Pundi Surga

Info

Info

Keutamaan Bulan Muharram

Dibuat oleh : Administrator Senin, 8 Juli 2024 / 2 Muharram 1446 H Setelah kita melalui musim ibadah Haji dan menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha pada bulan Dzulhijjah, tidak terasa bahwa sekarang kita telah memasuki bulan Muharram. Bulan  Muharram adalah bulan pembuka (tahun baru) dalam kalender hijriyah, bulan Muharram memiliki kemuliaan dipandangan Allah SWT. Dalam bulan Muharram terdapat keutamaan-keutamaan serta sejarah yang penting dalam perjalanan umat islam. Bulan Muharram berasal dari kata haram (حرم) yang artinya suci atau terlarang. Dinamakan Muharram, karena pada  zaman dahulu, pada bulan ini dilarang berperang dan membunuh. Larangan itu terus berlaku hingga masa Islam. Bahkan bulan Muharram termasuk salah satu bulan haram, sebagaimana telah menjadi kesepakatan diantara kaum muslimin pada zaman khalifah yang mendapat petunjuk Umar bin Khathab semoga Allah meridhoinya,  bulan Muharram adalah salah satu bulan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab-Nya, Allah Ta’ala  berfirman: قال الله تعالى:  إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ … [التوبة: 36] “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. [at-Taubah/9: 36]. Bulan Muharram juga dikenal sebagai “syahrullah” atau “bulan Allah”. Pada bulan ini umat islam yang melakukan haji telah menyelesaikan semua tuntunanya, pada bulan Muharram juga awal kemunculan tekad kaum muslimin untuk melakukan hijrah ke Madinah setelah baiat aqabah II. Puasa yang dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa terbaik setelah puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan, seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW : عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  :  أفضلُ الصيامِ بعدَ رمضانَ شهرُ اللهِ المحرَّمُ, وأفضلُ الصلاةِ بعدَ الفريضةِ صلاةُ الليل ) وفي رواية: ( الصلاة في جوف الليل – أخرجه مسلم Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan (Allah) Muharam, dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam“. Dan pada riwayat yang lain beliau mengatakan: “Sholat yang di kerjakan pada pertengahan malam“. HR Muslim, umat Islam  dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharam (puasa tasu’a) dan 11 Muharam. Inilah yang menjadi pembeda antara umat Islam dengan umat Yahudi, yang mana mereka (umat yahudi) hanya berpuasa di hari Asyura. Selain itu, keutamaan yang ada pada bulan Muharram terdapat pada dilipat gandakannya pahala dari amalan amalan baik yang dilakukan setiap umat muslim. Namun yang perlu kita pahami bersama bahwa dosa juga dicatat dengan perhitungan yang sama (dilipat gandakan). Dan firman Allah Ta’ala: “Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. Artinya yaitu didalam bulan Muharam, dikarenakan lebih keras dan kuat penegasanya akan larangan dalam melakukan dosa dibanding dengan bulan-bulan yang lainya. Abu Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya berbuat dholim pada bulan Muharam lebih besar dosanya di banding dengan kedholiman yang dikerjakan pada bulan lainya, walaupun perbuatan dholim yang di kerjakan pada selain bulan itu tetap besar dosanya, akan tetapi Allah Ta’ala mengagungkan dari urusan-Nya sesuai yang dikehendaki-Nya.” Setelah kita memahami anjuran-anjuran yang disampaikan oleh junjungan kita Rasulullah SAW, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan serta selalu mengharap ridho Allah SWT pada bulan Muharram yang mulia ini. Semoga kita dimasukkan kedalam golongan orang-orang mukmin dan termasuk kedalam umat Rasulullah SAW.       (Referensi : https://almanhaj.or.id/84659)

