Pundi Surga

Author name: Pundi Surga

Info

Bahaya Musik dan Nyanyian

Dibuat oleh : Administrator ONE DAY ONE HADITS Jum’at, 10 Mei 2024 02 Dzulqo’dah 1445 H 💖 Bahaya Musik & Nyanyian 💖 •┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈• Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ خَسْفٌ ، وَقَذْفٌ ، وَمَسْخٌ ” ، قِيلَ : وَمَتَى ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : ” إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْقَيْنَاتُ ، وَاسْتُحِلَّتِ الْخَمْرُ “ “Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan (ke dalam bumi), dilempari batu dan diubah wajahnya menjadi buruk”. Beliau ditanya, “Kapankah hal itu terjadi wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ketika alat-alat musik dan para penyanyi wanita telah merajalela, serta khamr di anggap halal”. (HR. Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir (5672), dihasankan Asy Syaukani (Nailul Authar, 8/262), bahkan Al Albani menyatakan hadits ini bisa terangkat sampai derajat shahih (Shahih Al Jami’, 3665). 🌺 Faedah Hadits : 🌺 🔰 1- Hadits di atas sudah cukup membuktikan kepada kita bahwa nyanyian dan alat-alat musik termasuk kedalam dosa-dosa besar, sehingga hukumnya haram. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam : ”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik. (HR. Bukhari) 🔰 2- Musik hukumnya haram meskipun dinamai dengan “musik religi” atau “Islami”. Karena jika musik menjadi boleh didengar karena ada embel-embel Islami atau religi, ini berkonsekuensi dosa-dosa besar yang disebutkan satu paket dengan musik dalam hadis ini, pun bisa menjadi boleh, asalkan juga dinamai dengan “zina Islami/religi” atau “mabuk Islami/religi”. Betapa sucinya Islam dari hal-hal seperti ini. Juga dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, صوتان ملعونان في الدنيا والآخرة: مزمار عند نعمة، ورنة عند مصيبة “Dua suara terlaknat di dunia dan akhirat: suara seruling di saat mendapat nikmat dan suara histeris di saat mendapat musibah.” (HR. Al-Bazzar, dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani) 🔰 3- Larangan musik dan nyanyian di dalam islam mengandung sebuah hikmah yang besar, karena musik/nyanyian religi sekalipun sangat mampu membuat lalai manusia bahkan banyak yang terjerumus ke dalam kemaksiatan yang lebih besar akibat sering mendengarkan musik/nyanyian. Oleh karena itu di dalam Islam kita dianjurkan banyak mengingat Allah/berdzikir dimana pun berada bukan mendengar musik/nyanyian. Karena kedua hal tesebut tidaklah menambah iman, tapi justru menambah kemunafikan di dlam hati, Maka hendaknya kita berhati-hati. sebagaimana perkataan Ibnul Qoyyim rahimahullahu berkata, إِنَّ الْقُرْآنَ وَ الْغِنَاءَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي الْقَلْبِ أَبَدًا، لِمَا بَيْنَهُمَا مِن التَّضَادِّ “Sesungguhnya Al-Quran dan nyayian itu tidak akan bersatu di hati selamanya, karena keduanya itu bertentangan” (Ighatsatul Lahfan, 1: 248). 🔰 4- Hendaknya bagi yang ragu-ragu apakah nyanyian/musik ini hukumnya boleh atau haram, maka hendaknya dia mengetahui bahwa menjauhi syubhat-syubhat itu lebih baik daripada terjatuh di dalamnya. Dan sikap seperti ini dapat menyelamatkan agamanya, yang tidak terhitung harganya. Sumber : muslim.or.id —————————————————— 📌Yuk berikan sedekah terbaik anda dihari jum’at yang mulia ini: 💳 BSI 444.567.0100 💳 Muamalat 531.007.0697 [A.n. Pundi Surga] 🔖 Info dan Konfirmasi: 0878-3972-6984 (Admin)

