Pundi Surga

Author name: Pundi Surga

Info

Keutamaan Bagi Orang Yang Memuliakan Anak Yatim

Dibuat Oleh : Administrator Selasa, 16 Juli 2024 / 10 Muharram 1446 H Agama islam sangat memuliakan kedudukan anak yatim karena menjadi satu golongan yang pertama diantara orang-orang lemah yang paling berhak mendapat pertolongan. Perlu kita pahami bersama alasan mengapa didalam agama islam sangat memuliakan anak yatim karena jika kita lihat dalam realitanya ketika anak-anak yang berasal dari keluarga yang lengkap bisa menghabiskan waktu dan bersenda gurau bersama orang tua mereka,bisa mendapatkan perlindungan dan dukungan dari orang tua mereka, anak-anak yatim tidak pernah sekalipun merasakan hal yang sama karena orang tua mereka telah lebih dulu kembali kehadapan Allah SWT. Sehingga tidak heran apabila  banyak sekali anjuran yang diajarkan kepada kita untuk berbuat baik terhadap anak yatim. Seperti dalam hadits yang disampaikan oleh Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. (HR. al-Bukhari). Hadits tersebut bermakna bahwa orang-orang yang memberikan santunan kepada anak yatim memiliki kedudukan yang tinggi sesuai dengan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga kelak. Makna dari hadits diatas diperkuat oleh firman Allah SWT dalam QS. Al Maun : أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ (1) فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ (2) وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (3) فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6) وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ  (7 Artinya: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari pembalasan? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya’  dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al Maun: 1-7). Dari QS. Al Maun dapat kita pahami bersama bahwa apabila kita menghardik anak yatim  maka kita akan termasuk kedalam golongan orang-orang yang mendustakan agama. Naudzubillahi mindzalik. Lalu bagaimana cara kita untuk memuliakan anak yatim agar kita bisa dekat dengan Rasulullah diakhirat kelak? Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam memuliakan anak yatim seperti : Mengurus dan memelihara mereka Dengan kata lain, kita tidak boleh membiarkan kehidupan anak yatim ini terlantar dan menderita dengan membantu untuk memenuhi segala kebutuhan lahir maupun batin. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 220 dalam hal mengurus anak yatim: فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْيَتٰمٰىۗ قُلْ اِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۗ وَاِنْ تُخَالِطُوْهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَاَعْنَتَكُمْ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ Artinya: “Tentang dunia dan akhirat. Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik.” Jika kamu mempergauli mereka, mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah: 220). Memberikan kasih sayang Sebagai umat islam, sudah seharusnya bagi kita untuk menyebarkan kasih sayang terutama kepada kaum dhuafa dan anak yatim, karena mereka tidak merasakan peran orang tua dalam kehidupan sehingga wajib bagi kita untuk memberikan kasih sayang seperti kasih sayang orang tua kepada anaknya. Hal ini disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 8 yang berbunyi  : وَاِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ اُولُوا الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنُ فَارْزُقُوْهُمْ مِّنْهُ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا مَّعْرُوْفًا Artinya: “Apabila (saat) pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, berilah mereka sebagian dari harta itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” Menyantuni dan memberi nafkah Cara kita memuliakan anak yatim dengan cara menyantuni dan menafkahi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dalam berbagai bentuk seperti berupa uang tunai, fasilitas fasilitas pendidikan dan makanan yang dibutuhkan oleh setiap manusia, hal ini Allah sebutkan dalam firmannya di surah Al-Balad ayat 14 dan 15 : اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ Artinya: “(kepada) anak yatim yang memiliki hubungan kekerabatan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan” (Al-Balad: 14-15). Beberapa cara diatas dapat kita terapkan   dalam syiar memuliakan anak yatim, sesuai dengan anjuran dari nabi besar kita Muhammad SAW. Sehingga harapanya kita bisa mendapatkan kemuliaan diakhirat kelak serta masuk kedalam golongan orang orang mukmin yang dekat dengan Rasulullah Muhammad SAW disurga kelak. Amiin Allahuma Amin.

Info

Kisah Pedagang Kurma Yang Masuk Surga Karena Membantu Seorang Janda Dan Anak Yatim

