Pundi Surga

Author name: Pundi Surga

Info

Panduan Hidup Sehat Ala Nabi

Dibuat oleh: Admin Selasa, 29 Oktober 2024 / 26 Rabiulakhir 1446 H Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu memberikan contoh yang sangat baik dalam menjalani kehidupan. Beliau mengajarkan umatnya untuk menjaga kesehatan tubuh sebagai rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Salah satu aspek terpenting dalam menjaga kesehatan adalah pola makan yang baik. Berikut adalah beberapa pola hidup sehat yang diajarkan Rasulullah SAW. Ada beberapa cara yang dilakukan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam menjaga kesehatan, lalu apa saja tips-tips yang dilakukan beliau dalam menjaga kesehatan? Mari kita bahas bersama. Mengatur porsi makan Rasulullah beberapa kali menyampaikan kepada kita untuk tidak berlebihan dalam segala hal, termasuk untuk urusan makan. Beliau menegaskan kepada kita untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf Ayat 31yang berbunyi: وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” Memakan makanan yang halal dan thayyib Rasulullah SAW sangat selektif terhadap apa yang beliau makan. Makanan tersebut harus memenuhi persyaratan halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan akhirat, yaitu kehalalan cara memperoleh dan prosesnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan kehidupan dunia, yaitu apakah makanan yang dimakan itu baik dan bermanfaat bagi kesehatan atau tidak. Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 168 yang berbunyi: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ Artinya: “Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik dan janganlah mengikuti langkah -langkah setan. Sesungguhnya ia bagimu merupakan musuh yang nyata.” Minum air putih yang cukup Rasulullah mengatakan bahwa air adalah minuman terbaik didunia, Rasulullah biasa minum dengan cara meminum sebanyak tiga teguk dan bernafas diluar wadah disetiap teguknya. Makan dengan tangan kanan Rasulullah SAW juga mengajarkan tentang cara makan yang baik dan sehat, yaitu beliau selalu makan dengan tangan. Secara ilmiah, makan langsung dengan tangan disebut lebih sehat. Hal ini karena tangan mengandung enzim Rnase yang mengurangi aktivitas pathogen dalam tubuh. Selain itu, Rasulullah SAW juga mengajarkan untuk tidak meniup makanan ketika masih panas, karena bisa memindahkan bakteri dan reaksi kimia.

Info

Mengembangkan Sikap Thawadu Dalam Diri

Dibuat oleh: Admin Rabu, 23 Oktober 2024 / 20 Rabiulakhir 1446 H Selama ini, sudah pasti kita sangat familiar dengan istilah thawadu’. Secara bahasa thawadu’ itu sendiri berarti rendah hati dan menerima kebenaran. Thawadu’ sendiri merupakan lawan kata dari takabur yang berarti sombong, sehingga dalam ajaran Islam sendiri sangatlah menganjurkan umat muslim untuk selalu memiliki sikap thawadu’ dalam dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 24. وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (Al-Isra’ : 24). Ayat di atas mewajibkan kita untuk bersikap tawadhu’ kepada kedua orang tua atas dasar rasa kasih sayang. Lain dari itu kita hendaknya mendoakan kepada kedua orang tua agar senantiasa dirahmati oleh Allah. Dilansir dari NU Online, ada beberapa ciri dari orang yang memiliki sikap thawadu’, antara lain : Tidak ingin mendapatkan popularitas Orang dengan sikap thawadu’ dalam dirinya memiliki kecenderungan untuk menyembunyikan dirinya dalam segala hal yang mana ini bertujuan untuk menghidari timbulnya rasa sombong dalam dirinya. Sehingga orang dengan sikap yang thawadu’ akan lebih mudah dalam menjalani kesehariannya. Menjunjung tinggi kebenaran Mereka yang ber-tawadhu’ akan menjunjung tinggi kebenaran tanpa memandang hal-hal duniawi, seperti status sosial dari orang yang menyatakan suatu hal. Hal ini sejalan dengan nasihat yang diberikan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib yang berbunyi “La tandhur ilâ man qâla, wandhur ilâ ma qâla. Artinya: “Jangan melihat siapa yang mengatakan, lihatlah apa yang dikatakannya.” Sehingga memiliki sifat jujur. Bergaul dengan siapa saja Yang ketiga adalah, orang dengan sikap thawadu’ tidak memilih-milih dalam pergaulan. Tidak memilih-milih di sini berarti orang dengan sikap thawadu’ tidak peduli dengan harta, jabatan dan segala keduniawian dalam bergaul. Hal ini merupakan sikap yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana dikisahkan dalam kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, halaman 123, sebagai berikut: Wakâna shallallâhu alaihi wassalam syadidal haya’i wattwadhu’i…. yuhibbul fuqarâ’a wal masâkina wayajlisu ma’ahum. Artinya: “Rasulullah SAW adalah pribadi yang sangat pemalu dan amat tawadhu’”. Beliau mencintai fakir miskin dan tidak segan-segan bergaul dengan duduk bersama mereka.” Tidak segan membantu dan berterimakasih Ciri orang yang ber-thawadu’ lainnya adalah suka membantu orang lain yang sedang kesulitan serta tidak segan mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah membantunya dan tanpa memandang status sosial orang tersebut. Itulah sedikit pengertian dari sikap thawadu’ dalam ajaran agama Islam beserta ciri-ciri seseorang yang memiliki sikap thawadu’ dalam dirinya.