Info

Memahami Segala Bentuk Rezeki Yang Telah Allah Berikan

Dibuat oleh : Administrator Rabu, 3 Juli 2024 / 26 Dzulhijjah 1445  H Dalam pandangan Islam, rezeki adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada setiap hamba-Nya secara proporsional sesuai dengan firman Allah dalam QS.Hud ayat 6 yang berbunyi : وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya.” (QS. Hud: 6). Tidak ada yang namanya rezeki yang sempurna atau rezeki yang kurang, karena setiap rezeki yang kita terima adalah rezeki yang terbaik dari Allah SWT untuk kita, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893). Maka dari itu bisa kita pahami bersama bahwa rezeki bukan hanya materi semata seperti uang atau harta benda, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan lainnya seperti kesehatan, ilmu pengetahuan, kebahagiaan, dan ketenangan hati2. Jadi, kita sebaiknya bersyukur atas apa pun yang Allah berikan kepada kita, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Setelah kita kita pahami bersama apa itu rezeki, mari kita bersama sama mempelajari konsep rezeki yang Allah berikan kepada hambanya. Dalam pembagian  rezeki, Allah SWT  memberikan rezeki terbagi menjadi dua bentuk yakni rezeki yang sifatnya umum (الرزق العم) dan rezeki yang sifatnya khusus (الرزق الخاص). Rezeki yang bersifat umum (الرزق العم) Ini mencakup segala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan, seperti harta, rumah, kendaraan, dan kesehatan. Rezeki ini dapat berasal dari yang halal maupun haram, dan Allah memberikannya kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang kafir. Rezeki yang bersifat khusus (الرزق الخاص) Ini melibatkan bentuk-bentuk rezeki yang lebih spesifik, seperti ilmu, akhlak, kecantikan, pangkat, dan lain sebagainya. Rezeki ini juga dapat berupa harta, tetapi memiliki dimensi yang lebih mendalam, terkait dengan ketakwaan dan keberkahan. Lalu mengapa Rezeki yang Allah berikan berbeda beda kepada setiap individu? Ada beberapa alasan mengapa Allah berbeda dalam membagi rezekinya Tujuan Ujian dan Cobaan: Rezeki adalah bagian dari ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada kita. Perbedaan rezeki memungkinkan kita mengalami berbagai situasi dan menguji ketakwaan serta kesyukuran kita, dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ “Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat.” (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Rezeki Halal dan Haram: Rezeki haram (yang diperoleh dengan cara yang tidak halal) memiliki manfaat yang tidak bertahan lama. Sedangkan rezeki yang halal, meskipun terlihat sedikit, memiliki keberkahan yang berkelanjutan. Dalam riwayat Saad bin Abi Waqqash mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ “Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah, dengan mengharap Wajah Allah (ikhlas), kecuali engkau akan diberi pahala karenanya. Sekalipun nafkah itu (hanya berupa) sesuap (makanan) yang kau suapkan pada istrimu.” (H.R al-Bukhari). Bentuk Rezeki yang Luas: Rezeki bukan hanya tentang uang semata. namun Ilmu, akhlak, kecantikan, pangkat, dan kesehatan juga termasuk dalam kategori rezeki yang Allah berikan. Ketidakterbatasan Rezeki dari Allah sehingga terkadang, rezeki yang kita terima jumlahnya jauh lebih besar daripada yang kita usahakan. Perlu kita ingat kebali bahwa rezeki adalah suatu anugrah yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, marilah kita bersama sama selalu bersyukur atas apapun yang Allah berikan kepada diri kita, baik dalam bentuk materi berupa uang dan harta benda maupun bentuk non materi berupa kesehatan,ketakwaan kepadanya.

