Pundi Surga

Info

Info

Sedekah: Tanda Kebaikan yang Mengalir Tanpa Henti

Senin, 28 Juli 2025 / 3 Shafar 1447 H Dibuat oleh: Admin Sedekah bukan sekadar memberi, melainkan cerminan keimanan dan kepedulian terhadap sesama. Dalam Islam, sedekah memiliki kedudukan istimewa sebagai amalan yang mendatangkan pahala, membersihkan harta, serta mempererat tali persaudaraan. Secara bahasa, sedekah berasal dari kata “shidq” yang berarti kebenaran, menunjukkan bahwa sedekah adalah bukti kejujuran iman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah adalah bukti (keimanan).” (HR. Muslim) . Sedekah tidak hanya berupa harta, tetapi juga bisa dalam bentuk senyuman, bantuan tenaga, atau ilmu yang bermanfaat. Setiap bentuk sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Manfaat dari bersedekah Membersihkan Harta dan Jiwa: Dengan bersedekah, seseorang membersihkan hartanya dari hak orang lain dan menumbuhkan rasa syukur dalam dirinya. Menghapus Dosa: Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api Menolak Bala dan Musibah: Sedekah diyakini mampu melindungi diri dari berbagai bencana dan musibah. Mendatangkan Keberkahan dan Rezeki: Allah SWT menjanjikan akan mengganti setiap sedekah dengan yang lebih baik dan melipatgandakan rezeki bagi pelakunya Mempererat Ukhuwah Islamiyah: Dengan berbagi, tali persaudaraan antar sesama muslim semakin erat dan harmonis. Sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, bahkan setelah seseorang meninggal dunia. Contohnya adalah membangun masjid, menyediakan air bersih, atau mendukung pendidikan anak-anak yatim. Amal-amal ini akan menjadi bekal di akhirat kelak. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menanam benih kebaikan yang akan tumbuh dan berbuah di dunia serta akhirat. Mari jadikan sedekah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, sebagai tanda kebaikan yang mengalir tanpa henti.

Info

Mempersiapkan Diri Menyambut Bulan Safar: Menepis Mitos, Menjemput Berkah

Selasa, 22 Juli 2025 / 25 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriyah setelah Muharram. Sayangnya, sebagian masyarakat masih terpengaruh oleh mitos dan anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan sial atau penuh musibah. Padahal, dalam Islam tidak ada bulan yang dianggap membawa kesialan. Menghilangkan Mitos dan Tahayul Dahulu, di masa jahiliyah, orang-orang Arab percaya bahwa bulan Safar membawa kesialan dan musibah, hingga mereka enggan menikah atau bepergian pada bulan ini. Namun, Rasulullah ﷺ menolak dan membatalkan keyakinan tersebut. Dalam hadis beliau bersabda: “Tidak ada penularan penyakit tanpa izin Allah, tidak ada kesialan pada bulan Safar…” (HR. Bukhari dan Muslim) Islam datang untuk menghapus segala bentuk tahayul dan keyakinan syirik seperti itu. Maka, langkah awal dalam menyambut bulan Safar adalah membersihkan hati dan pikiran dari kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid. Menjadikan Safar sebagai Momen Muhasabah Alih-alih takut dan khawatir, mari jadikan bulan Safar sebagai momentum muhasabah diri. Apakah setelah Muharram kita sudah meningkatkan ibadah dan kebaikan? Apakah kita sudah memperbaiki niat dan amal untuk setahun ke depan? Rasulullah ﷺ tidak pernah mengistimewakan bulan Safar dengan ibadah tertentu, tetapi sebagai seorang Muslim, kita bisa mengisinya dengan amal-amal umum yang dicintai Allah, seperti: Shalat sunnah Puasa sunnah (Senin-Kamis, Ayyamul Bidh) Sedekah dan membantu sesama Istighfar dan dzikir harian Menyambut Safar dengan Optimisme dan Tawakal Meyakini bahwa semua hari dan bulan adalah milik Allah menjadikan hati lebih tenang. Semua yang terjadi adalah takdir-Nya yang penuh hikmah. Maka, sikap terbaik adalah optimis, berserah diri, dan terus berusaha dalam kebaikan. “Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami…” (QS. At-Taubah: 51) Menyambut bulan Safar bukan dengan rasa takut, tapi dengan iman yang lurus dan jiwa yang tenang. Mitos tentang bulan sial harus diluruskan, dan diganti dengan keyakinan bahwa semua waktu adalah kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadikan Safar sebagai bulan memperbaiki niat, memperkuat amal, dan menepis syirik kecil yang tersembunyi dalam budaya. InsyaAllah, setiap bulan akan penuh berkah bagi yang bersandar kepada Allah.  