Info

Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu

Dibuat oleh : Administrator Rabu, 08 Mei 2024 29 Syawwal 1445 H Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberikan kita karunia berupa agama yang benar, agama nabi Ibrahim yang lurus. Dan beliau bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Agama yang telah Allah janjikan akan menang di atas semua agama lainnya. Oleh karenanya, Allah berfirman, هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (QS. As-Saf: 9) Agama yang Allah berjanji akan menjaga kitab sucinya. Allah berfirman, اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9) Al-Qur’an yang Allah turunkan ini sangatlah bermanfaat bagi manusia, kapan pun zamannya dan di mana pun tempatnya. Kitab yang akan memberikan petunjuk menuju jalan yang lurus, jalan menuju surga Allah Ta’ala yang penuh kemuliaan. Di antara tanda agungnya pemberian Allah ini, Allah telah menyiapkan siapa saja yang akan menjaga syariat-Nya, menyiapkan juga para penyeru agama-Nya, mengajarkan manusia akan apa yang bermanfaat bagi mereka, baik di dunia maupun di akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, يَحْمِلُ هَذَا اْلعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ، يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِّيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ. “Ilmu (agama) ini akan dibawa oleh orang-orang terpercaya dari setiap generasi. Mereka akan meluruskan penyimpangan orang-orang yang melampaui batas, takwil orang-orang jahil, dan pemalsuan orang-orang batil.” (HR. Ahmad dalam Tarikh Dimasyq, 7: 39) Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama yang mumpuni saat mendapati sebuah permasalahan yang tidak kita ketahui ilmunya. Allah Ta’ala berfirman, فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43) Allah Ta’ala juga melarang kita dari bertanya kepada mereka yang menyesatkan manusia dengan ucapannya yang manis, namun jauh dari kebenaran. Mereka yang tidak tahu kaidah-kaidah ilmu dan dasar-dasarnya, namun berani berfatwa padahal tidak bisa membedakan kabar/ hadis yang sahih dari hadis yang cacat dan palsu, ataupun tidak bisa menempatkan dalil yang ada pada tempatnya. Pembaca yang dirahmati Allah Ta’ala, Seharusnya majelis-majelis ilmu yang ada lebih mengutamakan dan mendahulukan ulama yang sudah mengabdikan dirinya untuk ilmu, menghabiskan hari demi hari mereka untuk mempelajari ilmu syar’i dan menulisnya. Bukan mereka yang manis lisannya, namun bodoh dan kosong ilmunya. Sehingga tidak ada lagi di antara mereka yang dianggap ‘berilmu’, namun justru menghalalkan apa yang telah Allah haramkan dan mengharamkan apa yang telah Allah halalkan. Sungguh fenomena ini sudah menjamur dan tersebar di masyarakat kita, dan ini merupakan salah satu tanda hari kiamat kecil yang sudah terjadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إنَّ مِن أشْرَاطِ السَّاعَةِ أنْ يُرْفَعَ العِلْمُ، ويَكْثُرَ الجَهْلُ “Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan banyaknya kebodohan.” (HR. Bukhari no. 5231 dan Muslim no. 2671) Di hadis yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka bertanya kepada mereka, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673) Dahulu kala, walaupun para sahabat radhiayallahu ‘anhum memiliki banyak ilmu dan pengetahuan, jika salah satu dari mereka ditanya perihal suatu permasalahan yang tidak ia ketahui, mereka tidak segan-segan untuk mengucapkan, “Allahu A’lam”, Allah lebih mengetahui perkara tersebut. Hal ini bukan berarti Islam melarang dari berfatwa dan menjawab pertanyaan seseorang. Hanya saja, Islam menginginkan agar setiap ahli ilmu yang ditanya untuk berusaha mencari jawaban yang benar, sampai ia yakin bahwa yang akan disampaikannya adalah kebenaran. Para Pembaca, ma’asyiral muslimin yang dicintai Allah Ta’ala. Sesungguhnya berdusta dan berbicara atas nama Allah tanpa ilmu termasuk dari perbuatan dosa besar. Jika seorang manusia terjatuh ke dalamnya, maka akan membinasakannya. Allah Ta’ala berfirman, وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَا تَصِفُ اَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هٰذَا حَلٰلٌ وَّهٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَفْتَرُوْنَ عَلَى اللّٰهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُوْنَۗ “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta ‘Ini halal dan ini haram’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya, orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah itu tidak akan beruntung.” (QS. An-Nahl: 116) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda, إِنَّ كَذِبًا عَلَىَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ ، مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta pada selainku. Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4) Di antara ayat yang menunjukkan besarnya dosa berbicara atas nama Allah tanpa ilmu adalah firman-Nya, قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ “Katakanlah (Muhammad), ‘Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33) Allah Ta’ala menggabungkan antara berbicara atas nama Allah tanpa ilmu dengan kesyirikan, dosa yang tidak ada dosa lain yang lebih besar dan lebih parah darinya. Oleh karenanya, jemaah sekalian, marilah bersama-sama kita terus menerus bertakwa kepada Allah Ta’ala, serta menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari perkara ini, mengajarkan anak-anak kita untuk hanya bertanya kepada ulama yang jelas-jelas ahli dan mumpuni, tidak tertipu dan mengambil pendapat dari para pendusta lagi bodoh. Harus kita ketahui juga, bahwa berbicara agama tanpa ilmu merupakan salah satu cara setan menjebak dan menggoda manusia. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Info

