Pundi Surga

Info

Info

Keutamaan Sedekah di Awal Waktu

Dibuat oleh : Admin Senin, 1 Desember 2025 / 10 Jumadil Akhir 1447 H Sedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena ia menjadi jalan pembuka rezeki, penolak bala, sekaligus bukti syukur seorang hamba kepada Allah. Namun, di antara banyak bentuk kebaikan, bersedekah di awal waktu memiliki kedudukan yang lebih istimewa. Pertama, sedekah di awal waktu menunjukkan ketergesa-gesaan hati menuju kebaikan. Allah memuji orang-orang yang “bersegera dalam kebaikan” sebagai ciri hamba beriman. Ketika seseorang mengeluarkan sedekah di awal—baik awal hari, awal bulan, maupun awal gajian—itu tanda bahwa kebaikan menjadi prioritas, bukan sisa dari kesibukannya. Kedua, sedekah di awal waktu menjadi pembuka keberkahan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap awal pagi, dua malaikat turun. Salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang bersedekah.’” (HR. Bukhari & Muslim). Ini menunjukkan bahwa memulai hari dengan sedekah berarti memulai hari dengan doa malaikat yang mengiringi langkah kita. Ketiga, sedekah di awal waktu dapat menjadi penjaga dari marabahaya. Banyak ulama menekankan bahwa sedekah yang dilakukan segera, tanpa menunda, berpotensi menjadi sebab Allah menjaga seorang hamba dari kesulitan yang belum terjadi. Terakhir, sedekah di awal waktu melatih kita untuk tidak menunda kebaikan. Hati yang baik adalah hati yang cepat dalam taat. Ketika sedekah menjadi amalan pertama, maka insyaAllah amalan lainnya ikut terbawa ringan. Maka, mulai hari ini, mari jadikan sedekah di awal waktu sebagai kebiasaan. Niatkan untuk membersihkan rezeki, menjemput keberkahan, dan mendekatkan diri pada Allah. Sedikit atau banyak, yang penting ikhlas dan disegerakan. Semoga Allah membuka pintu-pintu kebaikan bagi kita semua.

Info

Keutamaan Membantu Saudara Yang Sedang Tertimpa Musibah

Dibuat oleh: Admin Kamis,  27 November 2025 / 6 Jumadil Akhir 2025 Musibah bukan hanya ujian bagi yang mengalaminya, tetapi juga ujian bagi kita—apakah hati kita tergerak untuk peduli. Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Māidah: 2) Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim) Dan beliau mengibaratkan kaum beriman sebagai satu tubuh: “Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan.” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka setiap bantuan—doa, tenaga, kepedulian, atau sedekah—menjadi bukti iman, wujud syukur, dan sebab datangnya pertolongan Allah. Ya Allah, ringankan penderitaan saudara-saudara kami yang tertimpa musibah. Kuatkan iman mereka, sembuhkan luka mereka, jaga keluarga mereka, dan gantikan duka dengan rahmat-Mu. Jadikan kami hamba yang peka, dermawan, dan cepat menolong. Aamiin Musibah bisa menimpa siapa saja, kapan saja. Hari ini mereka yang diuji, esok bisa jadi kita. Maka jadilah bagian dari tangan-tangan yang meringankan, bukan yang berpangku diam.

