Pundi Surga

Info

Info

Pentingnya Kesejahteraan Seorang Guru

Dibuat oleh : Admin Dipost          : Kamis, 1 Agustus 2024 / 26 Muharram 1446 H Seorang guru adalah pendidik generasi penerus bangsa yang memiliki tugas utama memberi pendidikan dan bimbingan kepada siswa pada jenjang pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Pekerjaan menjadi seorang guru merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan menyerap seluruh kekuatan fisik maupun mental. Hal tersebut dikarenakan, hampir seluruh waktu dihabiskan oleh guru dengan para siswanya di dalam ruang kelas atau di dalam media pembelajaran terkait kegiatan belajar mengajar. Namun, pengabdian yang diberikan oleh seorang guru nampaknya tidak setara dengan tingkat kesejahteraan guru yang tergolong masih rendah pada saat ini, terutama bagi guru honorer. Rasulullah SAW bersabda : رواه الخطيب البغدادي عن جابر .أكْرِمُوا العُلَمَاءَ فإنَّهُمْ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، فَمَنْ أكرَمَهُمْ فَقَدْ أَكْرَمَ الله وَرَسُولَهُ :وقال صلى الله عليه وسلم” Artinya: “Hendaklah kamu semua memuliakan para ulama (guru) karena mereka itu adalah pewaris para nabi. Maka, siapa memuliakan mereka, berarti memuliakan Allah dan rasulNya”. (HR Al Khatib Al Baghdadi dari Jabir ra., Kitab Tanqihul Qaul) Bagi seorang guru, kesejahteraan merupakan suatu hal yang mendasar, karena dengan kesejahteraan yang memadai itulah yang mampu mendongkrak peningkatan mutu pendidikan dalam proses belajar mengajar. Para guru akan dapat mengajar para siswa dengan sangat baik tanpa membedakan status siswa, semua siswa dididik dan dibina dengan sepenuh hati sehingga menjadi siswa yang cerdas, berkualitas, dan bertanggung jawab. Hal itu menunjukkan bahwa guru ikut bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dimasa depan melalui pendidikan. Namun pada saat ini hal tersebut belum dapat terwujud sepenuhnya dalam lingkungan kehidupan seorang guru, dikarenakan kesejahteraan  guru yang masih belum merata, kehidupan guru di desa tidak sama dengan kehidupan seorang guru di kota. Perlu kita ketahui bersama bahwasanya kesejahteran merupakan hal yang penting bagi semua guru, kesejahteraan guru mampu meningkatkan motivasi, semangat kerja, serta meningkatkan sikap loyalitas guru terhadap sekolah dan peserta didiknya. Maka dari itu, hendaknya para guru diberikan kesejahteraan dan kompensasi secara maksimal, terutama untuk mempertahankan guru yang memiliki kemampuan dan bakat yang baik dalam kegiatan belajar mengajar. Pentingnya kesejahteraan agar dapat meningkatkan taraf kehidupan guru yang lebih baik serta menerima pendapatan yang layak, sehingga dapat menjadi sebuah motivasi bagi seorang guru agar lebih bersemangat dan maksimal dalam mengemban tugas untuk mengajar generasi penerus bangsa. Dalam hal  ini sangat diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta masyarakat dan lembaga-lembaga terkait. Semua kekuatan tersebut akan mempercepat mewujudkan kesejahteraan guru, terutama kesejahteraan bagi guru honorer. Banyak kisah-kisah hebat para ulama tentang kegigihannya dalam belajar saat duduk di bangku pendidikan. Dengan kesungguhan dan ketekunannya dalam belajar, akhirnya bisa menjadikan dirinya ulama hebat yang sukses dalam dunia keilmuan. Bahkan tidak sedikit juga yang melahirkan banyak karya-karya yang bisa dinikmati dan dibaca hingga saat ini. Namun demikian, sekadar mencukupkan “belajar” pada dasarnya tidak akan cukup jika tidak disertai dengan adab memuliakan guru-gurunya. Seorang murid sudah seharusnya tidak tertipu dengan kegigihan dan ketekunannya dalam belajar, hingga lupa untuk memuliakan gurunya. Karena itu, para ulama sejak zaman dahulu selalu berpesan perihal pentingnya memuliakan guru. Memuliakan guru merupakan bagian dari memuliakan ilmu itu sendiri, dan orang yang tidak memuliakan gurunya, sama halnya dia tidak memuliakan ilmu yang sedang ia tekuni, dan siapa saja yang tidak memuliakan ilmunya, maka sampai kapan pun ia tidak akan mendapatkan ilmu. Hal ini sebagaimana nasihat yang disampaikan oleh Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, dalam salah satu kitabnya ia mengatakan: كُنْ مُوَقِّرًا لِمُعَلِّمِكَ مُعَظِّمًا لَهُ، فَاِنَّ تَعْظِيْمَهُ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ. وَلاَ يَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِتَعْظِيْمِهِ وَتَعْظِيْمِ أَهْلِهِ، وَكُنْ مُعْتَقِدًا أَيْضَا أَهْلِيَتَهُ وَرُجْحَانَهُ عَلىَ مَنْ كَانَ فِي طَبَقَتِهِ Artinya, “Jadilah kamu orang yang memuliakan serta mengagungkan pada gurumu. Karena sungguh, memuliakannya merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan memuliakan orang yang berilmu. Dan, jadilah kamu orang yang yakin pada kapasitas dan keunggulannya pada orang yang ada pada masanya.” (Syekh Syatha, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], halaman 170). Dapat kita pahami bersama bahwa rendahnya tingkat kesejahteraan guru tentunya juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi rendahnya kinerja guru dalam mengajar sehingga kualitas pendidikan di dalam negeri ikut menurun. Guru adalah faktor penentu keberhasilan pendidikan dan pengajaran merupakan titik utama pada pendidikan sebagai cermin kualitas, guru memberikan jasa yang sangat besar pada kualitas pendidikan. Kesejahteraan guru menjadi suatu harapan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan sepeprti dengan pendapatan yang layak. Sejauh mana pemerintah dalam melakukan pemberian pendapatan yang layak untuk para pendidik juga sangat menentukan kualitas pendidikan Maka dari itu, untuk kesejahteraan guru, langkah yang perlu dilakukan ialah dengan memberikan pendapatan yang layak sesuai dengan tingkat kinerja yang pantas dan sesuai. Mutu pendidikan akan sulit meningkat jika program pendidikan telah dibuat sebaik mungkin, namun tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan guru. Mari bersama-sama kita berusaha untuk memberikan kesejahteraan kepada guru-guru kita agar generasi penerus bangsa tetap mendapatkan pendidikan secara maksimal. Sehingga kelak Indonesia bisa menjadi negara maju sehingga bisa melebihi negara-negara maju di Eropa saat ini dan membawa syiar yang baik untuk kehidupan di dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam.