Info

Sikap Umat Muslim Dalam Menyikapi Pemimpin Baru

Dibuat oleh: Admin Selasa, 22 Oktober 2024 / 19 Rabiulakhir 1446 H Pada tanggal 20 Oktober lalu, kita bersama-sama telah menyaksikan pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih Republik Indonesia yang baru. Presiden yang terpilih pada saat ini adalah bapak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakilnya. Lalu bagaimana respon kita sebagai umat muslim dalam menyikapi pergantian seorang pemimpin yang sesuai dengan apa yang agama Islam ajarkan? Ada beberapa hal yang perlu bahkan wajib kita perhatikan mengenai bagaimana pandangan syariat Islam dan sikap yang harus kita jalani terhadap pemimpin yang terpilih secara sah dan demokratis di negara kita tercinta, Indonesia. Kewajiban Menaati Pemimpin dalam Kebajikan Yang pertama yakni kewajiban mentaati kepada pemimpin sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits sangat banyak sekali. Dalil di dalam Al-Qur’an di antaranya adalah firman Allah ta’ala: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An Nisa’ [4]: 59). Dalam ayat ini Allah menjadikan ketaatan kepada pemimpin pada urutan ketiga setelah ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk pemimpin di sini tidaklah datang dengan lafazh perintah “taatilah” karena ketaatan kepada pemimpin merupakan ikutan (tâbi’) dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, apabila seorang pemimpin memerintahkan untuk berbuat maksiat kepada Allah, maka tidak ada lagi kewajiban mendengar dan taat kepada mereka justru kita harus menjadi penegak amar ma’ruf nahi munkar seperti yang akan kita bahas bersama dalam artikel ini. Kita harus memperhatikan kewajiban mendengar dan taat kepada penguasa. Karena, bila kita tidak menaati mereka, maka akan terjadi kekacauan, pertumpahan darah dan terjadi korban pada kaum muslimin. Ingatlah bahwa darah kaum muslimin itu lebih mulia daripada hancurnya dunia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ “Hancurnya dunia ini lebih ringan (dosanya) daripada terbunuhnya seorang muslim.” (HR. Tirmidzi) Sekarang kita dapat menyaksikan orang-orang yang memberontak kepada penguasa. Mereka hanya mengajak kepada pertumpahan darah dan banyak di antara kaum muslimin yang tidak bersalah menjadi korban. Yang wajib dan terbaik adalah mendengar dan menaati mereka. Namun bukan berarti tidak ada amar ma’ruf nahi munkar. Hal itu tetap ada tetapi harus dilakukan menurut kaidah yang telah ditetapkan oleh syari’at yang mulia ini. Amar Ma’ruf Nahi munkar kepada Pemimpin Seperti yang penulis sampaikan pada point pertama tentang ketaatan kita terhadap ulil amri jika perintahnya menuju kebaikan dan kita tetap harus menjalankan amar ma’uf nahi munkar apabila pemimpin kita memberi perintah kepada keburukan. Berikut ini adalah dalil kebolehan amar ma’ruf, nahi munkar dengan cara mengkritik pemimpin/pemerintah: وقال صلى الله عليه وسلم: أفضل الجهاد كلمة حق عند سلطان جائر Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sebaik-baik jihad adalah ucapan yang hak disisi pemimpin yang zalim. (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah) Namun demikian, amar ma’ruf nahi munkar harus dengan lemah lembut dan pelakunya harus mempunyai ilmu yang cukup agar bisa bertindak dengan benar. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri berkata: لا يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر إلا من كان فيه ثلاث خصال: رفيق بما يأمر، رفيق بما ينهى، عدل بما يأمر، عدل بما ينهى، عالم بما يأمر، عالم بما ينهى “Seseorang tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar melainkan ada pada dirinya tiga perangai: lemah lembut ketika menyeru dan mencegah, adil ketika menyeru dan mencegah, mengilmui sesuatu yang diseru dan dicegahnya.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ul Ulum wal Hikam). Dikisahkan ada seseorang yang akan beramar ma’ruf dan nahi munkar, lalu dia meminta pendapat kepada seorang ulama agar diizinkan dengan cara yang keras karena pelakunya itu sudah dianggap keterlaluan, namun sang ulama menjawab bahwa kamu tidak lebih baik dari Nabi Musa as dan orang yang akan kamu nasihati tidak lebih jahat dari Fir’aun, tapi Allah di dalam Al-Qur’an tetap memerintahkan Nabi Musa as dan Nabi Harun as) untuk berbicara dengan lemah lembut kepada Fir’aun: اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ، فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. (QS. Thaha 43-44). Larangan Memberontak dan Menyibukkan Diri Mencelanya Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan di antara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah: ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أُمورنا ، وإن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ، ولا ننزع يداً من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصيةٍ ، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة “Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” (Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi Al-Hanafi, dalam Al-Aqidah Ath-Thahawiyah) Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah juga menukil ijma’. Dari Ibnu Batthal rahimahullah, ia berkata: “Para fuqaha telah sepakat wajibnya taat kepada pemerintah (muslim) yang berkuasa, berjihad bersamanya, dan bahwa ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak.” (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, 13/7) Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawy Al Haddad dalam kitabnya ‘Adda’wah Attammah menjelaskan tentang sikap yang harus dilaksanakan kepada pemimpin: ومهما كان الولي مصلحا حسن الرعاية جميل السيرة كان على الرعية أن يعينوه بالدعاء له و الثناء عليه بالخير “Jika seorang pemimpin membawa kemaslahatan untuk rakyat, bersungguh-sungguh dalam memberi perhatian kepada mereka, dan mempunyai kinerja yang bagus maka rakyat harus membantunya dengan berdoa untuknya serta memujinya atas kinerjanya yang bagus”. Sekian beberapa point yang bisa penulis sampaikan, jika ada kurang atau lebihnya mohon dimaafkan karena segala kelebihan berasal dari Allah dan segala kekurangan berasal dari kekhilafan penulis. Salam