Info

Menjemput Berkah di Hari Senin: Keutamaan Puasa Sunnah

Senin, 14 Juli 2025 / 17 Muharram 1447 H Dibuat oleh: Admin Hari Senin adalah hari yang tak hanya membuka pekan, tetapi juga membuka kesempatan untuk menjemput pahala lewat ibadah sunnah yakni berpuasa pada hari Senin. Rasulullah ﷺ sangat mencintai puasa di hari Senin dan Kamis. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda: “Amal-amal diperlihatkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku ingin amalku diperlihatkan dalam keadaan aku berpuasa.” (HR. Tirmidzi, shahih) Dalam keseharian yang sibuk, seringkali kita lupa bahwa amalan kecil dan rutin seperti puasa Senin-Kamis justru sangat dicintai Allah. Ia adalah latihan kesabaran, penyucian hati, dan pengingat bahwa dunia bukan segalanya. Lalu apa saja keutamaan dalam berpuasa pada hari Senin? Menjalankan sunnah Rasulullah SAW Mendapatkan pahala yang besar Menjaga kesehatan lahir maupun batin Mustajab apabila berdoa kepada Allah Meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Meningkatkan kepekaan terhadap sosial bermasyarakat Tak perlu menunggu Ramadhan untuk mendekat pada Allah. Hari ini, cukup niat tulus, lalu mulai menahan lapar dan dahaga demi keridhaan-Nya. Jika hari ini kita belum sempat untuk berpuasa, tidak apa-apa. Masih ada hari Kamis insyaAllah. Yang penting, terus niatkan diri untuk menjadi hamba yang lebih baik—sedikit demi sedikit, namun konsisten. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan kepada kita agar selalu istiqamah dalam mengamalkan sunnah Rasulullah SAW.

Info

Berbuat Baik Di Awal Tahun : Kecil Di Mata Manusia, Besar Di sisi Allah

Selasa, 8 Juli 2025 / 12 Muharram1447 H Dibuat oleh : Admin Beberapa waktu yang lalu kita telah merayakan tahun baru hijriyah, Muharram membuka lembaran baru dalam perjalanan hidup seorang Muslim. Saat kalender Islam memasuki tahun 1447 H, ini bukan sekadar pergantian angka, melainkan momen penting untuk refleksi, evaluasi, dan memulai langkah baru yang lebih bermakna. Di antara banyak amalan yang bisa dilakukan di awal tahun ini, salah satu yang paling ringan namun penuh keberkahan adalah berbuat baik, sekecil apa pun itu. Terkadang kita merasa bahwa suatu amal hanya bernilai jika besar, tampak oleh banyak orang, atau mendapat pengakuan. Padahal, dalam pandangan Allah, bukan ukuran dunia yang menentukan nilai sebuah amal, melainkan niat dan ketulusan hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walau hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang cerah.” (HR. Muslim) Senyum yang tulus, mengucapkan salam dengan ikhlas, membantu orang tua menyebrang, mentransfer sedekah Rp10.000 di awal bulan, atau menahan diri dari berkata buruk di media sosial—semua itu mungkin tampak kecil, tapi sangat besar nilainya di sisi Allah ﷻ. Bulan Muharram disebut sebagai salah satu dari empat bulan suci dalam Islam. Di bulan ini, amal kebaikan lebih dicintai dan dilipatgandakan pahalanya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: “Beramal pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya dan lebih besar pula pahalanya.” (Tafsir Ibnu Katsir) Maka, memanfaatkan awal Muharram untuk berbuat baik adalah langkah yang cerdas dan berpahala. Ia menjadi awal yang bersih untuk hati yang ingin lebih dekat kepada Allah. Kebaikan sejati adalah yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa berharap pujian atau balasan dari makhluk. Karena yang menilai amal bukan manusia, tetapi Allah ﷻ, Dzat yang Maha Mengetahui isi hati. “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan hartamu, tetapi Dia melihat kepada hati dan amalmu.” (HR. Muslim) Bahkan amal yang tidak disadari orang lain bisa menjadi penentu keberuntungan akhirat, karena itulah amal yang benar-benar dilakukan hanya karena-Nya. Dari uraian diatas menjelaskan kepada kita bahwa Tidak perlu menunggu kaya, terkenal, atau punya jabatan untuk berbuat baik. Mulailah dari hal-hal kecil: menolong, mendoakan, menasihati dengan lembut, atau bahkan diam agar tidak menyakiti. Semuanya tercatat rapi oleh Allah, dan bisa jadi menjadi tiket kita ke surga.