Keutamaan Berqurban

Dibuat oleh : Administrator Kamis, 02 Mei 2024 23 Syawwal 1445 H Keutamaan berqurban dalam Islam merupakan bagian penting dari ibadah. Berikut adalah beberapa keutamaan yang terkait dengan pelaksanaan ibadah qurban: 1. Ketaatan kepada Perintah Allah Berqurban adalah bentuk ketaatan kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diwahyukan kepada umat-Nya. Dalam Al-Quran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2). Dengan berqurban, seorang Muslim menunjukkan kesediaannya untuk patuh kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala . 2. Meneladani Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam Berqurban mengikuti jejak pengorbanan Nabi Ibrahim Alaihissalam yang telah bersedia untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail Alaihissalam, sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai pengganti korban. Dengan berqurban, umat Islam meneladani keteladanan kesetiaan, pengorbanan, dan kepatuhan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihissalam. 3. Menjalin Solidaritas dan Kepedulian Sosial Berqurban juga merupakan bentuk nyata dari solidaritas dan kepedulian sosial dalam Islam. Daging hasil qurban dibagikan kepada fakir miskin, yatim piatu, dan kaum dhuafa sebagai bentuk bantuan dan kepedulian terhadap sesama. Dengan berqurban, umat Islam menegaskan komitmen mereka untuk membantu mereka yang membutuhkan dan memperkuat ikatan sosial di antara anggota masyarakat. 4. Mendekatkan Diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Berqurban adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan melakukan pengorbanan harta dan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala pada saat menyembelih, seseorang mengingat kebesaran-Nya dan menegaskan keimanan dan ketaatan kepada-Nya. Ini merupakan momen yang sangat istimewa untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Dengan memahami dan mengamalkan keutamaan-keutamaan berqurban, umat Islam diharapkan dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial mereka serta mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Info