Info

Peran Zakat Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat

Dibuat oleh: Admin Kamis, 17 Oktober 2024 /14 Rabiulakhir 1446 H Zakat memiliki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhannya maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia. Selain itu, zakat merupakan ibadah yang memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Banyak sekali hikmah serta manfaat zakat untuk meningkatkan kesejahteraan umat Islam. Beberapa bentuk dari manfaat yang bisa dirasakan dari zakat antara lain : Menolong kaum Dhuafa Manfaat dari zakat yang pertama dapat digunakan untuk tolong-menolong, membantu, membina, dan membangun kualitas hidup kaum dhuafa untuk memenuhi kebutuhan pokok hidup mereka. Dengan kondisi tersebut, mereka akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt dengan baik dan hati yang tenang. Pembuktian Persaudaraan Islam Zakat adalah ibadah harta yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah. Dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan Islam. Pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah. Terwujudnya Tatanan Masyarakat Yang Harmonis Zakat apat mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera sehingga hubungan seorang dengan dlainnya menjadi rukun, damai, harmonis dan dapat menciptakan situasi yang tenteram, aman lahir dan batin. Selalu ada hikmah disetiap perintah-perintah yang Allah berikan kepada kita hambanya,  Begitu pula dengan zakat, harta yang kita cari dengan susah payah lalu dizakatkan kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat), tentu kita bertanya-tanya untuk apa zakat tersebut. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah tertuang dalam surat At-taubah ayat 103, Allah berfirman “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” Dalam surat tersebut kita dapat menemukan dua hikmah yang terkandung pada zakat. Pertama, zakat dapat membersihkan dari perkara haram, kedua, harta dapat membersihkan jiwa dari sifat kikir dan bakil. Zakat menjadi proteksi bagi harta seorang muslim.