Info

Bahayanya Terlalu Mencintai Harta

Dibuat oleh: Administrator Senin,1 Juli 2024 / 24 Dzulhijjah 1445 H Rasa cinta kepada harta dunia adalah suatu perasaan yang cenderung dimiliki banyak orang, sangat banyak kisah yang telah disampaikan tentang orang-orang terdahulu seperti kisah Qarun yang mana harta mampu membuatnya sombong kepada Allah. Allah SWT telah melimpahkan kekayaan padanya bukan sebagai suatu berkah akan tetapi limpahan harta yang Allah berikan adalah istidraj sehingga Qarun makin tenggelam dengan keingkarannya kepada Allah. Kekayaan yang Allah limpahkan kepada Qarun tidaklah sedikit, bahkan dalam kisahnya disebutkan bahwa tumpukan kunci gudang yang ia gunakan untuk menyimpan hartanya tidaklah mampu diangkat oleh orang-orang kuat sekalipun,sehingga bisa kita bayangkan bersama seberapa banyak harta yang dimiliki Qarun sehingga dia bisa menjadi seorang yang sombong dan angkuh kepada Allah. Dalam hal ini, istidraj bagi Qarun adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki, yang diberi dalam keadaan terus menerus meski ingkar kepada Allah SWT. Hal itu tergambar dalam hadis riwayat Uqbah bin Amir bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari [perkara] dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan] dari Allah),” (H.R. Ahmad). Kisah Qarun yang melampaui batas ini diabadikan dalam Al-Quran yang berbunyi “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ingatlah ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri,” (QS. Al-Qasas [28]: 76). Peringatan keras yang telah Allah sampaikan kepada manusia atas harta dunia terdapat dalam surat Al Munafiqun ayat 9 yang berbunyi : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ Artinya “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi ”. Rasulullah SAW juga berpesan, “ diantara keturunan Adam (manusia) ada yang berkata “ Hartaku adalah hartaku”. Padahal sesungguhnya kalian tidak memiliki sedikitpun bagian dari harta itu, kecuali yang telah kalian sedekahkan, sehingga menjadi kekal nilai pahalanya. Juga kalian makan sampai habis dan yang kalian pakai hingga usang.” Lalu ada seorang sahabat bertanya, “ wahai Rasulullah, kenapa aku merasa tidak menyukai mati.” Beliau balik bertanya “ Apakah lantaran engkau memiliki banyak harta?” sahabat menjawab “ Benar “ Rasulullah menyarankan padanya “ Nafkahkanlah hartamu, karena hati orang mukmin itu beserta harta yang dinafkahkannya (dijalan Allah). Dimana apabila hartanya itu dinafkahkan, makan ia pasti selalu menyertainya. Dan jika ditinggalkan, maka ia hanya ingin tinggal sementara bersamanya.” Yang perlu kita ketahui bersama bahwa harta juga memiliki sifat terpuji karena dalam beberapa firmanya Allah menyebutkan harta dengan menggunakan kata Khairan (kebaikan). Sebagaimana Allah berfirman : اِنْ تَرَكَ خَيْرًاۖ ࣙالْوَصِيَّةُ “ Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah” Diperkuat dengan statemen Rasulullah “ Sebaik baiknya harta yang halal ialah milik orang-orang sholeh.” Sesungguhnya apa yang dituju oleh orang-orang yang bijak adalah kebahagiaan yang abadi dan harta adalah salah satu sarana untuk mencapai kebahagiaan abadi tersebut. Perumpamaan harta ialah seperti ular yang mengandung racun sekaligus obat penawar. Diantara manfaatnya seperti obat penawar, sedsngkan bahaya yang dikandungnya seperti racun, maka barangsiapa mengetahui lalu bisa menghindar dari racunya dan memanfaatkan obat penawarnya, maka ditangannya harta menjadi terpuji. Lalu bagaimana sikap kita apabila menyaksikan seseorang yang memiliki kelebihan harta? Kita juga tidak diperkenankan untuk menyimpan rasa iri dengki kepada orang yang memiliki harta yang berlebih karena dengan keadaan yang sedang kita alami sekarang akan menjadi terpuji apabila kita tidak bersikap dengki terhadap milik orang lain (saudaranya), semua itu tidak akan terwujud kecuali jika kita melazimkan sifat qanaah (menerima bagian dengan ikhlas) sesuai dengan kadar yang kita butuhkan. Seperti makan,minum dan pakaian. Sehingga merasa cukup atas jumlah yang paling sedikit dan rendah sekalipun. Rasulullah SAW bersabda إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ “Sesungguhnya malaikat Jibril, telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa jiwa manusia tidak akan mati sebelum dipenuhi rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah permintaanmu. (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Semoga kita selalu terbiasa dalam menyikapi sifat qana ah dan menghindari rasa iri dengki kepada sesama yang dapat menyebabkan penyakit hati sehingga kita termasuk dalam golongan orang orang mukmin. Wallahua lam.  