Info

Perbedaan Riba dan Bagi Hasil

Dibuat oleh : Admin Senin, 24 November 2025 / 3 Jumadil akhir 1447 H Dalam kajian ekonomi Islam, terdapat tiga istilah penting yang sering di bahas : riba,jual beli, dan bagi hasil. Ketiganya berkaitan dengan aktivitas transaksi, namun memiliki hokum, mekanisme, serta filosofi yang berbeda. Memahami perbedaan ini sangat penting agar kegiatan ekonomi berjalan sesuai prinsip Syariah dan terhindar dari unsur-unsur yang dilarang. Riba Riba adalah tambahan atau kelebihan yang disyaratkan dalam transaksi pinjam meminjam atau pertukaran barang tanpa ada imbalan yang dibenarkan oleh syariat. Riba termasuk perbuatan yang diharamkan dalam islam karena dianggap zalim dan merugikan salah satu pihak seperti seseorang meminjam Rp 1.000.000 dan wajib mengembalikannya sebanyak Rp.1.300.000. Riba dilarang karena dapat menyebabkan ketidakadilan,memicu eksploitasi phak yang lemah. Allah juga berfirman dalam QS. Al Baqarah : 275: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” Bagi Hasil Bagi hasil adalah system kerjasama usaha antara pihak pemilik modal dan pengelola usaha untuk mendapatkan keuntungan sesuai nisbah yang disepakati di awal. Jika ada kerugian, ditanggung sesuai prinsip Syariah. Dalam praktik ekonomi Syariah, bagi hasil dikenal dalam akad seperti Mudharabah (pemilik modal dan pengelola) dan Musyarakah (kerjasama modal antar pihak). Contoh bagi hasil seperti pemilik modal menyediakan modal usaha restoran, sementara mitra sebagai pengelola restoran. Dengan keuntungan dibagi 60:40 sesuai dengan kesepakatan. Perbedaan antara riba dan bagi hasil terletak pada mekanisme transaksi, pembagian risiko dan nilai keadilan di dalamnya. Islam mengharamkan riba karena mengandung unsur pemaksaan dan eksploitasi, sementara bagi hasil diperbolehkan karena didasarkan pada persetujuan, aktivitas nyata serta prinsip keadilan. Memahami konsep ini bukan hanya sekedar ilmu, tetapi bagian dari upaya menerapkan nilai Islam dalam aktivitas ekonomi agar membawa keberkahan dan kesejahteraan bersama.

Info

Rezeki yang Berkah Atau Rezeki yang Banyak?

Dibuat oleh : Admin Selasa, 18 November 2025 / 27 Jumadil Awal 1447 H Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang mengukur kesuksesan dari seberapa banyak harta yang dimiliki. Namun dalam Islam, ukuran rezeki tidak hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi dari keberkahannya. Banyak harta belum tentu membawa ketenangan, sementara rezeki yang sedikit namun penuh berkah dapat membuat hidup lebih lapang dan hati lebih bahagia. Di sinilah pentingnya memahami perbedaan antara rezeki yang banyak dan rezeki yang berkah.  Apa Itu Rezeki yang Banyak? Rezeki yang banyak adalah harta atau nikmat yang dikaruniakan Allah dalam jumlah besar. Bisa berupa penghasilan tinggi, harta melimpah, bisnis maju, atau peluang tak terhingga. Namun, banyaknya rezeki tidak selalu menjadi jaminan kebahagiaan jika tidak diiringi keberkahan. Betapa banyak orang kaya yang tetap merasa gelisah, lelah mengejar dunia, dan tidak merasakan ketenangan meski hartanya berlimpah. Apa Itu Rezeki yang Berkah? Rezeki yang berkah adalah rezeki yang sedikit ataupun banyak, namun memberikan ketenangan, rasa cukup, dan mendekatkan seseorang kepada Allah. Rezeki ini punya efek positif pada jiwa, keluarga, dan amal. Ciri-ciri dari rezeki yang berkah antara lain : Membuat hati merasa cukup dan tidak serakah. Dipergunakan untuk kebaikan dan hal-hal yang diridai Allah. Menenangkan jiwa dan menjauhkan dari keburukan. Membawa manfaat bagi diri, keluarga, dan orang lain. Ulama mengatakan, “Keberkahan bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada manfaatnya.” Islam tidak melarang harta yang banyak, bahkan memuji orang yang kaya namun dermawan dan taat. Namun, yang ditekankan adalah keberkahan, karena itulah yang menjadi penentu nilai rezeki di sisi Allah. Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim) Rezeki yang banyak hanyalah angka. Namun rezeki yang berkah adalah rasa cukup, hati yang tenang, dan hidup yang dekat dengan Allah. Maka, alih-alih hanya mengejar banyaknya harta, marilah kita mengejar keberkahan yang membuat hidup lebih bermakna. Semoga Allah SWT menjadikan rezeki kita semua penuh berkah, bermanfaat, dan membawa kita lebih dekat kepada-Nya. Aamiin

Info

Refleksi 99 Hari Menuju Bulan Ramadhan: Sudah Siapkah Hati Menyambut Tamu Agung Itu?