Info

Menghadapi Tantangan Hidup Dengan Kesabaran Dan Keikhlasan

  Dibuat oleh: Admin Rabu, 16 Oktober 2024 / 13 Rabiulakhir 1446 H Saat ini merupakan era dimana segala hal sangat mudah untuk diakses, di sisi lain perlu kita pahami pula bahwa hidup yang serba mudah seperti ini justru penuh dengan situasi yang menuntut kesabaran dan keikhlasan dari setiap individu. Kita sering kali terjebak dalam pergolakan hidup yang membuat kita lupa tentang makna sejati yang terkandung dalam kedua kata tersebut. Namun, penting bagi kita untuk memahami pentingnya sabar dan ikhlas sebagai pilar penuntun dalam menjalani kehidupan. Sebelumnya kita perlu untuk memahami definisi dari kata sabar yang memiliki sebuah makna “ketahanan diri dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan”. Dalam kondisi seperti masa kini, kesabaran merupakan suatu sikap yang sangatlah penting. Karena banyak sekali hal yang terjadi diluar kendali kita, seperti kemacetan lalu lintas, terkena suatu musibah, atau bahkan berita negatif yang mendominasi media. Namun, sebagai umat Muslim, kita dituntut untuk menjaga kesabaran kita dalam menghadapi semua ini. Diriwayatkan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada hikmah di balik apa yang ditunda, kecuali kesabaran dan tidak ada kesalahan dalam menghadapi apa yang ditimpa, kecuali kesabaran pula.” Sementara itu, keikhlasan adalah keadaan di mana seseorang melakukan sesuatu dengan hati yang tulus tanpa adanya suatu harapan atau keinginan yang tersembunyi. Ikhlas membawa kebaikan bagi kita dan orang lain yang berada di sekitar kita. Ketika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, semuanya terasa lebih ringan dan berkah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Ingatlah, jika kamu berbuat baik, kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, sesungguhnya kamu berbuat untuk dirimu sendiri pula.” (QS. Al-Isra: 7). Ini menekankan pentingnya ikhlas dalam berbagai aspek kehidupan Sabar dan ikhlas adalah dua sikap penting yang harus dimiliki dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan sabar, kita dapat menjaga ketenangan dalam menghadapi permasalahan, sedangkan dengan ikhlas, kita dapat menerima segala keadaan dengan lapang dada. Kedua sikap ini tidak hanya penting dalam agama, tetapi juga memiliki dampak yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita mampu bersabar dan ikhlas, kita dapat menghadapi permasalahan dengan bijak dan mengambil tindakan yang tepat untuk meraih kebaikan di masa depan. Oleh karena itu, mari kita kembangkan kedua sikap ini dalam diri kita dan jadikan sebagai kunci untuk menghadapi setiap ujian hidup. Bersabarlah dalam menjalani proses, dan ikhlaslah dalam menerima segala keadaan. Dengan begitu, kita akan dapat menghadapi setiap tantangan hidup dengan sikap yang baik dan bijak.

Info

Makna Hijrah

  Dibuat oleh: Admin Senin, 14 Oktober 2024 / 11 Rabiulakhir 1446 H Makna Hijrah Hijrah atau secara bahasa diambil dari kata (الهجر) yang artinya meninggalkan. Adapun secara istilah syariat yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Muhammad at Tamimi Rahimahullah dalam risalahnya Tsalatsatul Ushul, وَالهِجْرَةُ: الاِنْتِقَالُ مِنْ بَلَدِ الشِّرْكِ إِلى بَلَدِ الإِسْلاَمِ “Hijrah adalah berpindah dari negeri syirik menuju negeri Islam” (Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin). Hijrah sendiri memiliki dua bentuk, yaitu : Hijrah tempat Hijrah tempat adalah hijrah dari negeri musyrik ke negeri Islam sebagaimana penjelasan di atas. Hijrah tempat memiliki contoh seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan umat muslim yang berpindah dari kota Makkah ke kota Madinah, hal ini dilakukan karena pada masa itu Makkah adalah kota yang berisi bani quraisy yang masih Jahiliyah sehingga Rasulullah mengajak para umatnya untuk hijrah ke Madinah karena keadaan kota disana lebih baik. Hijrah Maknawi Hijrah ini memiliki makna perpindahan suatu posisi pola hidup yang pada awalnya buruk (Maksiat) menuju kepada kebaikan (ketaatan kepada Allah SWT). Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi : والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه “Dan Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang” (HR. Bukhari). Demikianlah kedua jenis hijrah yang bisa penulis sampaikan dalam artikel kali ini, apabila masih banyak sekali kekurangan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya. Semoga kita selalu bersemangat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar bisa berjumpa dengan baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. 