Info

Pentingnya Pendidikan Dalam Islam

Dibuat oleh: Admin Dipost         : Selasa, 30 Juli 2024 / 24 Muharram 1446 H Agama Islam telah mendorong umatnya untuk belajar sejak awal turunnya Al-qur’an. Hal ini mendorong kita untuk belajar pada segala jenis pengetahuan dunia seperti penelitian ilmiah, membuka lingkaran belajar, pemanfaatan sumber daya masyarakat, pendekatan pemecahan masalah, bercerita dan pendidikan gratis maupun tentang mempersiapkan kehidupan setelah kematian (akhirat). Pentingnya pembelajaran dalam Islam ini berdasar pada fakta bahwa ayat yang pertama kali Allah SWT turunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril ialah surah Al-alaq yang artinya  “Bacalah dengan menyebut nama nama Tuhanmu, yang telah menciptakan (semua yang ada). Dia telah menciptakan manusia dari bekuan darah (sepotong darah tebal). Bacalah Tuhanmu Maha Pemurah, yang telah mengajarkan, Dia telah mengajarkan manusia yang dia tidak tahu. “(Qs Al-Alaq: 1-5), Rasulullah SAW juga banyak mengingatkan umatnya tentang pentingnya menuntut ilmu, seperti dalam hadits: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ Artinya: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim”. (HR.Ibnu Majah) Selain itu nabi Muhammad menjadikan pendidikan sebagai bagian integral dari Islam. Nabi Muhammad mendirikan Sesi Pengetahuan pertama di Dar’ul Arqam. Dia akan duduk di masjid setelah sholat, teman-temannya berkumpul di sekelilingnya. Nabi Muhammad mengajari mereka tentang dasar-dasar Islam, pentingnya moralitas dan yang terpenting Keesaan Tuhan. Nabi Muhammad mengajarkan para siswa dalam syair pengetahuannya tentang ayat-ayat Alquran. Tak hanya di tempat itu, Nabi Muhammad juga menekankan pemerataan pendidikan. Ia mengirim guru Alquran ke komunitas-komunitas di luar Mekkah dan Madinah. Setelah kita memahami bersama bahwa belajar adalah suatu kegiatan yang sangat dianjurkan maka, seyogyanya kita untuk terus belajar selama kita hidup di dunia. Selain itu, kita juga bisa melihat sejarah masa lalu ketika agama Islam memasuki masa keemasan dalam berbagai bidang seperti Ibnu Rusd,Ibnu Sina, Al-Khawarismi,Ibnu Khaldun yang mana mereka ahli dalam bidang yang berbeda. Pendidikan memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan mengembangkan keterampilan generasi muda. Berbicara tentang pentingnya pendidikan, kita tidak hanya memikirkan belajar membaca, menulis, atau menghitung. Lebih dari itu, pendidikan adalah alat yang membentuk individu yang mampu berkontribusi dan berkompetisi di tengah masyarakat1. Mari kita lihat beberapa aspek mengapa pendidikan sangat penting: Masa Depan yang Lebih Baik Pendidikan membuka pintu menuju masa depan yang lebih baik. Anak-anak yang mendapatkan pendidikan yang baik memiliki akses ke pengetahuan dan keterampilan yang membantu mereka membangun karier yang sukses dan berkontribusi pada masyarakat dimasa yang akan datang. Karakter dan Etika Pendidikan bukan hanya tentang akademik, tetapi juga mengembangkan karakter dan etika. Generasi muda yang mendapatkan pendidikan yang baik cenderung memiliki nilai-nilai moral yang kuat, seperti integritas dan rasa tanggung jawab. Selain itu, dengan pendidikan yang memadai maka generasi penerus akan tetap berpegang teguh pada akhlakul karimah (akhlak yang baik). Menghadapi Tantangan Global Di era globalisasi saat ini, pendidikan semakin penting, khususnya bagi generasi muda yang mana harus siap dalam menghadapi tantangan seperti perubahan iklim, teknologi, dan ekonomi yang terus berubah. Pendidikan memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk bersaing di pasar global di masa yang akan datang. Akan tetapi, pada saat ini kita dihadapkan pada berbagai problem ketika akan mengenyam pendidikan seperti biaya pendidikan yang mahal, keperluan keperluan wajib yang harus dimiliki dan masih banyak lagi. Tingginya Angka Putus Sekolah Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin sulit pula seorang siswa untuk meneruskan mimpinya. Data dalam laporan BPS pun menunjukkan meningkatnya angka putus sekolah di samping tingginya jenjang pendidikan. Pada tingkatan sekolah dasar, terdapat 1 dari 1.000 orang yang putus sekolah. Angka ini lebih rendah dibandingkan jenjang sekolah menengah atas yang mencapai 13 dari 1.000 orang yang putus sekolah. Jika dilihat berdasarkan tipe daerah, terdapat kesenjangan antara perkotaan dan perdesaan. Angka putus sekolah pada semua jenjang pendidikan di pedesaan lebih tinggi dibandingkan di perkotaan. Hal ini disebabkan karena anak-anak yang tinggal di perkotaan lebih mudah mengakses sekolah dibandingkan anak-anak di pedesaan. Anak-anak di daerah yang terpencil banyak yang mimpinya terhalang keadaan ekonomi. Meskipun terdapat beasiswa, namun semakin bertambahnya usia, prioritas mereka untuk membantu ekonomi keluarga jauh lebih tinggi dibandingkan melanjutkan pendidikan. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar rata-rata biaya pendidikan yang harus dikeluarkan. Melalui laporan Statistik Penunjang Pendidikan 2021, BPS menjabarkan untuk jenjang perguruan tinggi rata-rata total biaya yang diperlukan adalah Rp14,47 juta selama tahun ajaran 2020-2021. Jumlah tersebut, kata BPS, lebih tinggi hampir dua kali lipat dari rata-rata total biaya pendidikan jenjang sekolah menengah (SM)/sederajat yang sebesar Rp7,80 juta. Berdasarkan karakteristik, rata-rata biaya sekolah negeri tingkat dasar (SD)/sederajat sebesar Rp2,81 juta pada 2021. Sementara swastanya sebesar Rp4,93 juta. Selanjutnya, sekolah negeri tingkat menengah pertama (SMP)/sederajat membutuhkan rata-rata biaya sebesar Rp5,11 juta. Sedangkan sekolah swasta tingkat ini sebesar Rp6,79 juta. Kemudian, sekolah negeri tingkat SM/sederajat membutuhkan Rp7,10 juta. Swastanya sebesar Rp9,04 juta. Lain halnya tingkat perguruan tinggi, untuk negeri sebesar Rp12,71 juta. Sementara swastanya sebesar Rp17,01 juta. Adapun biaya pendidikan dalam laporan BPS merupakan hasil penjumlahan dari uang pendaftaran, uang saku, uang transpor, dan biaya operasional seperti Sumbangan Pembinaan Pendidikan/Uang Kuliah Tunggal (SPP/UKT), seragam sekolah, alat tulis, buku pelajaran, serta biaya lainnya yang dikeluarkan oleh peserta didik. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan dalam dunia pendidikan di Indonesia yang terjadi saat ini? Kita bisa bersama-sama untuk membantu mengapresiasi guru honorer maupun membantu kaum dhuafa yang terpaksa putus sekolah karena terkendala biaya dengan memberikan sedikit rezeki yang telah Allah titipkan kepada kita seperti sabda Rasulullah SAW : عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ،  فَإِنَّمَا  تُرْزَقُوْنَ  وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ (رواه أبو داود) “Dari Abu Darda’ ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. Abu Dawud). Semoga kitra senantiasa diberikan kemudahan dan keberkahan rezeki sehingga sebagian dari rizki kita dapat disedekahkan untuk para pengajar dan membantu pendidikan kaum dhuafa agar mereka mendapatkan kesejahteraan dan pendidikan yang setara dengan kita untuk mengembangkan kompetensi mereka dimasa yang akan datang.