Info

Zakat Dalam Pembangunan Nasional

Dibuat oleh: Adminintrator Rabu, 26 Juni 2024 / 19 Dzulhijjah 1445 H   Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional. Kewajiban bagi umat Islam yang mampu ini, selain membantu mereka yang membutuhkan, juga dapat menjadi sumber pendanaan signifikan untuk program sosial dan ekonomi. Potensi Zakat untuk Pemberdayaan Ekonomi Menurut Indikator Pemetaan Potensi Zakat (IPPZ) per tahun 2020, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp327,6 Triliun. Angka ini menunjukkan besarnya potensi zakat untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional. Zakat dapat menjadi instrumen strategis dalam pengentasan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pendistribusian zakat yang tepat dan efektif dapat membantu usaha mikro dan kecil, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Upaya Memaksimalkan Potensi Zakat Meskipun potensinya besar, realisasi penghimpunan zakat di Indonesia masih rendah. Pada tahun 2021, zakat yang berhasil dikumpulkan hanya sebesar Rp14 triliun, atau sekitar 8,9% dari potensi total. Untuk memaksimalkan potensi zakat, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk: Peningkatan literasi zakat: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kewajiban dan manfaat zakat. Penguatan kelembagaan: Memperkuat peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dalam pengelolaan zakat yang profesional, transparan, dan akuntabel. Pengembangan sistem pengelolaan zakat yang modern: Memanfaatkan teknologi informasi untuk memudahkan penyaluran dan pendataan zakat. Peningkatan kerjasama: Meningkatkan kerjasama antara BAZNAS, LAZ, pemerintah, dan sektor swasta dalam program pemberdayaan masyarakat melalui zakat. Peran Strategis Zakat dalam Pembangunan Nasional Zakat memiliki peran strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional, yaitu: Pengentasan kemiskinan: Zakat dapat membantu masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan taraf hidup. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat: Zakat dapat digunakan untuk membiayai program pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang bermanfaat bagi masyarakat. Mewujudkan keadilan sosial: Zakat dapat membantu menjembatani kesenjangan ekonomi dan sosial antar kelompok masyarakat. Memperkuat nilai-nilai agama: Zakat dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai agama dan moral bangsa. Kesimpulan Zakat memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen penting dalam pembangunan nasional. Dengan pengelolaan yang efektif dan akuntabel, zakat dapat berkontribusi signifikan dalam pengentasan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mewujudkan keadilan sosial. Referensi: https://kemenag.go.id/nasional/potensi-zakat-nasional-mencapai-rp-100-triliun-gf0136 https://www.bappenas.go.id/tags-berita/443 https://baznas.go.id/  

