sedekah pada bulan Muharram akan mendapatkan pahala 70 kali lebih banyak dari sedekah pada bulan lain. Hadits Riwayat Bukhari Berdasarkan Berdasarkan salah satu riwayat hadits dari Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau dan orang yang menanggung hidup anak yatim memiliki kedekatan di surga seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Berbagai pahala bisa didapatkan oleh siapa saja, yang memberikan sedekah kepada anak yatim di bulan Muharram. Ini merupakan salah satu keutamaan sedekah yatim di bulan Muharram terbaik. Apalagi bulan tersebut termasuk salah satu bulan mulia selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Di hari tersebut, sangat banyak yang memuliakan anak yatim dengan memberikan sedekah. Sedekah yang diberikan ada yang langsung kepada para anak-anak yang sudah kehilangan ayah mereka.

Info

Keutamaan Puasa Asyura

Kamis, 3 Juli 2025 / 7 Muharram 1447 H Dibuat oleh: Admin Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang keutamaan berpuasa Tasu’a yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW setiap tanggal 9 Muharram. Pada artikel kali ini, penulis ingin melanjutkan pembahasan tentang amalan yang bisa kita lakukan sesuai dengan anjuran Rasulullah yakni puasa Asyura. Puasa Asyura sendiri adalah salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong umat Islam untuk banyak berpuasa di bulan ini, dan salah satu puasa yang ditekankan adalah puasa Asyura. وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ  يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ . قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ  يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” Awalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Asyura ketika masih berada di Makkah, dan pada saat itu beliau tidak memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun, ketika beliau tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa Asyura dan memuliakan hari tersebut. Maka, beliau pun ikut berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Puasa Asyura diwajibkan pada masa itu, namun setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, puasa Asyura berubah menjadi sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan), dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memerintahkan secara khusus untuk melaksanakannya. Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”                 Lalu kapan puasa Asyura bisa kita lakukan?, Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asyura, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma.                 صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً “Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.” Terdapat pula hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ’anhuma berkata, خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ “Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.”

Info

Mengapa Hendaknya Puasa Tasu’a?

Selasa, 1 Juli 2025 / 5 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Pada saat ini, kita telah memasuki bulan Muharram. Bulan pertama dalam kalender hijriah. pada bulan ini terdapat beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW seperti puasa asyura yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram, selain puasa asyura Rasulullah juga berpuasa sehari sebelumnya yakni pada tanggal 9 hijriah yang dinamakan dengan puasa tasu’a. Puasa ini dianjurkan langsung oleh Rasulullah saw dalam haditsnya. Setidaknya, ada empat keutamaan yang bisa diperoleh dari menjalankan ibadah puasa tasua. Apa saja kutamaan-keutamaan dari berpuasa tasu’a, mari kita simak Bersama. Puasa paling utama setelah Ramadhan Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim). Keutamaan karena salah satu dari empat bulan mulia Rasulullah saw menganjurkan kita untuk berpuasa di empat bulan mulia itu sebagaimana disampaikan dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah. ‘Puasalah bulan Sabar (Ramadhan) dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan mulia’.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya). Puasa sehari di bulan Muharram pahalanya seperti berpuasa selama 30 hari Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.” (HR at-Thabarani dalam al-Mu’jamus Shaghîr. Ini hadits gharîb namun sanadnya tidak bermasalah). Sebagai puasa pembeda antara umat Islam dan umat Yahudi Puasa Tasu’a menjadi puasa pembeda antara umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyura. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas, “Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad). Dalam konteks ini, lanjutnya, al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan tingkatan puasa Asyura itu ada tiga: pertama, puasa hari Asyura saja. Kedua, puasa Asyura disertai puasa Tasu’a. Ketiga, puasa Asyura disertai puasa Tasu’a dan puasa 11 Muharram. Hal ini sebagaimana diterangkan Imam Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bâri Syarhu Shahîhil Bukhâri. Semoga Allah SWT memampukan dan memudahkan kita untuk menjalankan puasa-puasa di bulan Muharram ini.