Info

Mengapa Rezeki Setiap Orang Berbeda-beda

Dibuat Oleh : Administrator Selasa, 23 Juli 2024 / 17 Muharram 1445 H   Allah subhanahu wata’ala telah menjamin rezeki untuk seluruh makhluknya, akan tetapi masih banyak dari kita yang bertanya-tanya mengapa rezeki yang diterima setiap orang saling berbeda? Mengapa ada orang kaya dengan banyak harta namun ada juga fakir miskin yang perharinya belum tentu bisa makan? Mengapa semua ini dapat terjadi? Bahkan masih ada orang yang meragukan atas  keadilan yang Allah SWT miliki. Perlu kita pahami bersama bahwa rezeki yang diterima oleh setiap individu berbeda-beda karena Allah SWT menghendaki agar rezeki mengalir ke masing-masing orang dengan cara yang berbeda. Perbedaan ini memungkinkan hak rezeki diberikan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi individu. Ingatlah bahwa rezeki bukan hanya sebatas harta materi, tetapi juga melibatkan ilmu, akhlak, dan manfaat lain yang diberikan oleh Allah. Allah SWT Berfirman dalam surat Hud ayat 6 yang berbunyi : وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا ‘Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya.’ (QS. Hud: 6). Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim). Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Dikisahkan bahwa Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham  ( ulama generasi tabi’ tabi’in ) karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang ini pun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510) Telah kita pahami bersama bahwa rezeki pasti akan Allah berikan kepada makhluknya, akan tetapi ada beberapa point juga yang perlu kita pahami bahwa jaminan atas rezeki yang akan Allah berikan tidaklah semata-mata tiba tiba muncul tanpa usaha karena rezeki merupakan taqdir yang mana hal itu adalah rahasia Allah, sehingga kita tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berpangku tangan serta Rasuullah menjelaskan bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan ikhtiyar (Berusaha dalam mencari rezeki) sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi : لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Hadits tersebut menjelaskan bahwa kita tetap harus berikhtiyar terlebih dahulu seperti seekor burung yang keluar dari sarangnya dipagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang (karena berusaha mencari rezeki). Setelah kita memahami bagaimana konsep rezeki yang telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT, mari kita bersama-sama berintrospeksi diri atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu (wahai manusia) hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa dihari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Rezeki bisa dibagi ke dalam dua kutub besar: rezeki halal dan haram. Perbedaan antara keduanya sangat jelas. Rezeki haram manfaatnya tidak bertahan lama, akan habis dalam waktu sekejap. Sedangkan, rezeki yang halal, sekalipun manfaatnya sedikit di mata sebagian orang, tetapi sejatinya harta itu terus bertambah keberkahannya. Umat Islam harus merenungkan makna ayat ke-71 dari surah an-Nahl:” Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberi rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka, mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? Lalu, mengapa rezeki yang diterima oleh individu berbeda satu dengan yang lain? karena Perbedaan tersebut dimaksudkan agar rezeki dapat mengalir ke individu dengan cara yang berbeda-beda. Jika terjadi perbedaan rezeki, Allah akan memberikan haknya dalam bentuk yang lain. Hal ini karena, sekali lagi perlu ditegaskan dalam ingatan kita bahwa, rezeki bukan hanya uang semata, tetapi rezeki adalah segala sesuatu yang dirasakan manfaatnya oleh manusia. Karena itu, bentuk rezeki yang diberikan Allah tidak terbatas. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS al-Baqarah [2]: 212). Pada saat ini sebagian besar dari kita lalu bersikap sinis dan terheran dengan rezeki lebih yang diterima oleh orang kafir. Tetapi, mengapa kaum Muslim itu tidak mencoba menghitung betapa besarnya nilai kebajikan yang Allah berikan kepada mereka? Belum lagi rezeki berupa rasa nyaman yang dirasakan oleh hati. Terlebih jika mereka mengetahui bahwa hari pembalasan pasti akan tiba. Allah akan memberi balasan sesuai dengan keyakinan dan amal yang telah diperbuat selama di dunia (QS an-Nahl [16]: 96-97). Marilah kita bersama-sama saling mengingatkan agar selalu bersyukur atas segala rezeki yang telah Allah berikan kepada kita, dan selalu yakin bahwa rezeki yang kita dapat itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kita.