Dibuat oleh : Admin Selasa, 11 November 2025 / 20 Jumadil Awal 1447 H Waktu terus berjalan, tanpa terasa kini kita berada di angka 99 hari menuju bulan Ramadhan yakni bulan yang penuh keberkahan, ampunan, dan rahmat Allah yang luar biasa. Angka ini bukan sekadar hitungan hari di kalender, tetapi pengingat bagi setiap hati yang rindu akan suasana ibadah, lantunan tilawah, dan sujud panjang di malam yang penuh ketenangan. Para ulama dan salafus shalih dahulu mempersiapkan diri enam bulan sebelum Ramadhan tiba, mereka berdoa: “Allahumma ballighna Ramadhan.” “Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” Itu menunjukkan betapa besar kerinduan mereka untuk berjumpa dengan bulan suci. Bukan hanya sekadar menunggu datangnya Ramadhan, tapi menyiapkan diri untuk layak menyambutnya. 99 Hari adalah waktu yang cukup untuk memperbaiki diri. Jika usia masih Allah panjangkan hingga Ramadhan nanti, maka 99 hari ini adalah masa pemanasan ruhani. Inilah saat terbaik untuk: Memperbanyak istighfar dan membersihkan hati dari dosa. Melatih diri dalam ibadah kecil, seperti menjaga salat tepat waktu, memperbanyak tilawah, dan membiasakan sedekah harian. Menata niat dan memperbaiki hubungan, baik dengan Allah maupun sesama manusia. Sebab, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang menahan diri dari segala keburukan dan menumbuhkan kebaikan Ramadhan bukan sekadar bulan yang datang dan pergi setiap tahun. Ia adalah tamu agung, dan kita harus mempersiapkan diri untuk menyambutnya sebaik mungkin. Mulailah hari ini, di sisa 99 hari menuju Ramadhan, dengan satu niat: “Aku ingin Ramadhan kali ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya.” Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk mempersiapkan diri, membersihkan hati, dan menjemput Ramadhan dengan penuh cinta dan harapan. Allahumma ballighna Ramadhan.