Yuk! Puasa Syawwal

Dibuat oleh : Administrator *ONE DAY ONE HADITS* Jum’at, 26 April 2024 17 Syawwal 1445 H 💖 *Keutamaan Puasa Syawwal* 💖 •┈┈┈┈┈•❁﷽❁•┈┈┈┈┈• Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ _*“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.”*_ (HR. Muslim No. 1164) 🌺 *Faedah Hadits* : 🌺 🔰 1- Puasa syawal akan menggenapkan ganjaran berpuasa setahun penuh Para ulama mengatakan bahwa berpuasa seperti setahun penuh asalnya karena setiap kebaikan semisal dengan sepuluh kebaikan yang semisal. Bulan Ramadhan (puasa sebulan penuh, -pen) sama dengan (berpuasa) selama sepuluh bulan (30 x 10 = 300 hari = 10 bulan) dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan (berpuasa) selama dua bulan (6 x 10 = 60 hari = 2 bulan). Jadi seolah-olah jika seseorang melaksanakan puasa Syawal dan sebelumnya berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka dia seperti melaksanakan puasa setahun penuh. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا) » “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. (HR. Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban) “Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal”[Q.S. Al An’am : 160] 🔰 2- Puasa syawal seperti halnya shalat sunnah rawatib yang dapat menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib Yang dimaksudkan di sini bahwa puasa syawal akan menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada puasa wajib di bulan Ramadhan sebagaimana shalat sunnah rawatib yang menyempurnakan ibadah wajib. Amalan sunnah seperti puasa Syawal nantinya akan menyempurnakan puasa Ramadhan yang seringkali ada kekurangan di sana-sini. Inilah yang dialami setiap orang dalam puasa Ramadhan, pasti ada kekurangan yang mesti disempurnakan dengan amalan sunnah. 🔰 3- Melakukan puasa syawal merupakan salah satu tanda diterimanya amalan puasa Ramadhan Jika Allah subhanahu wa ta’ala menerima amalan seorang hamba, maka Dia akan menunjuki pada amalan sholih selanjutnya. Jika Allah menerima amalan puasa Ramadhan, maka Dia akan tunjuki untuk melakukan amalan sholih lainnya, di antaranya puasa enam hari di bulan Syawal. Hal ini diambil dari perkataan sebagian salaf, مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” 🔰 4- Melaksanakan puasa syawal menandakan bahwa ibadahnya kontinu dan bukan musiman saja Amalan yang seseorang lakukan di bulan Ramadhan tidaklah berhenti setelah Ramadhan itu berakhir. Amalan tersebut seharusnya berlangsung terus selama seorang hamba masih menarik nafas kehidupan. Sumber : rumaysho.com —————————————————— 📌Yuk berikan sedekah terbaik anda dihari jum’at yang mulia ini: 💳 *BSI 444.567.0100* 💳 *Muamalat 531.007.0697* [A.n. Pundi Surga] 🔖 Info dan Konfirmasi: 0878-3972-6984 (Admin)

Info

Puasa Qadha’ atau Puasa Syawal dulu?