Info

Berbuat Baik Untuk Dirimu Sendiri

  Dibuat oleh: Admin Jum’at, 11 Oktober 2024 / 8 Rabiulakhir 2024 Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin karena memiliki banyak sekali ajaran-ajaran kebaikan, seperti kebaikan terhadap sesama manusia maupun makhluk Allah yang lain. Pada artikel kali ini admin mengajak pembaca untuk membahas tentang perbuatan baik yang mana pada akhirnya jika kita melakukan perbuatan baik, maka kebaikan tersebut akan kembali kepada diri kita sendiri. Sesuai dari isi Al-Quran dalam surah Al-Isra’ ayat 7 yang berbunya : “إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ” Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri.” Ayat ini menjelaskan suatu makna yang sangat mendalam tentang bagaimana kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali ke diri kita sendiri, lalu apa saja manfaat kebaikan yang kembali pada diri kita? Mari kiita ulas bersama-sama. Yang pertama  ada kesejahteraan mental dan emosional, studi menunjukan bahwasannya tindakan kebaikan dapat memicu pelepasan hormon endorfin yang meningkatkan perasaan positif dan menghilangkan stres Kedua yaitu dapat meningkatkanan hubungan Sosial, perbuatan baik dapat menciptakan suatu ikatan yang kuat antara individu hal ini karena apabila kita berbuat baik, maka akan membangun jaringan sosial yang lebih erat dan mendukung kepada sesama manusia sehingga akan memberikan rasa aman dan kepuasan sosial tersendiri. Ketiga memberikan dampak positif untuk jangka panjang, misalnya saat kita membantu seseorang yang sedang berada pada keadaan sulit dapat menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan produktif sehingga diri kita juga akan merasakan kepuasan tersendiri. Yang terakhir, dalam segi spiritual. Berbuat baik adalah salah satu cara kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT karena melalui kebaikan tersebut. Seorang muslim dapat merasakan kebahagiaan batin yang mendalam, rasa damai serta merasa lebih dekat kepada Allah SWT. Ayat di atas mengingatkan kita bahwa setiap tindakan baik yang kita lakukan tidak hanya bermanfaat bagi orang lain, tetapi juga bagi diri kita sendiri. Dalam Islam, kebaikan adalah investasi jangka panjang yang akan membawa kebaikan kembali kepada pelakunya, baik dalam bentuk kesejahteraan mental, hubungan sosial yang lebih baik, maupun pertumbuhan spiritual.