Info

Makna Pahlawan dalam Sudut Pandang Islam

Dibuat oleh : Admin Senin, 10 November 2025 / 19 Jumadil Awal 1447 H Dalam sejarah bangsa, pahlawan dikenal sebagai sosok yang berani berkorban demi tanah air, memperjuangkan kemerdekaan, dan menegakkan kebenaran. Namun, dalam pandangan Islam, makna “pahlawan” memiliki arti yang lebih luas dan mendalam — tidak hanya terbatas pada medan perang, tetapi juga dalam perjuangan menegakkan iman dan kebaikan di kehidupan sehari-hari. Dalam Islam, pahlawan adalah mereka yang berjuang di jalan Allah (jihad fi sabilillah), bukan semata-mata untuk kehormatan dunia, melainkan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Seutama-utama jihad adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah) Artinya, keberanian seorang muslim bukan hanya diukur dari kekuatan fisik, tetapi juga dari keteguhan hati dalam menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan. Menjadi pahlawan tidak selalu berarti mengangkat senjata. Dalam kehidupan modern, jihad dan perjuangan bisa diwujudkan dalam banyak bentuk: Pahlawan ilmu, yang berjuang mencerdaskan umat. Pahlawan sosial, yang menolong sesama tanpa pamrih. Pahlawan dakwah, yang menyebarkan kebaikan dan menyeru kepada taqwa. Pahlawan keluarga, yang berkorban demi menanamkan nilai iman di rumah tangganya. Setiap amal kebaikan yang dilakukan dengan niat tulus karena Allah, sejatinya adalah bentuk perjuangan yang bernilai pahala besar. Rasulullah ﷺ dan para sahabat adalah teladan utama dalam kepahlawanan. Mereka rela mengorbankan harta, waktu, bahkan nyawa demi tegaknya Islam. Dari mereka, kita belajar bahwa menjadi pahlawan bukanlah tentang dikenang, tetapi tentang memberi makna dalam setiap langkah perjuangan. Pada masa kini, setiap muslim memiliki kesempatan untuk menjadi pahlawan. Dengan menegakkan kejujuran di tengah kebohongan, membantu sesama di saat sulit, menebar ilmu, menahan amarah, atau menjaga amanah — semua itu adalah bentuk jihad yang bernilai tinggi di sisi Allah. “Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120) Hari Pahlawan menjadi momentum bagi kita untuk merenung: sudah sejauh mana kita berjuang menjadi pahlawan dalam kehidupan ini? Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang meneladani semangat juang para pahlawan — baik yang memperjuangkan kemerdekaan negeri, maupun yang berjuang menegakkan kebenaran demi ridha-Nya.

Info

Diskusi Kolaborasi Forum Zakat DIY dan Pemkab Gunungkidul Kuatkan Komitmen Kolaborasi Peningkatan Kesejahteraan Gunungkidul

Rabu, 17 September 2025/24 Rabiul Awal 1447 H Disusun oleh : Admin Gunungkidul, 17 September 2025 – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul dan Forum Zakat Daerah Istimewa Yogyakarta (FOZ DIY) berkomitmen untuk memperkuat sinergi program pemberdayaan masyarakat di berbagai sektor strategis. Komitmen ini disampaikan pada agenda Diskusi Anggota FOZ Wilayah DIY bersama beberapa dinas di lingkungan pemerintahan kabupaten Gunungkidul yang berlangsung di Kantor Bupati Gunungkidul Rabu (17/9). Dalam diskusi ini, masing-masing anggota FOZ Wilayah DIY menyampaikan beberapa program karitas dan pemberdayaan yang diimplementasikan di Gunungkidul. Beberapa program karitas yang rutin di laksanakan adalah beasiswa pendidikan, layanan kesehatan dan ambulance, sarana air bersih, penyaluran air bersih, penyaluran daging kurban serta aktifitas dakwah keislaman. Beberapa program pemberdayaan yang sudah dilakukan beberapa anggota FOZ diantaranya pemberdayaan Aloevera di Nglipar, budidaya Melon di Wunung, Pelestarian Batik melalui Pelatihan Membatik untuk guru-guru di sekolah dasar, Gaduh ternak, pendampingan UMKM, pendampingan Agribisnis dan lainnya. Tak hanya dana zakat, anggota FOZ Wilayah DIY juga melalui amanah dana wakaf membangun infrastruktur fasilitas masyarakat seperti masjid, sekolah, dan instalasi air bersih untuk warga. Diskusi yang dihadiri jajaran Pemerintah Kabupaten, pengurus FOZ DIY, serta perwakilan 29 lembaga zakat anggota FOZ bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Gunungkidul melalui pengembangan sektor kesehatan, pendidikan, peternakan, pertanian, UMKM, dan berbagai program sosial kemasyarakatan dan juga mendukung program Kampung Zakat Kemenag RI. Dewi Irawaty, M.Kes. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Gunungkidul dalam sambutannya mewakili Bupati menyampaikan apresiasi atas program-program yang dijalankan oleh Anggota FOZ, hal ini sesuai dengan 7 program Prioritas kemiskinan. Gunungkidul yang masih tinggi diangka 14% dan tingkat pendidikan yang rendah menjadi peluang untuk peningkatan peran lembaga zakat, termasuk penanganan disabilitas dan ODGJ. Dewi menekankan pentingnya kekhlasan juga ketepatan dalam penyaluran bantuan. “Beberapa kali Pemerintah di-prank terkait adanya laporan permasalahan kemiskinan warga, untuk itu dibutuhkan data-data yang lengkap sebelum menyalurkan bantuan”. Ketua FOZ DIY Mambaul Bahri menambahkan, kerja sama ini membuka ruang kolaborasi lebih luas antara pemerintah daerah dan lembaga zakat. “Dengan jaringan 29 lembaga zakat anggota FOZ DIY, kita bisa mengintegrasikan program dan sumber daya sehingga manfaatnya lebih merata dan berkelanjutan” ujar Mamba. Mamba juga mengharapkan anggota FOZ bisa mendapatkan dukungan data yang lebih lengkap terkait kemiskinan dan keluarga-keluarga yang layak menerima bantuan dana zakat. Infaq dan sedekah. Tentang Forum Zakat DIY Forum Zakat DIY adalah bagian dari Forum Zakat.  FOZ DIY menaungi 29 lembaga zakat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Anggotanya meliputi Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, LazisMu, LazisNU, dan berbagai LAZ nasional maupun lokal termasuk LAZ Pundi Surga yang aktif dalam program kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.  