Dibuat oleh : Administrator Rabu, 24 April 2024 15 Syawwal 1445 H Memilih Antara Puasa Qadha dan Puasa Syawal: Mana Yang Harus Didahulukan? Bulan Ramadan telah berlalu, meninggalkan kesan dan hikmah yang mendalam bagi umat Muslim. Setelah berakhirnya bulan suci ini, umat Islam dihadapkan pada beberapa pilihan ibadah sunnah yang bisa dilakukan, di antaranya adalah puasa Syawal dan melaksanakan puasa qadha untuk mengganti hari-hari di Ramadan yang mungkin terlewat karena alasan tertentu. Muncul pertanyaan di kalangan umat Muslim, mana yang sebaiknya didahulukan, puasa qadha atau puasa Syawal? Keutamaan Puasa Syawal Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa setahun penuh. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: “Barang siapa berpuasa Ramadan, kemudian ia diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka itu seperti puasa sepanjang tahun.” Keutamaan ini membuat banyak umat Muslim bersemangat untuk melaksanakan puasa Syawal segera setelah Ramadan berakhir. Kewajiban Puasa Qadha Di sisi lain, puasa qadha merupakan kewajiban bagi mereka yang berhalangan menjalankan puasa di bulan Ramadan. Hal ini bisa disebabkan oleh sakit, perjalanan, atau alasan lain yang syar’i. Puasa qadha wajib dikerjakan secepatnya setelah Ramadan sesuai dengan kesempatan dan kemampuan, karena merupakan tanggung jawab yang harus dilunasi. Mana Yang Harus Didahulukan? Dari sisi fikih, para ulama memiliki pandangan yang berbeda terkait dengan urutan pelaksanaan puasa qadha dan puasa Syawal. Namun, mayoritas ulama menyatakan bahwa lebih utama mendahulukan puasa qadha daripada puasa Syawal karena merupakan penggantian utang yang harus segera dilunasi. Hal ini didasarkan pada prinsip umum dalam fikih bahwa menghilangkan kewajiban (dalam hal ini, melunasi utang puasa) lebih didahulukan daripada melaksanakan amalan sunnah. Meskipun demikian, jika seseorang merasa yakin dapat melaksanakan keduanya (puasa qadha dan Syawal) sebelum bulan Syawal berakhir, maka boleh saja untuk melakukan puasa Syawal terlebih dahulu jika itu lebih memudahkan. Kesimpulan Hendaknya seorang muslim/muslimah menyempurnakan puasa Ramadhan-nya terlebih dahulu yaitu melakukan puasa qadha’, baru kemudian dia melanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, agar sejalan dengan hadits dan supaya dia bisa meraih pahala yang disebutkan dalam hadits tersebut. Selamat menjalankan puasa sunnah di bulan syawal, semoga Allah mudahkan ya…

Info

3 Amalan di Bulan Syawal

Dibuat oleh : Administrator Selasa, 23 April 2024 14 Syawwal 1445 H Kedatangan bulan Syawal menjadi momen kemenangan yang membahagiakan bagi umat Islam. Dimana pada hari pertama bulan Syawal, umat Islam di seluruh dunia bersama-sama mengumandangankan takbir, merayakan hari kemenangan setelah mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan penuh dengan ibadah puasa. Walau Ramadhan telah berlalu dan digantikan bulan Syawal, tetap pertahankan ibadah dengan keteguhan seperti yang dilakukan selama bulan Ramadhan. Di Bulan Syawal ini pula banyak sekali amalan-amalan yang membuat kita menambah pahala setelah Ramadhan, seperti amalan-amalan sunnah yang sejatinya menjadi penyempurna ibadah wajib yang kita lakukan. Dalam hadits disebutkan, أَنَّ صِيَامَ شَوَّالٍ وَشَعْبَانَ كَصَلَاةِ السُّنَنِ الرَّوَاتِبِ قَبْلَ الصَّلَاةِ الْمَفْرُوْضَةِ وَبَعْدَهَا فَيُكْمِلُ بِذلِكَ مَا حَصَلَ فِي الْفَرْضِ مِنْ خَلَلٍ وَنَقْصٍ فَإِنَّ الْفَرَائِضَ تُجْبَرُ أَوْ تُكْمَلُ بِالنَّوَافِلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ “Puasa sunnah Syawal dan Sya’ban itu seperti shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib. Kekurangan-kekurangan pada shalat fardhu akan disempurnakan dengan shalat-shalat sunnah itu. Karena sesungguhnya pada hari kiamat, amalan-amalan yang wajib akan disempurnakan dengan amalan-amalan yang sunnah.” (Lathaiful Ma’arif: 220) Di bulan Syawal banyak amalan sunnah yang bisa kita teruskan, seperti silaturahim, puasa 6 hari, dan sedekah. Di Bulan Syawal ini jangan sampai Ibadah yang sudah kita lakukan saat Ramadhan terabaikan, maka pertahankan Ibadah-Ibadah yang sudah di lakukan saat Ramadhan, bukan sekedar saat di bulan Syawal saja, tetapi di bulan-bukan seterusnya Amalan sunnah apa nih yang di bulan Ramadan rutin Sahabat lakukan?