Info

Kurma, Buah Kesukaan Rasulullah dan Manfaatnya Bagi Tubuh

  Dibuat oleh: Admin Rabu, 9 Oktober 2024 / 6 Rabiulakhir 1446 H Buah kurma merupakan salah satu buah kesukaan Nabi Muhammad SAW. Bahkan Rasulullah sangat mengajurkan agar umat Islam berbuka puasa dengan buah kurma. Rasulullah juga bersabda tentang anjuran berbuka puasa menggunakan buah kurma,seperti yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa Rasulullah SAW bersabda “ Disebutkan dalam hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, maka berbukalah dengan kurma , sebab kurma itu mendatangkan berkah. Namun apabila tidak ada, berbukalah dengan air karena air itu bersih.” Lalu apa saja manfaat dari mengonsumsi buah kurma bagi tubuh kita sehingga Rasulullah sendiri sangat menganjurkan kita sebagai umatnya untuk mengonsumsi buah tersebut? Mari kita bahas bersama dalam artikel kali ini. Dikutip dari  kementrian kesehatan dalam artikelnya, disebutkan bahwa terdapat banyak manfaat dari mengonsumsi buah kurma bagi kesehatan tubuh antara lain seperti : Mencukupi Kebutuhan Gizi dan Kalori Sebagian besar kalori kurma dari karbohidrat dan sisanya dari protein. Meski tinggi kalori, kurma mengandung vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Melancarkan Sistem Pencernaan Dengan kandungan serat di dalam kurma, Anda dapat memasukkan kurma ke dalam diet harian. Serat dalam kurma dapat mencegah konstipasi dan membuat gerakan usus besar lebih teratur. Mencegah Penyakit Kronis Manfaat konsumsi kurma setiap hari yakni dapat terhindar dari beberapa penyakit kronis. Dikarenakan karena antioksidan dari kurma. Menstabilkan Gula Darah dan Pengganti Gula yang Lebih Sehat Dengan rasa yang manis, kurma dapat digunakan sebagai pengganti gula putih. Tidak hanya memaniskan, kurma kaya nutrisi, serat dan antioksidan. Meski masih membutuhkan penelitian, buah kurma dipercaya bisa memperbaiki kesehatan tulang dan membantu mengatur gula darah. Jadi Menu Tambahan dalam Diet Kurma dapat dimakan langsung maupun dikombinasikan dengan makanan sehat lain, seperti kacang almond, keju, oatmeal dan sebagainya. Tetapi karena kalorinya cukup tinggi, sebaiknya tidak perlu menambahkan terlalu banyak pada makanan / minuman. Mengganti Elektrolit Tubuh yang Hilang Dengan kadar potassium yang tinggi yakni salah satu unsur elektrolit yang dibutuhkan tubuh, kurma bermanfaat untuk menguatkan tubuh sekaligus membangun otot dalam tubuh. Melindungi Tubuh dari Peradangan Agar tubuh terlindungi dari radang, dibutuhkan asupan antioksidan yang cukup, yakni dari polifenol. Buah kurma kaya akan polifenol dibandingkan buah lain. Meningkatkan Kesuburan Kurma memiliki kandungan asam amino dan seng. Buah kurma dapat meningkatkan kesuburan, baik pada wanita maupun pria. Mencegah Anemia Manfaat kurma yang terakhir adalah buah kurma dapat membuat Anda tidak mudah lelah dan pucat karena anemia. Dengan makan kurma tiap hari, kandungan zat besinya akan meningkatkan produksi sel darah merah. Demikianlah beberapa manfaat dari mengonsumsi buah kurma bagi tubuh sehingga sangat jelas alasan mengapa Rasulullah SAW menganjurkan kita sebagai umatnya untuk mengonsumsi buah kurma.  

Info

Kemiskinan Dan Sikap Zuhud

Dibuat oleh: Admin Selasa, 8 Oktober 2024/5 Rabiulakhir 1446 H Kemiskinan Dan Sikap Zuhud   Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : ۞ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ Hai manusia, Kalianlah yang membutuhkan Allah.(QS. Fatir : 15 ) Perlu kita pahami bersama bahwa orang fakir sesungguhnya ialah orang yang membutuhkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Dan semua manusia itu pasti fakir kepada Allah Ta’ala, karena kenyataanya manusia membutuhkan-Nya demi kelangsungan hidup mereka. Awal wujud mereka berasal dari-Nya dan itu bukan untuk mereka, tetapi untuk Allah karena dialah yang maha kaya. Mereka yang miskin harta ialah orang yang tidak memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sesuai dari kitab Ihya’ Ulumuddin dalam pembahasan ke34 yang membahas seputar kemiskinan menyebutkan orang miskin memiliki beberapa keadaan. Yang pertama diantaranya ialah ia tidak menyukai harta dan cenderung menghindarinya. Orang yang memiliki keadaan seperti ini disebut sebagai orang yang zuhud (mengalihkan kesenangan dari sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik.). Kedua, orang yang tidak menghindari tetapi juga tidak menginginkan harta. Namun, jika ada (memiliki harta) ia tidak membenci harta tersebut. Hal ini disebut sebagai orang yang ridha. Ketiga adalah orang yang lebih suka harta daripada tidak memilikinya sehingga jika dia memiliki harta dia akan merasa senang, namun dia tidak berupaya untuk mencarinya. Keempat adalah orang yang merasa harus memiliki harta yang belum dia miliki, sehingga dia bagaikan seseorang yang telanjang dan tidak memiliki pakaian untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Orang yang seperti ini jika tidak memiliki keinginan maka keberadaanya jarang ditemui. Orang yang seperti ini dikatakan sebagai orang yang zuhud sejati. Dari segala keadaan yang tertulis diatas yang memiliki derajat lebih tinggi ialah orang yang menganggap ada atau tidaknya sebuah harta sama saja baginya, bagi harta yang berada ditanganya banyak maupun sedikit. Ia tidak peduli dan tidak pernah menolak apabila ada orang yang meminta hartanya, bahkan dia tidak lagi memikirkan kebutuhan dirinya sendiri (karena lebih memikirkan kebutuhan orang lain). Dalam sebuah riwayat dikatakan  bahwa Aisyah ra., sesungguhnya ia mendapat uang sebesar seratus ribu dirham sebagai pemberian, lalu ia membagi-bagikannya tanpa memikirkan kebutuhannya untuk berbuka, sehingga ada seorang pelayan yang berkata “ seandainya yang satu dirham engkau belikan daging, tentu engkau bisa berbuka dengannya.” Aisyah berkata “ coba kalau tadi engkau mau mengingatkan aku, tentu saranmu ini akan aku turuti.” Dari kisah diatas bisa kita simpulkan bahwa dalam keadaan tertentu, seseorang bisa saja memiliki sikap zuhud yang luar biasa, karena dirinya perlu untuk diingatkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya terlebih dahulu sebelum memikirkan kebutuhan orang lain. Dari kisah diatas penulis merasa bahwa riwayat tersebut merupakan tamparan keras karena pada saat ini penulis masih memiliki kecenderungan untuk memikirkan kebutuhan diri sendiri sehingga terlampau banyak keinginan keinginan semu. Naudzubillah  