Info

Menjaga Lingkungan dengan Bersedekah Jelantah

Selasa, 9 September 2025 / 16 Rabiul Awal 1447 H Dibuat oleh : Admin Dalam Islam, menjaga lingkungan merupakan bagian dari amanah Allah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah ﷻ berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…” (QS. Al-A’raf: 56) Salah satu bentuk menjaga lingkungan yang kini mulai banyak dilakukan adalah bersedekah minyak jelantah. Minyak jelantah adalah minyak goreng bekas pakai yang jika dibuang sembarangan, terutama ke saluran air, dapat mencemari lingkungan, merusak ekosistem, bahkan membahayakan kesehatan. Alih-alih dibuang percuma, jelantah bisa dikumpulkan dan disalurkan melalui program sosial yang mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, seperti bahan baku biodiesel atau produk ramah lingkungan lainnya. Hasil dari pengelolaan jelantah tersebut biasanya dialokasikan untuk mendukung kegiatan sosial, pendidikan, maupun kesejahteraan umat. Dengan begitu, sedekah jelantah bukan hanya memberikan manfaat materi, tetapi juga menjaga kelestarian bumi yang kita huni bersama. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah berkurang harta karena sedekah.” (HR. Muslim) Walaupun jelantah dianggap tidak bernilai, ketika diniatkan untuk sedekah, ia bisa menjadi jalan pahala yang besar. Inilah bukti bahwa Allah tidak melihat dari besar-kecilnya harta yang kita keluarkan, melainkan dari keikhlasan niat kita. Sedekah jelantah sendiri memiliki beberapa manfaat tersendiri seperti : Menjaga lingkungan: mengurangi pencemaran tanah dan air. Membantu sesama: hasil pengelolaan disalurkan untuk kegiatan sosial. Mendapat pahala: setiap sedekah, sekecil apa pun, akan dicatat oleh Allah. Mendidik kepedulian: mengajarkan masyarakat bahwa kebaikan bisa dimulai dari hal sederhana. Sedekah tidak harus selalu berupa uang. Minyak jelantah yang kerap dianggap limbah pun bisa menjadi ladang pahala jika disalurkan dengan cara yang tepat. Dengan bersedekah jelantah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga ikut serta dalam menjaga lingkungan.