Info

Jaminan Bagi Orang Yang Menyantuni Anak Yatim

Dibuat Oleh : Administrator Kamis, 18 Juli 2024 / 12 Muharram 1446 H Telah kita pahami bersama bahwa anak yatim adalah seorang anak yang telah kehilangan salah satu (ayah) orang tuanya ketika dia belum melewati masa akil baligh. Dalam ilmu fikih menyebutkan bahwasanya anak yatim yang sudah baliqh maka wajib untuk walinya menyerahkan harta padanya sesudah diuji. Allah SWT berfirman, “Dan ujilah anak-anak yatim sampai mereka mencapai usia nikah. Apabila kalian menemukan kecerdasannya maka serahkanlah harta-harta itu kepada mereka”. “Dan janganlah kalian memakannya dengan berlebih-lebihan dan jangan pula kalian tergesa-gesa menyerahkannya sebelum mereka dewasa.  Barangsiapa (dari kalangan wali anak yatim itu) berkecukupan, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim) dan barangsiapa yang miskin maka dia boleh memakan dengan cara yang baik. Apabila kalian menyerahkan harta-harta mereka, maka hadirkanlah saksi-saksi. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas.” (QS. An-Nisa: 6). Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang mengasuh anak yatim akan mendapatkan pahala yang besar. Bahkan, surga adalah tempat yang dijanjikan bagi mereka yang berbuat baik kepada anak yatim. Selain itu anak yatim yang diberi perlindungan serta kasih sayang akan menjadi syafaat bagi pengasuhnya di yaumil akhir. Terdapat jaminan besar yang bisa didapatkan apabila kita menyantuni anak yatim yang sudah dijelaskan secara luas lewat hadits dari Rasulullah SAW seperti : Bersama Dengan Rasulullah di Surga Keutamaan yang bisa didapat dengan menyantuni anak yatim adalah memperoleh kedekatan dengan Rasulullah SAW di surga sedekat antara jari telunjuk dengan jari tengah seperti yang sudah difirmankan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya” (HR. Bukhari). Ibnu Hajar Al Asqalanty Rahimahulla berkata, “Isyarat ini cukup untuk menegaskan kedekatan kedudukan pemberi santunan kepada anak yatim dan kedudukan Nabi, karena tidak ada jari yang memisahkan jari telunjuk dengan jari tengah.” Mendapat Pahala Setara Dengan Jihad Seseorang yang menyantuni anak yatim, maka akan memperoleh pahala yang setara dengan melakukan jihad di peperangan dalam membela agama Islam.  Pahala yang sangat besar ini bisa dengan mudah kita peroleh dengan menyantuni sekaligus menyayangi anak yatim setulus tulusnya. “Barangsiapa mengurus tiga anak yatim maka ia ibarat orang yang melakukan qiyamul lail pada malam harinya, berpuasa pada siang harinya, berangkat pagi dan sore hari dengan pedang terhunus di jalan Allah, aku dan dia berada di surga seperti dua saudara sebagaimana dua ini yang bersaudara.” Dan beliau menempelkan dua jarinya, yaitu jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Ibnu Majah No. 3670) Terpenuhi Kebutuhan Hidup Jangan pernah sia-siakan kesempatan untuk menyantuni anak yatim sebab tidak hanya berguna sebagai jaminan surga di akhirat, namun Allah SWT juga sudah menjanjikan akan memenuhi kebutuhan hidup bagi seseorang yang menyantuni anak yatim. Apabila menyantuni anak yatim dilakukan, maka akan seperti berinfak di jalan Allah dan Allah SWT juga akan melipatgandakan harta bagi hamba yang menyantuni anak yatim tersebut. “Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim diantara dua orang tua yang muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” (HR. Al-Baniy, Shahih At Targhib, Malik Ibnu Harits: 1895) “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).” (An-Nisa: 10) Perbaikan Urusan Akhirat dan Dunia Apabila seseorang selalu mengasihi sesama yang berada di muka bumi, maka niscaya juga akan dicintai oleh Allah SWT sehingga urusan di akhirat dan juga di dunia akan diperbaiki seperti yang telah dijanjikan oleh Allah SWT pada hamba-Nya yang selalu patuh pada perintah dan mengasihi sesama mereka. “Orang-orang yang pengasih, akan dikasihi oleh Ar Rohman (Yang Maha Pengasih) Tabaaroka wa ta’ala. Kasihilah siapa yang ada dibumi niscaya engkau dikasihi oleh yang di langit.” [HR. Abu dawud, Tirmidzi dan lain-lain. As silsilatu shohihah : 925]. Memperoleh Perlindungan di Hari Kiamat Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah yang mengutusku dengan kebenaran di hari kiamat Allah SWT tidak akan mengadzab orang yang mengasihi anak yatim dan berlaku ramah padanya serta manis tutur katanya.  “Dia benar-benar menyayangi anak yatim dan mengerti kekurangannya, dan tidak menyombongkan diri pada tetangganya atas kekayaan yang diperoleh Allah kepadanya. ” (H. R. Thabrani) Melakukan salah satu akhlaq baik yakni menyantuni anak yatim juga akan memperoleh jaminan perlindungan di saat hari kiamat kelak yang akan datang, sebab Allah sangat mencintai hamba-Nya yang tidak sombong dan selalu bersikap baik pada anak yatim selama hidupnya di dunia. Dalam bermasyarakat, kita harus saling mendukung dan memuliakan anak yatim karena menyantuni anak yatim pada dasarnya adalah sebuah akhlaq yang sangat mulia di mata Allah SWT dan juga sesama manusia. Dengan melaksanakan akhlaq baik ini, maka kita akan menjadi manusia yang jauh lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama. Semoga Allah SWT selalu memberikan kita kekuatan agar bisa tetap beribadah pada-Nya dan selalu berada dalam jalan yang lurus untuk membawa kita pada kebahagiaan selama hidup di dunia maupun di akhirat kelak.