Info

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dalam Islam

  Dibuat oleh : Administrator Selasa, 25 Juni 2024 / 18 Dzulhijjah 1445 H   Anjuran menyantuni anak yatim sangat ditekankan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, tak heran apabila anak yatim memiliki kedudukan yang sangat istimewa di mata Islam. Ada beragam keutamaan apabila kita menyantuni anak yatim. Allah SWT tidak hanya menjanjikan surga bagi orang-orang yang ikhlas dan tulus merawat dan menyayangi anak yatim. Tapi juga berbagai pahala lainnya yang akan diberikan kepada orang-orang tersebut, baik selama hidup di bumi maupun ketika sudah berada di akhirat. Anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati oleh ayahnya saat masih kecil atau belum memasuki usia baligh. Anak yatim yang kurang mampu memiliki kedudukan yang utama dan menjadi prioritas dalam menerima santunan, zakat, infaq, dan shodaqoh. Mereka sangat dimuliakan oleh Allah SWT hingga disebut sebanyak 23 kali di dalam Al-Quran. Melalui Al-Qur’an Allah SWT secara tegas mengatakan bahwa anak yatim adalah sosok yang harus dikasihi, dipelihara dan diperhatikan seperti yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 220: “Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,”. Berikut adalah beberapa keutamaan menyantuni anak yatim yang perlu kita ketahui: Meraih Peluang Menjadi Teman Rasulullah SAW di Surga Dalam hadis, disebutkan bahwa orang yang mengasihani dan merawat anak yatim akan memiliki kedudukan dekat dengan Rasulullah SAW di surga. Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً “ “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. Pengasuh Anak Yatim Mendapat Pahala Seperti Berjihad Orang yang mengasuh anak yatim dengan tulus akan mendapatkan balasan Pahala setara dengan pahala orang yang pergi berjihad dijalan Allah SWT. Rasulullah SAW juga menjelaskan di saat seseorang menyantuni anak yatim, maka orang tersebut sama seperti bangun di malam hari dan berpuasa di siang hari yang kemudian dilanjutkan pergi di pagi dan sore hari untuk jihad di jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. Mendapat Predikat Abror (Saleh atau Taat Kepada Allah) Menyantuni anak yatim termasuk golongan orang yang taat kepada Allah. Telah kita ketauhi bersama bahwasanya orang yang suka menghardik anak yatim dimasukkan kedalam golongan para pendusta. Begitupun sebaliknya, Bahwa orang-orang yang sangat mengasihi dan memberikan santunan kepada anak-anak yatim akan masuk dalam golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah: 177 “Dan memberikan harya yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” Menghindarkan Siksa Di Akhirat Orang yang menyayangi anak yatim akan kelak oleh Allah akan diselamatkan dari siksanya di akhirat kelak seperti sabda Rasulullah SAW : “Demi yang mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya.” [HR Thabrani dari Abu Hurairah] Investasi Amal untuk Akhirat Menyantuni anak yatim dapat menjadi pahala jariyah yang terus mengalir setelah kita meninggal dunia. Keutamaan menyantuni anak yatim berikutnya akan dijamin dengan surga kelak di akhirat. “ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ ضَمَّ يَتِيمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ “ Artinya: Dari Malik bin Harits salah seorang dari mereka bahwa ia mendengar Rasulullah Shallalahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjamin kehidupan seorang yatim yang ditinggal orang tuanya muslim, dengan memberinya makan dan minum hingga ia mandiri, maka wajib baginya surga.” (HR. Ahmad) [ No. 19442] Ingatlah bahwa mengasuh anak yatim bukanlah amalan yang mudah, tetapi pahalanya sangat besar. Semoga kita semua dapat berbuat baik kepada mereka dan meraih keberkahan.

Info

Makna Mendalam di Balik Telah Lewatnya Idul Adha : Refleksi dan Introspeksi Diri

Dibuat oleh: Administrator Senin, 24 Juni 2024 / 17 Dzulhijjah 1445 H Idul Adha, momen penuh makna dan pengorbanan, telah berlalu meninggalkan kenangan indah dan hikmah mendalam. Bagi umat Islam, Idul Adha bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen refleksi dan introspeksi diri. Merenungkan Makna Pengorbanan Idul Adha identik dengan kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS, yang dihadapkan pada ujian terberat: mengorbankan Ismail sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya yang tercinta menjadi bukti nyata keimanan dan ketaatannya yang luar biasa. Kisah ini mengingatkan kita tentang arti pengorbanan yang sesungguhnya. Pengorbanan bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang keikhlasan, ketaatan, dan komitmen untuk selalu patuh kepada Allah SWT, bahkan saat dihadapkan pada situasi yang berat. Meneladani Keikhlasan dan Kepedulian Idul Adha juga merupakan momen untuk meneladani keikhlasan Nabi Ismail AS yang rela dikorbankan demi ketaatannya kepada Allah SWT. Keikhlasan Ismail AS menunjukkan bahwa cinta dan ketaatan kepada Allah SWT jauh lebih besar daripada cintanya kepada diri sendiri dan orang lain. Semangat pengorbanan dan kepedulian juga terlihat dalam penyembelihan hewan kurban. Daging kurban tidak hanya dinikmati oleh yang berkurban, tetapi juga dibagikan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa. Hal ini merupakan wujud kepedulian terhadap sesama dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Introspeksi Diri dan Memperkuat Keimanan Kini, Idul Adha telah berlalu, namun hikmahnya tidak boleh pudar. Mari jadikan momen ini sebagai refleksi diri untuk introspeksi dan memperkuat keimanan. * Apakah kita sudah memiliki keikhlasan dan ketaatan seperti Nabi Ibrahim AS? * Apakah kita sudah siap berkorban demi kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT * Sudahkah kita menunjukkan kepedulian terhadap sesama, seperti yang diajarkan dalam penyembelihan hewan kurban? Meskipun Idul Adha telah berlalu, mari jadikan hikmahnya sebagai pedoman hidup. Perkuat keimanan dan ketakwaan, perbanyak amal shaleh, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-Nya yang selalu patuh dan taat, serta senantiasa peduli terhadap sesama. Allahua’lam bishshowwab.  