Info

Puasa Syawal: 6 Hari untuk Pahala Setahun

Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan semangat tersebut dengan puasa Syawal. Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dilaksanakan selama 6 hari di bulan Syawal, setelah Idul Fitri. Keutamaan Puasa Syawal Hadis riwayat Imam Muslim menyebutkan, barang siapa yang puasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal, maka ia akan mendapatkan pahala puasa selama satu tahun penuh. Ini tentu menjadi keutamaan yang luar biasa bagi umat Islam yang ingin menambah pahala setelah Ramadhan. Waktu Pelaksanaan Puasa Syawal Meski dianjurkan untuk dilaksanakan secara berurutan, puasa Syawal tetap bisa dilakukan terpisah selama masih dalam bulan Syawal. Idealnya, puasa ini dilaksanakan pada tanggal 2 hingga 7 Syawal, namun Anda bisa menyesuaikannya dengan kondisi masing-masing. Tips Menjalankan Puasa Syawal Mantapkan niat untuk melanjutkan ibadah puasa setelah Ramadhan. Jaga pola makan sahur dan berbuka yang sehat dan seimbang. Perbanyak membaca Al-Quran dan berdzikir. Tetap semangat dan optimis untuk meraih pahala yang dijanjikan. Dengan menjalankan puasa Syawal, Anda dapat melengkapi ibadah di bulan Ramadhan dan meraih pahala yang berlipat ganda. InsyaAllah, semoga kita semua dimudahkan dalam menjalankan ibadah ini. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di Bulan Syawwal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim)

Info

Keutamaan Malam Lailatul Qadr: Malam Yang Lebih Baik Dari Seribu Bulan

Dibuat oleh : Administrator Selasa, 02 April 2024 22 Ramadhan 1445 H Malam Lailatul Qadr merupakan salah satu malam paling istimewa dan penuh berkah dalam Islam. Malam ini terjadi pada bulan Ramadan, lebih tepatnya pada sepuluh hari terakhir bulan suci tersebut. Lailatul Qadr, yang sering diterjemahkan sebagai “Malam Ketetapan,” memiliki keutamaan yang sangat besar, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Keistimewaan Malam Lailatul Qadr 1. Malam Turunnya Al-Qur’an Salah satu keistimewaan utama Lailatul Qadr adalah malam ini merupakan waktu Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. melalui Malaikat Jibril. Hal ini menjadikan malam tersebut sebagai momen yang sangat istimewa dalam sejarah Islam. 2. Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an (QS. Al-Qadr: 3), “Malam Lailatul Qadr itu lebih baik dari seribu bulan.” Ini berarti ibadah dan kebaikan yang dilakukan pada malam tersebut akan memiliki keutamaan dan pahala yang sangat besar, melebihi amalan yang dilakukan selama seribu bulan yang tidak terdapat Lailatul Qadr di dalamnya. 3. Diturunkannya Malaikat dan Ruh Malam ini juga istimewa karena Allah mengutus para malaikat dan Ruh (yang dalam beberapa tafsir diidentifikasi sebagai Malaikat Jibril) ke bumi untuk membawa rahmat, barakah, dan kedamaian, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an (QS. Al-Qadr: 4), “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” 4. Malam Pengampunan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. bersabda, “Barang siapa yang berdiri (melakukan ibadah) di malam Lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menegaskan bahwa Lailatul Qadr juga merupakan malam pengampunan bagi umat Muslim yang beribadah dengan penuh keimanan dan ikhlas. Bagaimana Menyambut Malam Lailatul Qadr? Untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadr, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan doa pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Beberapa amalan yang bisa dilakukan antara lain: Qiyamul Lail (Shalat Tarawih dan Shalat Tahajud): Melakukan shalat sunnah di malam hari sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala . Membaca Al-Qur’an: Memperbanyak tilawah Al-Qur’an, merenungkan makna ayat-ayatnya, dan mengamalkan isi kandungannya. Berdoa: Memohon ampunan, keselamatan, dan segala kebaikan dunia serta akhirat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. I’tikaf: Berdiam diri di masjid untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Malam Lailatul Qadr mengajarkan umat Islam tentang pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan usaha maksimal dalam beribadah. Semoga dengan memahami dan mengamalkan nilai-nilai tersebut, kita dapat meraih keberkahan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak hanya di bulan Ramadan tapi juga dalam seluruh aspek kehidupan.