Info

Keutamaan Sedekah Yatim Di Bulan Muharram

Jum’at, 4 Juli 2025 /8 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Keutamaan sedekah yatim di bulan Muharram sangat banyak, bisa menjadi cara mengumpulkan pahala untuk di akhirat nanti. Yuk amalkan amalan bulan Muharram agar mendapatkan keutamaannya. Simak keutamaan pada artikel berikut ini. Bersedekah kepada anak yatim, menjadi salah satu kemuliaan. Apalagi jika dilakukan di bulan yang suci, tentunya akan banyak keutamaan sedekah yatim di bulan Muharram yang bisa didapatkan. Apakah ada hadits dan anjuran, tentang bersedekah kepada anak yatim pada bulan Muharram?. Bagi Anda yang belum terlalu paham, namun ingin melaksanakan sedekah tersebut. Beberapa dalil berikut bisa dijadikan pedoman. Al-Baqarah ayat 220 Di dalam surat Al-Baqarah ayat 220 dijelaskan bahwa, memperbaiki keadaan anak yatim merupakan suatu hal yang sangat baik. Rasulullah SAW sangat mencintai anak yatim Pada tanggal 10 Muharram, Rasulullah selalu melakukan jamuan untuk anak-anak tersebut dan juga keluarga mereka sebagai wujud rasa sayangnya. Hadits Riwayat Ibnu Majah Di dalam salah satu hadits riwayat Ibnu Majah,Abu Hurairah RA pernah mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa rumah paling baik dari umat muslim yaitu rumah dimana terdapat anak yatim yang diperlakukan baik. Rumah yang paling jelek di antara kaum muslim adalah rumah dimana di dalamnya ada anak yatim yang mendapat perlakuan buruk. Hadits Riwayat Thabrani Di dalam salah satu hadits riwayat Thabrani, dikatakan tentang melakukan sedekah pada bulan Muharram akan mendapatkan pahala 70 kali lebih banyak dari sedekah pada bulan lain. Hadits Riwayat Bukhari Berdasarkan Berdasarkan salah satu riwayat hadits dari Bukhari, Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau dan orang yang menanggung hidup anak yatim memiliki kedekatan di surga seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah. Berbagai pahala bisa didapatkan oleh siapa saja, yang memberikan sedekah kepada anak yatim di bulan Muharram. Ini merupakan salah satu keutamaan sedekah yatim di bulan Muharram terbaik. Apalagi bulan tersebut termasuk salah satu bulan mulia selain Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Di hari tersebut, sangat banyak yang memuliakan anak yatim dengan memberikan sedekah. Sedekah yang diberikan ada yang langsung kepada para anak-anak yang sudah kehilangan ayah mereka.