Info

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

  Dibuat oleh: administrator Kamis, 13 Juni 2024 / 6 Dzulhijjah 1445 H Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Bulan ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Rasulullah menyebutkan dalam haditsnya yang berbunyi : إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان “Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya ). 3 bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram, (dan yang terakhir ) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari). Ada beberapa keistimewaan didalam bulan Dzulhijjah, semoga setelah memahami apa saja keistimewaan-keistimewaan yang ada dalam bulan Dzulhijjah mampu membuat kita semakin dekat dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Beberapa keutamaan bulan Dzulhijjah yang perlu kita ketahui diantaranya: Salah Satu dari Empat Bulan Haram: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa ada empat bulan haram, yaitu bulan-bulan yang di dalamnya dilarang berperang dan melakukan kezaliman. Dzulhijjah adalah salah satu dari bulan-bulan tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Qs.At taubah ayat 36 yang berarti “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”. 10 Hari Pertama di bulan Dzulhijjah adalah Hari-Hari Terbaik Sepanjang Tahun: Allah bersumpah dengan fajar dan sepuluh malam dalam Surat Al-Fajr, yang para ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini adalah waktu untuk meningkatkan amalan dan ketaatan karena pahalanya sangat besar. Hari Arafah: Salah satu hari dalam bulan ini adalah Hari Arafah, yang merupakan hari dimana umat Islam yang sedang berhaji akan berwukuf di Padang Arafah. Hari ini juga memiliki keutamaan tersendiri, di mana puasa pada hari ini dapat menghapuskan dosa dua tahun yakni dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Ibadah Qurban: Di bulan Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk melakukan ibadah qurban, yaitu menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah dan untuk berbagi dengan sesama. Penyempurnaan Islam: Islam disempurnakan oleh Allah pada bulan Dzulhijjah, yang menandai pentingnya bulan ini dalam sejarah Islam. Berkumpulnya Umat Islam Seluruh Dunia: Dalam bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di tanah suci Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, yang merupakan rukun Islam kelima. Dengan memahami keutamaan-keutamaan ini, kita dapat memanfaatkan bulan Dzulhijjah sebagai kesempatan emas dalam meningkatkan amalan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan dan semakin memperbanyak ibadah di bulan yang mulia ini. Wallahu a’lam.