Info

Mengisi Rabiul Awal 1447 H: Momentum Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW

Senin, 8 September 2025 / 15 Rabiul Awal 1447 H Dibuat oleh : Admin Bulan Rabiul Awal selalu memiliki tempat istimewa dalam hati umat Islam. Di bulan inilah Rasulullah Muhammad ﷺ dilahirkan, sosok yang membawa cahaya Islam, membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya petunjuk Allah ﷻ. Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momen untuk memperkuat kecintaan dan meneladani akhlak beliau. Allah ﷻ berfirman: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21) Ada beberapa hal yang dapat kita teladani dari akhlak mulia Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara lain : Meneladani Akhlak Mulia Nabi Rasulullah dikenal dengan akhlak terbaik. Beliau jujur, penyayang, penuh kasih, dan tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Akhlak beliau menjadi pondasi dalam membangun masyarakat yang damai dan berkeadilan. Memperkuat Ukhuwah Momen Rabiul Awal dapat menjadi sarana untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah. Dengan meneladani Nabi, kita diajarkan untuk saling menghormati, menolong sesama, serta menjauhi perpecahan yang melemahkan umat. Menumbuhkan Semangat Dakwah Nabi ﷺ tidak pernah lelah menyampaikan risalah Islam, meski mendapat banyak rintangan. Umat Islam di era modern pun dituntut memiliki semangat dakwah, baik dengan lisan, tulisan, maupun akhlak sehari-hari yang menjadi contoh kebaikan. Membumikan Sunnah dalam Kehidupan Mencintai Nabi tidak cukup hanya dengan lisan, tetapi diwujudkan dengan menghidupkan sunnah beliau dalam ibadah, muamalah, dan sikap hidup. Mulai dari hal sederhana, seperti menjaga lisan, tersenyum kepada sesama, hingga beribadah sesuai tuntunan beliau. Rabiul Awal adalah kesempatan emas untuk meneguhkan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Mari jadikan bulan ini sebagai pengingat agar kita semakin dekat kepada Allah dengan meneladani akhlak beliau. Karena sesungguhnya, bukti cinta kepada Nabi adalah dengan menghidupkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Info

Qana’ah: Kunci Ketenteraman Hati dan Kebahagiaan Hidup

Kamis, 4 September 2025 / 11 Rabiul Awal 1447 H Dibuat oleh: Admin Dalam kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam keinginan yang tiada henti. Selalu merasa kurang, selalu ingin lebih, dan jarang puas dengan apa yang sudah dimiliki. Padahal, Islam mengajarkan satu sifat mulia yang dapat menjadi kunci ketenangan hati, yaitu qana’ah. Qana’ah berarti merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, baik dalam hal rezeki, kedudukan, maupun keadaan hidup. Namun, qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha. Seorang muslim tetap diperintahkan untuk bekerja, berikhtiar, dan berusaha sebaik mungkin. Bedanya, ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, melainkan hanya sarana menuju ridha Allah.             Sifat qana’ah memiliki beberapa keutamaan seperti : Membawa ketenteraman hati Orang yang qana’ah tidak terikat dengan rasa iri kepada orang lain, karena ia yakin bahwa rezeki setiap hamba telah diatur Allah. Menjadi kaya dengan hati Rasulullah ﷺ bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Menghindarkan dari sifat tamak Tamak hanya membuat manusia lelah mengejar dunia yang tak ada habisnya. Qana’ah menjauhkan seorang muslim dari kegelisahan tersebut. Kita dapat menerapkan atau membiasakan diri untuk selalu bersikap qana’ah dengan cara Mensyukuri rezeki sekecil apa pun, Tidak iri terhadap nikmat orang lain, Tetap berusaha, namun tidak berlebihan dalam mengejar dunia, Hidup sederhana sesuai kebutuhan, bukan mengikuti hawa nafsu. Qana’ah adalah harta yang jauh lebih berharga daripada tumpukan emas dan perak. Ia membuat hati tenang, pikiran lapang, dan hidup terasa lebih bahagia. Dengan qana’ah, seorang muslim akan lebih mudah bersyukur dan lebih dekat dengan Allah, karena ia menyadari bahwa apa pun yang diberikan-Nya adalah yang terbaik.