Info

Adab Yang Dianjurkan Kepada Anak Yatim

Dibuat Oleh : Administrator Rabu, 17 Juli 2024 / 11 Muharram 1446 H Anak Yatim atau seorang anak yang telah ditinggal wafat oleh ayahnya sebelum dia menginjak masa baligh atau puber ini tercatat dalam beberapa ayat di Al-Qur’an, sehingga bisa disimpulkan bahwa perhatian dan kedudukannya pun besar dalam sudut pandang Agama Islam. Karena telah kehilangan sosok orang tua sebagai panutan dan pembimbing itulah yang membuat mereka perlu diberikana perhatian lebih daripada anak anak yang lain. Sebagai umat muslim, tentu kita memiliki adab yang diajarkan serta kewajiban dalam berperilaku terhadap mereka. Orang-orang yang tulus dan ikhlas memberikan perhatian dan perlindungan kepada mereka akan diberikan balasan baik oleh Allah SWT. Sebaliknya, orang-orang yang tidak segan kasar dan berperilaku buruk kepada mereka, akan yang diberikan hukuman yang setimpal oleh Allah SWT. Dari berbagai keterangan didalam ayat Al-Qur’an dan sunnah dari Rasulullah SAW, bisa disimpulkan bahwa mereka adalah anak-anak istimewa yang harus diperlakukan dengan baik. Al-Qur’an juga telah menjelaskan perintah dan kewajiban para umat muslim dalam menyantuni dan memelihara mereka dengan kasih sayang yang tulus dan ikhlas. Berikut ini beberapa adab yang wajib dilakukan oleh para umat muslim kepada anak-anak yatim yang diantaranya adalah Berbuat Baik Di dalam surat An-Nisa ayat 36 tertulis ۞ وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri.” QS.An Nisa (36). Dalam ayat tersebut bisa disimpulkan bahwa umat muslim harus selalu berbuat baik kepada anak-anak yatim. Berbuat baik yang dimaksud yaitu memberikan ketenangan dan kesejahteraan bagi hidup anak-anak tersebut. Memperlakukan mereka dengan baik akan membantu meringankan beban serta meningkatkan semangat hidup anak-anak yatim tersebut. perlakukan anak-anak tersebut dengan baik, jangan sekali pun menghina maupun menghardik mereka dengan kata-kata kasar, karena diusianya yang masih belia tersebut, mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari orang-orang di sekelilingnya. Untuk tetap semangat dalam menjalani hidup dan tidak merasa sendirian meskipun telah ditinggal oleh orang tuanya. Memuliakan Mereka Kewajiban para umat muslim kepada anak-anak yatim tidak hanya sebatas berperilaku baik saja. Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Fajr ayat 17 yang tertulis : كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَۙ “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (Al-Fajr: 17) Pernyataan dari surat Al-Fajr ayat 17 tersebut bisa disimpulkan bahwa memuliakan anak-anak yatim juga menjadi kewajiban yang harus dilakukan oleh sesama umat muslim. Dilarang keras menghina, apalagi merendahkan mereka, serta mengeluarkan kata-kata kasar (menghardik) yang menyinggung perasaan mereka. Karena perbuatan tersebut paling tidak disukai oleh Allah SWT, terlebih lagi perilaku kasar yang disertai dengan memukul. Tentunya perilaku tersebut sangat dilarang karena dapat membuat mereka semakin merasa terpuruk dan kehilangan keceriaannya. Jika, hal tersebut dilakukan oleh orang-orang di sekelilingnya kemungkinan yang terjadi akan mengganggu kondisi psikisnya. Sehingga mereka memiliki kecenderungan menyendiri dan merasa sangat terpuruk. Padahal mereka adalah golongan anak yang membutuhkan uluran tangan dan kepedulian dari orang-orang di sekitarnya. Mengurus Secara Patut Dan Adil Sebagai orang tua asuh atau orang-orang yang bertanggung jawab mengelola panti asuhan, harus mengurus mereka secara patut dan adil. Dengan begitu, anak-anak tersebut akan hidup dengan baik dan tidak terlantar. Penting diingat bahwa anak-anak yatim juga mempunyai hak untuk hidup dengan sebaik-baiknya seperti anak-anak lain. Jadi, ketika seseorang menjadi orang tua asuh tidak diperkenankan memberikan kasih sayang yang berbeda kepada mereka. Tidak Membedakan Dan Menganggap Mereka Seperti Saudara Allah SWT juga memerintahkan umat muslim agar selalu peduli kepada anak-anak yatim, serta tidak membedakan mereka dan menganggapnya seperti saudara sendiri. Sikap seperti ini dilakukan agar mereka merasa diterima dan tidak diasingkan sehingga merasa orang-orang di sekelilingnya sayang kepada dirinya. contoh sikap tidak membedakan salah satunya adalah memberikan kasih sayang yang sama dan adil antar anak. Misalnya, anak kandung diberikan baju baru yang mahal berarti kita sebagai orang tua asuh juga harus membelikan mereka baju yang sama. Memberi santunan Tidak semua anak-anak yatim hidup berkecukupan dan memiliki harta warisan yang cukup dari orang tuanya. Sebagian banyak yang hidup miskin dan kurang layak sehingga mereka membutuhkan uluran tangan dari orang-orang berhati mulia. Memberikan santunan kepada anak-anak yatim menjadi sebuah kewajiban bagi umat muslim yang berkecukupan dan memiliki kondisi ekonomi yang mapan. Oleh karena itu, bagi orang-orang kaya yang belum siap menjadi orang tua asuh disarankan untuk memberikan santunan kepada mereka. Seperti yang tertulis di Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah ayat 177 yang berbunyi : .. dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim.” (Al-Baqarah: 177) Di dalam surat Al-Baqarah ayat 177 tersebut bisa disimpulkan bahwa Allah SWT memerintahkan semua umat muslim, untuk memberikan santunan kepada anak-anak kurang beruntung. Melindungi Harta Anak Yatim Ketika mereka memiliki harta warisan dari peninggalan orang tuanya, sebagai sesama umat muslim terutama bagi yang memiliki sifat amanah. Wajib memelihara dan melindungi harta benda tersebut dan dilarang keras mengambilnya. Jika, hal tersebut dilakukan akan menjadi dosa jika dengan sengaja menggunakan atau mengambil harta yang bukan haknya. Bahkan di dalam Al-Qur’an telah ditegaskan mengenai larangan mendekati dan mengambil harta mereka, yang tertulis dalam surat Al-Israa ayat 34 yang berbunyi: وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗۖ وَاَوْفُوْا بِالْعَهْدِۖ اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔوْلًا “Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik..” (Al-Israa’: 34) Diantara kelompok orang-orang yang lemah (kaum dhuafa), anak-anak yatim selalu menjadi urutan nomor satu. Demikian lah Beberapa adab yang diajarkan kepada kita melalui firman Allah maupun tauladan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yang mana apabila kita menjalankan adab-adab tersebut pasti memiliki keutamaan disisi Allah dan Rasulnya.