Info

Keutamaan Berqurban

Dibuat oleh : Administrator Rabu, 12 Juni 2024 05 Dzulhijjah 1445 H Keutamaan Berqurban Berqurban adalah suatu ibadah yang dilaksanakan pada hari raya idul adha. Kata kurban berasal dari bahasa arab qarriba – yaqrabu – qurbanan wa qirbanan, yang berarti dekat. Maksud dekat disini berarti mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian dari perintahnya. Kurban menjadi bentuk ibadah dalam mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam lingkup sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir miskin dan dhuafa pada Hari Raya Idul Adha. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin. Allah berfirman : فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Hajj,). Berkurban termasuk salah satu syi’ar Islam dan termasuk bentuk ketaatan yang paling utama. Ia adalah syi’ar keikhlasan dalam beribadah kepada Allah semata, dan realisasi ketundukan kepada perintah dan larangan-Nya. Karenanya setiap muslim yang memiliki kelapangan rizki hendaknya ia berkurban. Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak diperintahkan sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan bepergian (safar), hukumnya adalah wajib. Berkurban sarat dengan hikmah dan keutamaan, hal ini didasarkan dengan beberapa hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi ) Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban, tetapi ia tidak mau berkurban, maka sesekali janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Masih banyak lagi sabda Nabi yang lainnya, menjelaskan tentang keutamaan dalam berkurban. Bahkan pada haditst terakhir, disebutkan bahwa orang yang sudah mampu berkorban, tetapi tidak mau melaksanakanya, maka ia dilarang mendekati tempat shalat Rasulullah atau tempat (majelis) kebaikan lainya. Ibadah yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik bertujuan agar kita mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga memiliki arti menghilangkan sikap egois, nafsu tamak dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan mulai memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya.

Info

Amalan Yang Dianjurkan Pada Bulan Dzulhijjah

Dibuat oleh : Administrator Senin, 10 Juni 2024 3 Dzulhijjah 1445 H Ada beberapa amalan yang bisa kita kerjakan selama bulan Dzulhijjah ini terutama di awal-awal bulannya. Dikarenakan waktu-waktu di awal bulan Dzuljijjah ini adalah waktu yang sangat mulia dan jika kita melakukan amal kebaikan maka Allah SWT akan melipatgandakan pahalanya. Beberapa amalan yang dianjurkan itu antara lain: 1. Puasa Sunnah Bulan Dzulhijjah Pada bulan Dzulhijjah terdapat beberapa puasa sunnah apabila dilakukan umat Islam akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT. Di antaranya terdapat puasa sunnah Arafah, Tarwiyah, dan Ayyamul Bidh. Puasa Arafah Puasa sunnah Arafah dianjurkan untuk diamalkan oleh kaum muslim karena memiliki keutamaan yang begitu besar. Pelaksanaannya jatuh setiap tanggal 9 Dzulhijjah tepat sehari sebelum Hari Raya Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Pahala yang akan diterima oleh umat muslim ketika menjalankan puasa Arafah dapat disimak dalam hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Abu Qatadah r.a berikut: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ Artinya: “Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyura (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). Puasa Tarwiyah Puasa Tarwiyah biasa dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah, sehari sebelum pelaksanaan puasa Arafah. Puasa Tarwiyah sangat dianjurkan untuk diamalkan bagi umat Islam karena memiliki keutamaan yang sangat berharga. Hal tersebut tercantum dalam sebuah hadits riwayat sebagai berikut: صوم يوم التروية كفارة سنة وصوم يوم عرفة كفارة سنتين Artinya: “Puasa hari Tarwiyah dapat menghapus dosa setahun. Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa dua tahun.” (HR Abus Syekh Al-Ishfahani dan Ibnun Najar). 2. Perbanyak Bertakbir dan Berdzikir Memperbanyak berdzikir dan bertakbir pada bulan Dzulhijjah termasuk bertahlil, bertasbih, beristighfar, bertahmid, dan memperbanyak doa merupakan amalan yang sangat dianjurkan pada bulan ini. 3. Menunaikan Ibadah Haji Ibadah haji merupakan rukun islam yang kelima dan wajib dilaksanakan bagi setiap muslim yang telah mampu secara ekonomi dan syariat Islam. Ibadah haji dilakukan setiap bulan Dzulhijjah, puncaknya pada pelaksanaan rukun wukuf di padang Arafah pada 9 Dzulhijjah. Ibadah haji telah diisyaratkan melalui firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 196 sebagai berikut: وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِۗ فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ وَلَا تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهٗۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖٓ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْۗ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌۗ ذٰلِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ اَهْلُهٗ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِࣖ ۝١٩٦ Artinya: “Sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Akan tetapi, jika kamu terkepung (oleh musuh), (sembelihlah) hadyu yang mudah didapat dan jangan mencukur (rambut) kepalamu sebelum hadyu sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antara kamu yang sakit atau ada gangguan di kepala (lalu dia bercukur), dia wajib berfidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. Apabila kamu dalam keadaan aman, siapa yang mengerjakan umrah sebelum haji (tamatu’), dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat. Akan tetapi, jika tidak mendapatkannya, dia (wajib) berpuasa tiga hari dalam (masa) haji dan tujuh (hari) setelah kamu kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna. Ketentuan itu berlaku bagi orang yang keluarganya tidak menetap di sekitar Masjidilharam. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Mahakeras hukuman-Nya.” 4. Berkurban Hari Raya Idul Adha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban bagi umat Islam di seluruh dunia, maka tak heran jika hari ini biasa disebut sebagai Hari Raya Kurban. Para Jumhur ulama menafsirkan ayat tersebut dengan “Berkurbanlah pada hari Idul Adha (yaum an-Nahr). Udhiyah merupakan bentuk rasa cinta dan ketaqwaan seorang muslim kepada Allah”. Keutamaan berkurban telah disebutkan Allah SWT melalui firman-Nya dalam Surat Al-Hajj, ayat 37 sebagai berikut: لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ ۝٣٧ Artinya: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” 5. Bertaubat atau Tidak Bermaksiat Bagi umat Islam, perintah bertaubat dan tidak bermaksiat merupakan sesuatu yang wajib dilakukan karena hal tersebut merupakan perintah dari Allah SWT. Di momen bulan Dzulhijjah yang sangat mulia, akan lebih baik jika kaum muslim memanfaatkannya dengan cara bertaubat dan menjauhi segala perbuatan tercela. Allah SWT berfirman melalui Al-Quran, Surat An-Nahl ayat 119 sebagai berikut: ثُمَّ اِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِيْنَ عَمِلُوا السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوْا مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ وَاَصْلَحُوْٓا اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌࣖ ۝١١٩ Artinya: “Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) orang-orang yang melakukan keburukan karena kebodohan (tidak menyadari akibatnya), lalu bertobat dan memperbaiki (dirinya). Sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Demikian beberapa amalan yang dianjurkan dikerjakan di Bulan Dzulhijjah. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan dan kemampuan kepada kita untuk beribadah semaksimal mungkin di Bulan Dzulhijjah ini. Allahu a’lam bishshowwab.