Info

Ramadhan Tinggal Separuh Lagi: Momen Introspeksi dan Optimisasi Ibadah

Rabu, 27 Maret 2024 [16 Ramadhan 1445 H] Saat Ramadhan beranjak memasuki paruh kedua, suasana spiritualitas semakin terasa mendalam. Bulan suci ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan lebih luas lagi tentang refleksi diri, peningkatan ketaqwaan, dan kesempatan emas untuk membersihkan jiwa dari segala dosa. Tinggal separuh lagi perjalanan di bulan Ramadhan, ini merupakan saat yang tepat untuk introspeksi dan mengoptimalkan ibadah yang kita lakukan. Introspeksi Diri: Momen untuk Merefleksikan Setengah perjalanan Ramadhan yang telah berlalu seharusnya menjadi alarm bagi kita untuk merefleksikan diri. Apakah target spiritual yang kita tetapkan di awal Ramadhan sudah mulai tercapai? Jika belum, inilah saatnya untuk lebih mendalami lagi apa yang sebenarnya menghalangi diri kita untuk mencapai target tersebut. Introspeksi diri membantu kita untuk memahami kelemahan dan kekurangan yang perlu diperbaiki. Optimisasi Ibadah: Tingkatkan Kualitas dan Kuantitas Paruh kedua Ramadhan adalah kesempatan emas untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita. Jika di paruh pertama kita merasa belum maksimal dalam melaksanakan ibadah sunnah seperti tarawih, tahajud, atau membaca Al-Qur’an, maka di sisa waktu yang ada ini, kita bisa meningkatkan intensitas dan kekhusyukan dalam beribadah. 1. Tilawah Al-Qur’an Memperbanyak membaca Al-Qur’an tidak hanya mendatangkan pahala, tetapi juga memberikan ketenangan dan kejernihan hati. Jadikan sisa Ramadhan ini sebagai momentum untuk khatam Al-Qur’an atau setidaknya meningkatkan jumlah juz yang dibaca setiap hari. 2. Qiyamul Lail dan Tarawih Meluangkan waktu untuk sholat tarawih berjamaah di masjid atau melaksanakan qiyamul lail di rumah adalah cara yang luar biasa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, malam Lailatul Qadar—malam yang lebih baik dari seribu bulan—juga menanti untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. 3. Sedekah dan Zakat Jangan lupakan pula untuk mengoptimalkan amalan sosial seperti sedekah dan zakat. Paruh kedua Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka yang membutuhkan. Hal ini tidak hanya membersihkan harta kita, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan solidaritas sosial. 4. Doa dan Dzikir Perbanyaklah doa dan dzikir, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Doa merupakan senjata bagi orang beriman, dan dzikir adalah cara untuk terus mengingat Allah dalam setiap kesibukan. Manfaatkan waktu setelah sholat fardhu atau saat sahur untuk berdoa dan berdzikir. Kesimpulan Ramadhan tinggal separuh lagi, mari kita maksimalkan waktu yang tersisa ini dengan introspeksi diri dan optimisasi ibadah. Ingatlah bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah, di mana pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat. Semoga di sisa Ramadhan ini, kita semua dapat meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah SWT. Semoga Ramadhan kali ini menjadi Ramadhan terbaik yang pernah kita alami.