Info

Keutamaan Puasa Asyura

Kamis, 3 Juli 2025 / 7 Muharram 1447 H Dibuat oleh: Admin Pada artikel sebelumnya kita telah membahas tentang keutamaan berpuasa Tasu’a yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW setiap tanggal 9 Muharram. Pada artikel kali ini, penulis ingin melanjutkan pembahasan tentang amalan yang bisa kita lakukan sesuai dengan anjuran Rasulullah yakni puasa Asyura. Puasa Asyura sendiri adalah salah satu amalan yang dianjurkan pada bulan Muharram. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong umat Islam untuk banyak berpuasa di bulan ini, dan salah satu puasa yang ditekankan adalah puasa Asyura. وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ  يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ . قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ  يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” Awalnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Asyura ketika masih berada di Makkah, dan pada saat itu beliau tidak memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun, ketika beliau tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa Asyura dan memuliakan hari tersebut. Maka, beliau pun ikut berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Puasa Asyura diwajibkan pada masa itu, namun setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, puasa Asyura berubah menjadi sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan), dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi memerintahkan secara khusus untuk melaksanakannya. Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.”                 Lalu kapan puasa Asyura bisa kita lakukan?, Sebagian ulama berpendapat tentang dianjurkannya berpuasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram. Inilah yang dianggap sebagai tingkatan lain dalam melakukan puasa Asyura, sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma.                 صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْماً أَوْ بَعْدَهُ يَوْماً “Puasalah pada hari ’Asyura’ (10 Muharram) dan selisilah Yahudi. Puasalah pada hari sebelumnya atau hari sesudahnya.” Terdapat pula hadits yang diriwayatkan oleh Abdur Rozaq, Ath Thohawiy dalam Ma’anil Atsar, dan juga Al Baihaqi, dari jalan Ibnu Juraij dari ’Atho’ dari Ibnu Abbas. Beliau radhiyallahu ’anhuma berkata, خَالِفُوْا اليَهُوْدَ وَصُوْمُوْا التَّاسِعَ وَالعَاشِرَ “Selisilah Yahudi. Puasalah pada hari kesembilan dan kesepuluh Muharram.”

Info

Mengapa Hendaknya Puasa Tasu’a?

Selasa, 1 Juli 2025 / 5 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Pada saat ini, kita telah memasuki bulan Muharram. Bulan pertama dalam kalender hijriah. pada bulan ini terdapat beberapa amalan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW seperti puasa asyura yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram, selain puasa asyura Rasulullah juga berpuasa sehari sebelumnya yakni pada tanggal 9 hijriah yang dinamakan dengan puasa tasu’a. Puasa ini dianjurkan langsung oleh Rasulullah saw dalam haditsnya. Setidaknya, ada empat keutamaan yang bisa diperoleh dari menjalankan ibadah puasa tasua. Apa saja kutamaan-keutamaan dari berpuasa tasu’a, mari kita simak Bersama. Puasa paling utama setelah Ramadhan Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim). Keutamaan karena salah satu dari empat bulan mulia Rasulullah saw menganjurkan kita untuk berpuasa di empat bulan mulia itu sebagaimana disampaikan dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah. ‘Puasalah bulan Sabar (Ramadhan) dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan mulia’.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan selainnya). Puasa sehari di bulan Muharram pahalanya seperti berpuasa selama 30 hari Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.” (HR at-Thabarani dalam al-Mu’jamus Shaghîr. Ini hadits gharîb namun sanadnya tidak bermasalah). Sebagai puasa pembeda antara umat Islam dan umat Yahudi Puasa Tasu’a menjadi puasa pembeda antara umat Islam dengan umat Yahudi yang sama-sama berpuasa di hari Asyura. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Abbas, “Puasalah kalian pada hari Asyura dan bedakan dengan kaum Yahudi, puasalah kalian sehari sebelum atau sesudahnya’.” (HR Ahmad). Dalam konteks ini, lanjutnya, al-Hafidh Ibnu Hajar mengatakan tingkatan puasa Asyura itu ada tiga: pertama, puasa hari Asyura saja. Kedua, puasa Asyura disertai puasa Tasu’a. Ketiga, puasa Asyura disertai puasa Tasu’a dan puasa 11 Muharram. Hal ini sebagaimana diterangkan Imam Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Fathul Bâri Syarhu Shahîhil Bukhâri. Semoga Allah SWT memampukan dan memudahkan kita untuk menjalankan puasa-puasa di bulan Muharram ini.