Info

Bolehkah Patungan Kurban?

Disusun oleh: tim admin 4 Juni 2024 / 27 Dzulqo’dah 1445 H BOLEH GAK SIH PATUNGAN QURBAN?   Kurban adalah suatu ibadah individu yang dijalankan oleh umat Islam untuk merayakan Hari Raya Idul Adha yang jatuh setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Ibadah ini dilakukan dengan cara menyembelih hewan kurban yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di kalangan masyarakat masih banyak pertanyaan tentang pentingnya kurban, dan apakah boleh patungan kurban agar bisa merasakan ibadah kurban bersama-sama? Pekurban boleh patungan atau berkongsi dalam 1 unta atau 1 sapi, hal ini berdasarkan riwayat Jabir RA melalui Abu Zaubar: “Kami menyembelih hewan bersama Rasulullah pada hari Hudaibiyah 1 Unta untuk 7 orang dan 1 Sapi untuk 7 orang” (HR Muslim 1318) Lantas bagaimana patungan untuk hewan kambing atau domba? Jawabannya tidak sah berkongsi atau patungan untuk hewan kambing sebagai kurban menurut Ibnu Rusyd di dalam kitab Bidayatul Mujtahid, 2006:356. Kecuali jika 1 orang berkurban dengan 1 kambing yang ia beli sendiri dengan hartanya, lalu dia niatkan untuk dirinya dan keluarganya menurut Riwayat Imam Malik hal ini itu tetap sah. Wallahu’alam