Menjaga Lisan di Era Media Sosial: Nasihat dari Hadits


Jum’at, 15 Agustus 2025 / 21 Shafar 1447 H
Dibuat oleh: Admin 

Di zaman Rasulullah ﷺ, lisan adalah alat utama untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Hari ini, “lisan” kita juga hadir dalam bentuk jari yang mengetik di layar ponsel. Apa yang dulu keluar dari mulut, kini mudah sekali keluar melalui status, komentar, atau pesan singkat. Namun, hukum dan tanggung jawabnya tetap sama di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi pengingat bahwa setiap kata—baik diucapkan maupun ditulis—akan dimintai pertanggungjawaban. Fitnah, ghibah, atau ucapan yang menyakiti hati orang lain dapat tersebar luas hanya dengan sekali tekan tombol “kirim”.

Dalam era media sosial, menjaga lisan berarti:

  1. Memastikan kebenaran informasi sebelum membagikannya (QS. Al-Hujurat: 6).
  2. Menghindari komentar kasar walau kita merasa benar.
  3. Mengutamakan ucapan yang bermanfaat, yang mendatangkan pahala, bukan dosa.

Mari jadikan setiap postingan, komentar, atau pesan sebagai ladang pahala, bukan sumber penyesalan. Karena di hadapan Allah, jari kita pun bisa menjadi saksi atas apa yang pernah kita tulis.

Di era digital seperti saat ini, setiap kata yang kita tulis bisa menjangkau ribuan orang dalam hitungan detik. Maka, menjaga lisan di media sosial bukan hanya soal etika, tapi juga ibadah yang bernilai tinggi. Jadikan setiap ucapan—baik yang keluar dari mulut maupun dari jari—sebagai cermin hati yang bersih. Sebab, ucapan yang baik adalah sedekah, dan diam dari keburukan adalah penjaga keselamatan diri. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk berkata benar dan menebar kebaikan di setiap ruang, termasuk dunia maya.