Info

Keutamaan Bagi Orang Yang Memuliakan Anak Yatim

Dibuat Oleh : Administrator Selasa, 16 Juli 2024 / 10 Muharram 1446 H Agama islam sangat memuliakan kedudukan anak yatim karena menjadi satu golongan yang pertama diantara orang-orang lemah yang paling berhak mendapat pertolongan. Perlu kita pahami bersama alasan mengapa didalam agama islam sangat memuliakan anak yatim karena jika kita lihat dalam realitanya ketika anak-anak yang berasal dari keluarga yang lengkap bisa menghabiskan waktu dan bersenda gurau bersama orang tua mereka,bisa mendapatkan perlindungan dan dukungan dari orang tua mereka, anak-anak yatim tidak pernah sekalipun merasakan hal yang sama karena orang tua mereka telah lebih dulu kembali kehadapan Allah SWT. Sehingga tidak heran apabila  banyak sekali anjuran yang diajarkan kepada kita untuk berbuat baik terhadap anak yatim. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. (HR. al-Bukhari). Hadits tersebut bermakna bahwa orang-orang yang memberikan santunan kepada anak yatim memiliki kedudukan yang tinggi sesuai dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga kelak. Makna dari hadits diatas diperkuat oleh firman Allah SWT dalam QS. Al Maun : أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ  (7 Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maun: 1-7). Dari QS. Al Maun dapat kita pahami bersama bahwa apabila kita menghardik anak yatim  maka kita akan termasuk kedalam golongan orang-orang yang mendustakan agama. Naudzubillahi mindzalik. Lalu bagaimana cara kita untuk memuliakan anak yatim agar kita bisa dekat dengan Rasulullah diakhirat kelak? Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam memuliakan anak yatim seperti : Mengurus dan memelihara mereka Dengan kata lain, kita tidak boleh membiarkan kehidupan anak yatim ini terlantar dan menderita dengan membantu untuk memenuhi segala kebutuhan lahir maupun batin. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 220 dalam hal mengurus anak yatim: فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْيَتٰمٰىۗ قُلْ اِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۗ وَاِنْ تُخَالِطُوْهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَاَعْنَتَكُمْ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ Artinya: “Tentang dunia dan akhirat. Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik.” Jika kamu mempergauli mereka, mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah: 220). Memberikan kasih sayang Sebagai umat islam, sudah seharusnya bagi kita untuk menyebarkan kasih sayang terutama kepada kaum dhuafa dan anak yatim, karena mereka tidak merasakan peran orang tua dalam kehidupan sehingga wajib bagi kita untuk memberikan kasih sayang seperti kasih sayang orang tua kepada anaknya. Hal ini disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 8 yang berbunyi  : وَاِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ اُولُوا الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنُ فَارْزُقُوْهُمْ مِّنْهُ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا Artinya: “Apabila (saat) pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, berilah mereka sebagian dari harta itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” Menyantuni dan memberi nafkah Cara kita memuliakan anak yatim dengan cara menyantuni dan menafkahi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dalam berbagai bentuk seperti berupa uang tunai, fasilitas fasilitas pendidikan dan makanan yang dibutuhkan oleh setiap manusia, hal ini Allah sebutkan dalam firmannya di surah Al-Balad ayat 14 dan 15 : اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ Artinya: “(kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan” (Al-Balad: 14-15). Beberapa cara diatas dapat kita terapkan   dalam syiar memuliakan anak yatim, sesuai dengan anjuran dari nabi besar kita Muhammad SAW. Sehingga harapanya kita bisa mendapatkan kemuliaan diakhirat kelak serta masuk kedalam golongan orang orang mukmin yang dekat dengan Rasulullah Muhammad SAW disurga kelak. Amiin Allahuma Amin.

Info

Kisah Pedagang Kurma Yang Masuk Surga Karena Membantu Seorang Janda Dan Anak Yatim

Dibuat Oleh : Administrator Selasa, 9 Juli 2024/ 3 Muharram 1446 H Kebanyakan dari kita mungkin sudah terbiasa apabila mendengar kata anak yatim, namun apakah kita sudah tergugah untuk membantu kehidupan seorang anak yatim ketika menyaksikan langsung dihadapan kita? Secara tidak kita sadari, banyak sekali kisah yang menceritakan betapa beruntungnya kehidupan orang-orang yang berbuat baik kepada anak yatim yang bahkan tidak disadari oleh orang itu. Ada kisah yang menceritakan seorang pedagang kurma yang sangat kaya yang berasal dari negeri mesir bernama Athiyah Bin khalaf yang mengalami kebangkrutan hingga harta yang tersisa tinggallah pakaian yang dia gunakan untuk menutupi auratnya. Bertepatan dengan hari Asyura (hari ke-10 bulan Muharram) setelah melakukan sholat subuh berjamaah dimasjid Amr bin Ash. Ketika dirinya sedang berdoa kepada Allah SWT, datanglah seorang wanita bersama anak-anak kecil yang menghampirinya sembari berkata “Wahai tuan, aku meminta kepadamu, demi Allah, semoga engkau bisa meringankan kesulitanku dan sudi memberi sesuatu yang aku gunakan untuk bisa memenuhi kebutuhan makan-makan anak-anak ini. Sungguh, ayah mereka telah meninggal. Dia tidak meninggalkan sesuatu apa pun untuk mereka. Aku adalah syarifah. Aku tidak tahu siapa yang akan aku tuju. Aku tidak pernah keluar kecuali hari ini, itu pun karena darurat yang menjadikanku hajat untuk mengorbankan diriku. Dan itu juga bukan merupakan kebiasaanku”. Mengetahui hal tersebut dalam hati Athiyah berkata “ aku tidak memiliki apa-apa selain baju yang ku pakai ini. Jika aku lepas tubuhku akan terbuka dan auratku akan terlihat. Namun jika wanita ini aku tolak, alasan apa yang akan aku sampaikan kepada Rasulullah kelak?”. Lantas Athiyah berkata kepada wanita tersebut “ Mari pergi kerumahku. Aku akan memberimu sesuatu”’ ucapnya. Setelah sampai rumah bersama wanita tadi, dirinya langsung masuk rumah dan melepas pakaian yang dia kenakan dan menggantinya dengan sari lusuh. Lalu athiyah memberikan pakaian yang telah dia lepas kepada wanita tersebut, kemudian wanita itu berkata kepadanya “emoga Allah memberikan pakaian-pakaian surga kepadamu, sehingga engkau tidak butuh kepada orang lain selama hidupmu,”. Dikisahkan ketika Athiyah tertidur beliau bermimpi melihat bidadari yang teramat cantik hingga tidak ada wanita yang lebih cantik dari bidadari tersebut yang ditanganya terdapat buah yang aromanya sangat mengharumkan. Lantas Athiyah bertanya “ siapakah kamu ini?” dan sang bidadaripun menjawab “ aku adalah Asyura, istrimu disurga.” Jawab si bidadari tersebut, Athiyah kembali bertanya “Dengan amalan apa aku memperoleh kemuliaan ini?” kemudian bidadari itu menjawab “ dengan seorang janda miskin dan anak-anak yatim yang kemarin engkau berbuat baik kepadanya” jawab si bidadari. Setelah itu Athiyah terbangun dari tidurnya dengan kondisi harum mewangi seisi rumahnya, lantas ia pun mendirikan sholat dua rokaat sebagai bentuk syukurnya kepada Allah sembari berdoa : إِلَهِيْ إِنْ كَانَ مَنَامِيْ حَقًّا، وَهَذِهِ زَوْجَتِيْ فِي الْجَنَّةِ فَاقْبِضْنِيْ إِلَيْكَ. فَمَا اسْتَتَمَّ الْكَلَامَ حَتَّى عَجَّلَ اللهُ بِرُوْحِهِ إِلىَ دَارِ السَّلاَمِ Artinya, “Wahai Tuhanku, jika mimpiku itu benar, dan bidadari dalam mimpiku itu adalah istriku di dalam surga, maka matikanlah aku saat ini juga untuk bertemu dengan-Mu.” belum sampai  doa itu selesai  dipanjatkan, Allah menyegerakan ruh Athiyah bin Khalaf ke surga Darussalam. Demikianlah kisah dari Athiyah bin Khalaf, seorang pedagang kurma yang mengalami kebangkrutan hamun dia tetap membantu seorang janda dan anak-anak yatim yang mengalami kesusahan dengan satu satunya harta yang dia punya (pakaian satu satunya) sehingga dimasukkan kedalam surga oleh Allah SWT. Semoga dari kisah ini kita menjadi terinspirasi untuk berlomba lomba dalam melakukan amal kebaikan serta menggugah hati nurani kita untuk selalu menyantuni dan memberikan kasih sayang kepada anak yatim di awal tahun hijriyah sehingga apa yang kita jalani tahun ini bisa lebih baik dan lebih bermanfaat kepada sesama dari tahun lalu, amiin.   Kisah ini diambil dari kitab karya syekh Zainuddin al-Malibari yang berjudul “ Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad”