Info

Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Ramadan

Heyy Guys Kalian Tau Ga? Bulan Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Di bulan suci ini, umat Islam berpuasa dari fajar hingga maghrib, memperbanyak ibadah dan amalan baik, serta berusaha untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketaqwaan. Selain itu, bulan Ramadan juga memiliki sejumlah peristiwa penting yang sangat bersejarah bagi umat Muslim dan juga Negara Kita Tercinta loh Indonesia✊🏼 Berikut adalah beberapa peristiwa penting di Bulan Ramadan diantaranya: 1. Nuzulul Qur’an Nuzulul Qur’an adalah peristiwa pertama kali Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 17 Ramadan di Gua Hira’. Saat itu, Nabi sedang menyepi di Gua Hira’, datang Malaikat Jibril menghampiri dan memintanya membaca Al-Qur’an. Nabi menjawab dirinya tidak bisa membaca. Akhirnya, Jibril mengajarkan Nabi membaca dengan surah Al-Alaq ayat 1-5 sebagai surat pertama dalam Al-Quran. 2. Perang Badar Perang Badar merupakan perang pertama yang dilakukan oleh umat Muslim. Perang ini dikenal sebagai Ghazwah Badr al-Kubra, yakni perang yang menandai awal kejayaan kaum muslim. Perang Badar terjadi pada Jumat 17 Ramadan tahun 2 Hijriyah, tepatnya 13 Maret 624 Masehi. Dalam perang ini, jumlah pasukan muslim sangat tidak sebanding dengan musuh. Rasulullah membawa pasukan sebanyak 313, sedangkan kaum kafir Quraisy berjumlah 950 pasukan. Namun, dengan izin Allah, tentara muslim berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy. 3. Fathu Makkah Peristiwa selanjutnya adalah Fathu Makkah atau pembebasan kota Makkah yang terjadi pada 10 Ramadan tahun 8 Hijriyah. Peristiwa ini juga merupakan titik balik umat Islam pulang ke Ka’bah dan Makkah, tempat di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan Islam bermula. Untuk merebut kembali kota Makkah, Nabi mengerahkan 10.000 pasukan. Nabi menginginkan misi merebut kota Makkah dilakukan dengan penuh kedamaian. Misi itu pun berhasil. Makkah berhasil direbut oleh umat Islam tanpa ada pertumpahan darah. 4. Wafatnya orang-orang terdekat Nabi Bulan Ramadan juga merupakan bulan kepergian orang-orang terdekat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam Siti Khadijah, istri Nabi, wafat pada bulan Ramadan, tepatnya pada 11 Ramadan. Sedangkan Siti Aisyah wafat pada 17 Ramadan. Putri Nabi, Fatimah Az-Zahra, wafat pada 3 Ramadan. Sahabat Ali bin Abi Thalib wafat pada 21 Ramadan. 5. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Proklamasi Kemerdekaan RI juga terjadi pada bulan Ramadhan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia itu terjadi pada 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan hari Jumat, pukul 10.00 Wib, pada 9 Ramadhan 1364 Hijriah. Dikutip dari buku Api Sejarah 2 tulisan Prof Ahmad Mansur Naskah teks proklamasi yang dituliskan oleh Bung Karno dengan beberapa perbaikan kalimat atas usulan beberapa orang lainnya, termasuk Ahmad Subardjo, itu diketik oleh Sajoeti Melik, serta ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta dilakukan pada saat waktu makan sahur shaum Ramadhan 1364 Hatta menuturkan makan sahur di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Beberapa jam sebelum proklamasi kemerdekaan, kondisi Soekarno dan Hatta dalam keadaan lelah. Mereka baru tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Sebelumnya, mereka berada di Rengasdengklok, diculik sejumlah pemuda yang memaksa Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, sebelum 17 Agustus 1945. Sesampainya di Jakarta, mereka langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No 1. Sebelumnya, Soekarno lebih dahulu menurunkan istrinya, Fatmawati, dan putranya, Guntur, di rumah Soekarno. Sumber : ramadhan.republika.co.id & uici.ac.id