Info

Doa yang Diajarkan Rasulullah Ketika Kita Mendapat Kesulitan

Dibuat oleh: Admin Rabu, 2 Oktober 2024 / 28 Rabiulawal 1446 H Kesulitan adalah suatu hal yang telah Allah takdirkan kepada setiap manusia selama masih berada di dunia. RasulullahSAW telah mengajarkan kita sebagai umat muslim tentang bagaimana cara dalam merespon segala kesulitan hidup yang sedang kita alami dengan cara berdo’a. lalu do’a seperti apa yang nabi Muhammad ucapkan ketika sedang mengalami kesulitan? Mari kita ulas bersama dalam artikel kali ini. Memohon kekuatan dalam segala ujian Yang pertama adalah doa’ yang dibaca oleh Rasulullah dalam memohon kekuatan dalam segala ujian yang Allah berikan kepada beliau baik dalam berdakwah, menghadapi musuh maupun dalam menangani masalah pribadi, salah satu do’a yang dipanjatkan rasulullah SAW ketika mengalami kesulitan berbunyi : “Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan.” Artinya : “Wahai Yang Maha Hidup, Yang Mengatur segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah segala urusanku, dan jangan biarkan aku mengurus diriku sendiri walaupun sekejap mata.” Salah satu makna dari do’a ini memberikan suatu pelajaran kepada kita agar selalu bergantung kepada Allah dalam segala urusan, dengan menyandarkan diri kepada-nya, kita dapat menemukan kekuatan dalam menangani segala kesulitan yang sedang dialami. Rahasia ketenangan hati dari do’a yang Nabi Muhammat panjatkan ketika menghadapi kesulitan Telah kita ketahui bersama bahwa, dalam perjalanan kisah hidup Nabi Muhammad penuh dengan berbagai ujian yang dimulai sejak usia beliau masih 6 bulan dalam kandungan telah menjadi yatim karena ayahnya meninggal dunia. Lalu ketika beliau menjadi yatim piatu ketika masih berusia 6 tahun, dibenci bahkan dimusuhi oleh bani quraisy dan masih banyak lagi kesulitan-kesulitan yang beliau alami selama menyebarkan agama Islam. Meskipun selalu berhadapan dengan segala permasalahan hidup, beliau selalu mampu untuk tetap tenang dalam merespon masalah-masalah tersebut. Berikut ini adalah salah satu doa yang dipanjatkan rasulullah ketika mengalami kesulitan berbunyi : “Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhli, wa a’udzu bika min ghalabatid-dayni wa qahrir-rijal.” Artinya : “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan hutang dan tekanan manusia.” Dengan mengamalkan doa-doa yang telah Nabi ajarkan kepada kita tidak hanya memberikan sebuah ketenangan dan kekuatan batin saja, akan tetapi juga membuat hubungan kita dengan Allah SWT juga semakin kuat serta manjadikannya sebuah solusi bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup. Dengan bersandar penuh pada Allah SWT melalui doa, kita dapat meraih kekuatan, ketenangan, dan optimisme untuk menghadapi segala cobaan dengan penuh keimanan dan keyakinan.