Info

Keutamaan Bulan Muharram

Dibuat oleh : Administrator Senin, 8 Juli 2024 / 2 Muharram 1446 H Setelah kita melalui musim ibadah Haji dan menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha pada bulan Dzulhijjah, tidak terasa bahwa sekarang kita telah memasuki bulan Muharram. Bulan  Muharram adalah bulan pembuka (tahun baru) dalam kalender hijriyah, bulan Muharram memiliki kemuliaan dipandangan Allah SWT. Dalam bulan Muharram terdapat keutamaan-keutamaan serta sejarah yang penting dalam perjalanan umat islam. Bulan Muharram berasal dari kata haram (حرم) yang artinya suci atau terlarang. Dinamakan Muharram, karena pada  zaman dahulu, pada bulan ini dilarang berperang dan membunuh. Larangan itu terus berlaku hingga masa Islam. Bahkan bulan Muharram termasuk salah satu bulan haram, sebagaimana telah menjadi kesepakatan diantara kaum muslimin pada zaman khalifah yang mendapat petunjuk Umar bin Khathab semoga Allah meridhoinya,  bulan Muharram adalah salah satu bulan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab-Nya, Allah Ta’ala  berfirman: قال الله تعالى:  إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ … [التوبة: 36] “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. [at-Taubah/9: 36]. Bulan Muharram juga dikenal sebagai “syahrullah” atau “bulan Allah”. Pada bulan ini umat islam yang melakukan haji telah menyelesaikan semua tuntunanya, pada bulan Muharram juga awal kemunculan tekad kaum muslimin untuk melakukan hijrah ke Madinah setelah baiat aqabah II. Puasa yang dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa terbaik setelah puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan, seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW : عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  :  أفضلُ الصيامِ بعدَ رمضانَ شهرُ اللهِ المحرَّمُ, وأفضلُ الصلاةِ بعدَ الفريضةِ صلاةُ الليل ) وفي رواية: ( الصلاة في جوف الليل – أخرجه مسلم Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan (Allah) Muharam, dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam“. Dan pada riwayat yang lain beliau mengatakan: “Sholat yang di kerjakan pada pertengahan malam“. HR Muslim, umat Islam  dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharam (puasa tasu’a) dan 11 Muharam. Inilah yang menjadi pembeda antara umat Islam dengan umat Yahudi, yang mana mereka (umat yahudi) hanya berpuasa di hari Asyura. Selain itu, keutamaan yang ada pada bulan Muharram terdapat pada dilipat gandakannya pahala dari amalan amalan baik yang dilakukan setiap umat muslim. Namun yang perlu kita pahami bersama bahwa dosa juga dicatat dengan perhitungan yang sama (dilipat gandakan). Dan firman Allah Ta’ala: “Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. Artinya yaitu didalam bulan Muharam, dikarenakan lebih keras dan kuat penegasanya akan larangan dalam melakukan dosa dibanding dengan bulan-bulan yang lainya. Abu Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya berbuat dholim pada bulan Muharam lebih besar dosanya di banding dengan kedholiman yang dikerjakan pada bulan lainya, walaupun perbuatan dholim yang di kerjakan pada selain bulan itu tetap besar dosanya, akan tetapi Allah Ta’ala mengagungkan dari urusan-Nya sesuai yang dikehendaki-Nya.” Setelah kita memahami anjuran-anjuran yang disampaikan oleh junjungan kita Rasulullah SAW, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan serta selalu mengharap ridho Allah SWT pada bulan Muharram yang mulia ini. Semoga kita dimasukkan kedalam golongan orang-orang mukmin dan termasuk kedalam umat Rasulullah SAW.       (Referensi : https://almanhaj.or.id/84659)

Info

Memahami Segala Bentuk Rezeki Yang Telah Allah Berikan

Dibuat oleh : Administrator Rabu, 3 Juli 2024 / 26 Dzulhijjah 1445  H Dalam pandangan Islam, rezeki adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada setiap hamba-Nya secara proporsional sesuai dengan firman Allah dalam QS.Hud ayat 6 yang berbunyi : وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya.” (QS. Hud: 6). Tidak ada yang namanya rezeki yang sempurna atau rezeki yang kurang, karena setiap rezeki yang kita terima adalah rezeki yang terbaik dari Allah SWT untuk kita, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893). Maka dari itu bisa kita pahami bersama bahwa rezeki bukan hanya materi semata seperti uang atau harta benda, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan lainnya seperti kesehatan, ilmu pengetahuan, kebahagiaan, dan ketenangan hati2. Jadi, kita sebaiknya bersyukur atas apa pun yang Allah berikan kepada kita, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Setelah kita kita pahami bersama apa itu rezeki, mari kita bersama sama mempelajari konsep rezeki yang Allah berikan kepada hambanya. Dalam pembagian  rezeki, Allah SWT  memberikan rezeki terbagi menjadi dua bentuk yakni rezeki yang sifatnya umum (الرزق العم) dan rezeki yang sifatnya khusus (الرزق الخاص). Rezeki yang bersifat umum (الرزق العم) Ini mencakup segala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan, seperti harta, rumah, kendaraan, dan kesehatan. Rezeki ini dapat berasal dari yang halal maupun haram, dan Allah memberikannya kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang kafir. Rezeki yang bersifat khusus (الرزق الخاص) Ini melibatkan bentuk-bentuk rezeki yang lebih spesifik, seperti ilmu, akhlak, kecantikan, pangkat, dan lain sebagainya. Rezeki ini juga dapat berupa harta, tetapi memiliki dimensi yang lebih mendalam, terkait dengan ketakwaan dan keberkahan. Lalu mengapa Rezeki yang Allah berikan berbeda beda kepada setiap individu? Ada beberapa alasan mengapa Allah berbeda dalam membagi rezekinya Tujuan Ujian dan Cobaan: Rezeki adalah bagian dari ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada kita. Perbedaan rezeki memungkinkan kita mengalami berbagai situasi dan menguji ketakwaan serta kesyukuran kita, dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ “Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat.” (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Rezeki Halal dan Haram: Rezeki haram (yang diperoleh dengan cara yang tidak halal) memiliki manfaat yang tidak bertahan lama. Sedangkan rezeki yang halal, meskipun terlihat sedikit, memiliki keberkahan yang berkelanjutan. Dalam riwayat Saad bin Abi Waqqash mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ “Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah, dengan mengharap Wajah Allah (ikhlas), kecuali engkau akan diberi pahala karenanya. Sekalipun nafkah itu (hanya berupa) sesuap (makanan) yang kau suapkan pada istrimu.” (H.R al-Bukhari). Bentuk Rezeki yang Luas: Rezeki bukan hanya tentang uang semata. namun Ilmu, akhlak, kecantikan, pangkat, dan kesehatan juga termasuk dalam kategori rezeki yang Allah berikan. Ketidakterbatasan Rezeki dari Allah sehingga terkadang, rezeki yang kita terima jumlahnya jauh lebih besar daripada yang kita usahakan. Perlu kita ingat kebali bahwa rezeki adalah suatu anugrah yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, marilah kita bersama sama selalu bersyukur atas apapun yang Allah berikan kepada diri kita, baik dalam bentuk materi berupa uang dan harta benda maupun bentuk non materi berupa kesehatan,ketakwaan kepadanya.