Info

Keutamaan-Keutamaan Di Bulan Muharram

Senin, 30 Juni 2025 / 4 Muharram 1447 H Dibuat oleh : Admin Bulan Muharram diambil dari kata “haram” yang memiliki arti suci atau terlarang. Orang arab pada masa sebelum masuknya agama Islam, ada sebuah larangan untuk berperang atau membunuh selama bulan ini berlangsung. Larangan ini tetap berlaku ketika agama Islam masuk, dan bulan ini termasuk dalam empat bulan yang dihormati. Keutamaan bulan Muharram dalam Islam meliputi beberapa aspek penting yang dihormati oleh umat Muslim. Berikut adalah beberapa keutamaan utama bulan Muharram: Awal Tahun Hijriah Muharram menandai awal tahun baru dalam kalender Islam (kalender hijriah), yang dimulai dari hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Ini adalah momen untuk merenungkan perjuangan dan keteguhan dalam menghadapi tantangan, serta untuk memperkuat iman dan praktik keagamaan. Bulan Haram (Suci) Bulan Muharam merupakan salah satu bulan haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah : 36) Empat bulan haram yang menurut Surat At Taubah ayat 36 ini adalah bulan Dzulqidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Ashurul haram (bulan haram), termasuk bulan Muharam ini adalah bulan yang Allah muliakan. Bulan-bulan ini memiliki kesucian dan karenanya menjadi bulan pilihan. Di antara bentuk kesucian dan kemuliaan bulan-bulan ini adalah kaum muslimin dilarang berperang, kecuali terpaksa karena diserang oleh kaum kafir. Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir rahimahullah mengutip penafsiran Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu.  “Amal shalih di bulan haram pahalanya lebih besar, dan kezaliman di bulan ini dosanya juga lebih besar dibanding di bulan-bulan lainnya, kendati kezaliman di setiap keadaan tetap besar dosanya.” Anjuran Berpuasa Puasa yang dianjurkan pada bulan Muharram ialah puasa Tasua dan Asyura. Puasa Asyura, merupakan puasa sunah yang disyariatkan agama. Pelaksanaannya pada hari Asyura yaitu tanggal 10 bulan Muharram. Puasa Asyura dituntunkan oleh Rasulullah SAW karena puasa di hari Asyura merupakan bagian dari warisan agama yang telah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim sebelum adanya perintah pelaksanaan bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk melaksanakan puasa Tasua yang dilaksanakan pada 9 Muharram. Anjuran tambahan in diberikan sebagai pembeda dari kaum Yahudi yang juga melaksanakan puasa di hari Asyura. Puasa Tasua dan Asyura serta puasa sunnah lainnya nilainya menjadi puasa yang paling mulia setelah Ramadhan. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam.” (HR. Muslim) Waktu Yang Tepat Untuk Bersedekah Dan Beramal Saleh Bulan Muharram juga dikenal sebagai bulan di mana umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan amalan saleh, bersedekah, dan melakukan kebaikan kepada sesama. Ini mencerminkan semangat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap orang-orang yang membutuhkan. Keutamaan-keutamaan ini menjadikan bulan Muharram sebagai waktu yang istimewa dalam kehidupan umat Muslim, di mana mereka meningkatkan ibadah, merenungkan sejarah Islam, dan memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT serta dengan sesama.

Info

Muharram 1447 H : Momentum Hijrah Menuju Kebaikan

Kamis, 26 Juni 2025/29 Dzulhijjah 1446 H Dibuat oleh : Admin Tanggal 1 Muharram 1447 H yang jatuh pada hari  Jumat, 27 Juni 2025, menandai awal tahun baru dalam kalender Islam. Lebih dari sekadar pergantian waktu, bulan Muharram adalah momen spiritual yang mengingatkan kita pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Hijrah tersebut bukan hanya perpindahan fisik, tetapi juga transformasi spiritual dan sosial yang mendalam. Telah kita ketahui Bersama bahwasannya makna Hijrah adalah suatu perubahan enuju Kebaikan. Hijrah mengajarkan kita bahwa perubahan adalah bagian dari perjalanan hidup. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju kesadaran, dan dari keputusasaan menuju harapan. Sehingga bulan Muharram dapat kita jadikan sebagai waktu yang tepat untuk merenungkan langkah-langkah kita selama ini dan menetapkan niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik dikemudian hari. Bulan Muharram, yang juga disebut sebagai Syahrullah atau Bulan Allah, adalah salah satu dari empat bulan haram (suci) yang dimuliakan oleh Allah SWT. Dalam menyambut tahun baru Islam, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan berbagai amalan kebaikan, seperti : Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun Memohon ampunan atas kesalahan di tahun lalu dan memohon perlindungan serta keberkahan untuk tahun yang akan datang. Berpuasa Sunnah Memperbanyak puasa sunah, terutama pada hari Asyura (10 Muharram), yang memiliki keutamaan besar. Bersedekah dan Menyantuni Anak Yatim Menunjukkan kepedulian sosial kita dengan membantu sesama, terutama kepada anak-anak yatim. Introspeksi Diri dan Berhijrah Untuk Menjadi Lebih Baik Melakukan muhasabah atau evaluasi diri untuk memperbaiki akhlak dan meningkatkan keimanan. Membaca Al-Qur’an dan Memperbanyak Dzikir Momentum ini dapat kita jadikan sebagai motivasi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah-ibadah yang mendalam. Tahun baru Islam adalah waktu yang tepat untuk memperbarui niat dan tekad dalam menjalani kehidupan. Mari kita jadikan 1 Muharram tahun ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dengan semangat hijrah, kita dapat meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan amal saleh yang diridhai oleh  Allah SWT. Mari kita jadikan Muharram sebagai momentum untuk berhijrah menuju kehidupan yang lebih baik, baik di dunia maupun di akhirat.    