Info

Bahayanya Terlalu Mencintai Harta

Dibuat oleh: Administrator Senin,1 Juli 2024 / 24 Dzulhijjah 1445 H Rasa cinta kepada harta dunia adalah suatu perasaan yang cenderung dimiliki banyak orang, sangat banyak kisah yang telah disampaikan tentang orang-orang terdahulu seperti kisah Qarun yang mana harta mampu membuatnya sombong kepada Allah. Allah SWT telah melimpahkan kekayaan padanya bukan sebagai suatu berkah akan tetapi limpahan harta yang Allah berikan adalah istidraj sehingga Qarun makin tenggelam dengan keingkarannya kepada Allah. Kekayaan yang Allah limpahkan kepada Qarun tidaklah sedikit, bahkan dalam kisahnya disebutkan bahwa tumpukan kunci gudang yang ia gunakan untuk menyimpan hartanya tidaklah mampu diangkat oleh orang-orang kuat sekalipun,sehingga bisa kita bayangkan bersama seberapa banyak harta yang dimiliki Qarun sehingga dia bisa menjadi seorang yang sombong dan angkuh kepada Allah. Dalam hal ini, istidraj bagi Qarun adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki, yang diberi dalam keadaan terus menerus meski ingkar kepada Allah SWT. Hal itu tergambar dalam hadis riwayat Uqbah bin Amir bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari [perkara] dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan] dari Allah),” (H.R. Ahmad). Kisah Qarun yang melampaui batas ini diabadikan dalam Al-Quran yang berbunyi “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ingatlah ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri,” (QS. Al-Qasas [28]: 76). Peringatan keras yang telah Allah sampaikan kepada manusia atas harta dunia terdapat dalam surat Al Munafiqun ayat 9 yang berbunyi : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ Artinya “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi ”. Rasulullah SAW juga berpesan, “ diantara keturunan Adam (manusia) ada yang berkata “ Hartaku adalah hartaku”. Padahal sesungguhnya kalian tidak memiliki sedikitpun bagian dari harta itu, kecuali yang telah kalian sedekahkan, sehingga menjadi kekal nilai pahalanya. Juga kalian makan sampai habis dan yang kalian pakai hingga usang.” Lalu ada seorang sahabat bertanya, “ wahai Rasulullah, kenapa aku merasa tidak menyukai mati.” Beliau balik bertanya “ Apakah lantaran engkau memiliki banyak harta?” sahabat menjawab “ Benar “ Rasulullah menyarankan padanya “ Nafkahkanlah hartamu, karena hati orang mukmin itu beserta harta yang dinafkahkannya (dijalan Allah). Dimana apabila hartanya itu dinafkahkan, makan ia pasti selalu menyertainya. Dan jika ditinggalkan, maka ia hanya ingin tinggal sementara bersamanya.” Yang perlu kita ketahui bersama bahwa harta juga memiliki sifat terpuji karena dalam beberapa firmanya Allah menyebutkan harta dengan menggunakan kata Khairan (kebaikan). Sebagaimana Allah berfirman : اِنْ تَرَكَ خَيْرًاۖ ࣙالْوَصِيَّةُ “ Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah” Diperkuat dengan statemen Rasulullah “ Sebaik baiknya harta yang halal ialah milik orang-orang sholeh.” Sesungguhnya apa yang dituju oleh orang-orang yang bijak adalah kebahagiaan yang abadi dan harta adalah salah satu sarana untuk mencapai kebahagiaan abadi tersebut. Perumpamaan harta ialah seperti ular yang mengandung racun sekaligus obat penawar. Diantara manfaatnya seperti obat penawar, sedsngkan bahaya yang dikandungnya seperti racun, maka barangsiapa mengetahui lalu bisa menghindar dari racunya dan memanfaatkan obat penawarnya, maka ditangannya harta menjadi terpuji. Lalu bagaimana sikap kita apabila menyaksikan seseorang yang memiliki kelebihan harta? Kita juga tidak diperkenankan untuk menyimpan rasa iri dengki kepada orang yang memiliki harta yang berlebih karena dengan keadaan yang sedang kita alami sekarang akan menjadi terpuji apabila kita tidak bersikap dengki terhadap milik orang lain (saudaranya), semua itu tidak akan terwujud kecuali jika kita melazimkan sifat qanaah (menerima bagian dengan ikhlas) sesuai dengan kadar yang kita butuhkan. Seperti makan,minum dan pakaian. Sehingga merasa cukup atas jumlah yang paling sedikit dan rendah sekalipun. Rasulullah SAW bersabda إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ “Sesungguhnya malaikat Jibril, telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa jiwa manusia tidak akan mati sebelum dipenuhi rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah permintaanmu. (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Semoga kita selalu terbiasa dalam menyikapi sifat qana ah dan menghindari rasa iri dengki kepada sesama yang dapat menyebabkan penyakit hati sehingga kita termasuk dalam golongan orang orang mukmin. Wallahua lam.