Info

Antara Syawal Dan Fenomena Balik Ke Asal

  Dibuat oleh: Admin 22 April 2025 / 23 Syawal 1446 H Ramadhan telah berlalu. Gemuruh takbir telah mereda. Hidangan khas lebaran telah dinikmati, dan suasana Idul Fitri pun berangsur menjadi kenangan. Namun, di balik semua euforia Syawal, ada satu fenomena yang patut kita renungi bersama: fenomena “balik ke asal.” Selama sebulan penuh, umat Islam ditempa dalam disiplin spiritual. Kita bangun lebih awal untuk sahur, menahan lapar dan dahaga, menjaga lisan, menahan amarah, bahkan mengurangi aktivitas duniawi demi memperbanyak ibadah. Banyak dari kita yang tiba-tiba rajin tadarus, shalat malam, dan bersedekah. Ramadhan bagaikan madrasah kehidupan yang menuntun kita kembali ke fitrah: suci, taat, dan bertakwa. Namun, sayangnya  Tidak sedikit dari kita yang setelah Ramadhan justru kembali ke kebiasaan lama—meninggalkan shalat berjamaah, lalai membaca Al-Qur’an, kembali berkata kasar, bahkan membiarkan hawa nafsu kembali mengendalikan diri. Seolah-olah semangat ibadah yang begitu tinggi selama Ramadhan hanyalah “musiman.” Inilah yang disebut fenomena “balik ke asal.” Bukan kembali ke fitrah, tapi kembali ke titik sebelum Ramadhan, seolah-olah Ramadhan tak pernah mengubah apa-apa. Lalu mengapa fenomena ini biasa terjadi ? mari kita ulas Bersama dalam artikel kali ini. Ibadah yang berbasis momen, bukan kesadaran Banyak yang menjalani ibadah di Ramadhan karena suasana atau “efek keramaian,” bukan karena kesadaran pribadi yang mendalam. Kurangnya evaluasi diri Setelah Ramadhan, kita jarang merenung: “Apa yang berubah dalam diriku?” Padahal evaluasi pasca-Ramadhan sangat penting untuk menjaga konsistensi. Belum menjadikan ketaqwaan sebagai gaya hidup Ramadhan seharusnya menjadi titik awal pembentukan pribadi muttaqin (bertakwa), bukan hanya momen spiritual sesaat. Lalu apa yang bisa lakukan dalam menyikapi hal tersebut? Penulis memiliki opini dalam bagaimana cara kita menyikapi fenomena ini dengan beberapa cara seperti : Menjadikan bulan Syawal sebagai sebuah awal baru Dengan memanfaatkan Ramadhan sebagai pondasi dalam membangun kebiasaan ibadah yang berkelanjutan, bukan hanya dilakukan selama 30 hari saja. Memiliki target ibadah pasca Ramadhan Seperti tetap melaksanakan sholat malam, tadarus rutin dan segala amalan yang telah dilakukan di bulan Ramadhan Mengawali bulan Syawal dengan berpuasa sunnah Rasulullah SAW menganjurkan kita sebagai umatnya untuk berpuasa selama 6 hari di bulan Syawal. Selain mendapat pahala yang besar, berpuasa di bulan Syawal menjadi sebuah cara yang optimal dalam menjaga semangat beribadah kita setelah melewati bulan Ramadhan. Berkumpul dengan orang soleh Karena dapat membantu kita dalam menjaga semangat kita dalam beribadah kepada Allah Wallahu a’lam bishshowwab.