Dibuat Oleh : Administrator Selasa, 9 Juli 2024/ 3 Muharram 1446 H Kebanyakan dari kita mungkin sudah terbiasa apabila mendengar kata anak yatim, namun apakah kita sudah tergugah untuk membantu kehidupan seorang anak yatim ketika menyaksikan langsung dihadapan kita? Secara tidak kita sadari, banyak sekali kisah yang menceritakan betapa beruntungnya kehidupan orang-orang yang berbuat baik kepada anak yatim yang bahkan tidak disadari oleh orang itu. Ada kisah yang menceritakan seorang pedagang kurma yang sangat kaya yang berasal dari negeri mesir bernama Athiyah Bin khalaf yang mengalami kebangkrutan hingga harta yang tersisa tinggallah pakaian yang dia gunakan untuk menutupi auratnya. Bertepatan dengan hari Asyura (hari ke-10 bulan Muharram) setelah melakukan sholat subuh berjamaah dimasjid Amr bin Ash. Ketika dirinya sedang berdoa kepada Allah SWT, datanglah seorang wanita bersama anak-anak kecil yang menghampirinya sembari berkata “Wahai tuan, aku meminta kepadamu, demi Allah, semoga engkau bisa meringankan kesulitanku dan sudi memberi sesuatu yang aku gunakan untuk bisa memenuhi kebutuhan makan-makan anak-anak ini. Sungguh, ayah mereka telah meninggal. Dia tidak meninggalkan sesuatu apa pun untuk mereka. Aku adalah syarifah. Aku tidak tahu siapa yang akan aku tuju. Aku tidak pernah keluar kecuali hari ini, itu pun karena darurat yang menjadikanku hajat untuk mengorbankan diriku. Dan itu juga bukan merupakan kebiasaanku”. Mengetahui hal tersebut dalam hati Athiyah berkata “ aku tidak memiliki apa-apa selain baju yang ku pakai ini. Jika aku lepas tubuhku akan terbuka dan auratku akan terlihat. Namun jika wanita ini aku tolak, alasan apa yang akan aku sampaikan kepada Rasulullah kelak?”. Lantas Athiyah berkata kepada wanita tersebut “ Mari pergi kerumahku. Aku akan memberimu sesuatu”’ ucapnya. Setelah sampai rumah bersama wanita tadi, dirinya langsung masuk rumah dan melepas pakaian yang dia kenakan dan menggantinya dengan sari lusuh. Lalu athiyah memberikan pakaian yang telah dia lepas kepada wanita tersebut, kemudian wanita itu berkata kepadanya “emoga Allah memberikan pakaian-pakaian surga kepadamu, sehingga engkau tidak butuh kepada orang lain selama hidupmu,”. Dikisahkan ketika Athiyah tertidur beliau bermimpi melihat bidadari yang teramat cantik hingga tidak ada wanita yang lebih cantik dari bidadari tersebut yang ditanganya terdapat buah yang aromanya sangat mengharumkan. Lantas Athiyah bertanya “ siapakah kamu ini?” dan sang bidadaripun menjawab “ aku adalah Asyura, istrimu disurga.” Jawab si bidadari tersebut, Athiyah kembali bertanya “Dengan amalan apa aku memperoleh kemuliaan ini?” kemudian bidadari itu menjawab “ dengan seorang janda miskin dan anak-anak yatim yang kemarin engkau berbuat baik kepadanya” jawab si bidadari. Setelah itu Athiyah terbangun dari tidurnya dengan kondisi harum mewangi seisi rumahnya, lantas ia pun mendirikan sholat dua rokaat sebagai bentuk syukurnya kepada Allah sembari berdoa : إِلَهِيْ إِنْ كَانَ مَنَامِيْ حَقًّا، وَهَذِهِ زَوْجَتِيْ فِي الْجَنَّةِ فَاقْبِضْنِيْ إِلَيْكَ. فَمَا اسْتَتَمَّ الْكَلَامَ حَتَّى عَجَّلَ اللهُ بِرُوْحِهِ إِلىَ دَارِ السَّلاَمِ Artinya, “Wahai Tuhanku, jika mimpiku itu benar, dan bidadari dalam mimpiku itu adalah istriku di dalam surga, maka matikanlah aku saat ini juga untuk bertemu dengan-Mu.” belum sampai  doa itu selesai  dipanjatkan, Allah menyegerakan ruh Athiyah bin Khalaf ke surga Darussalam. Demikianlah kisah dari Athiyah bin Khalaf, seorang pedagang kurma yang mengalami kebangkrutan hamun dia tetap membantu seorang janda dan anak-anak yatim yang mengalami kesusahan dengan satu satunya harta yang dia punya (pakaian satu satunya) sehingga dimasukkan kedalam surga oleh Allah SWT. Semoga dari kisah ini kita menjadi terinspirasi untuk berlomba lomba dalam melakukan amal kebaikan serta menggugah hati nurani kita untuk selalu menyantuni dan memberikan kasih sayang kepada anak yatim di awal tahun hijriyah sehingga apa yang kita jalani tahun ini bisa lebih baik dan lebih bermanfaat kepada sesama dari tahun lalu, amiin.   Kisah ini diambil dari kitab karya syekh Zainuddin al-Malibari yang berjudul “ Irsyadul ‘Ibad ila Sabilir Rasyad”

Info

Keutamaan Bulan Muharram

Dibuat oleh : Administrator Senin, 8 Juli 2024 / 2 Muharram 1446 H Setelah kita melalui musim ibadah Haji dan menyembelih hewan qurban pada hari raya Idul Adha pada bulan Dzulhijjah, tidak terasa bahwa sekarang kita telah memasuki bulan Muharram. Bulan  Muharram adalah bulan pembuka (tahun baru) dalam kalender hijriyah, bulan Muharram memiliki kemuliaan dipandangan Allah SWT. Dalam bulan Muharram terdapat keutamaan-keutamaan serta sejarah yang penting dalam perjalanan umat islam. Bulan Muharram berasal dari kata haram (حرم) yang artinya suci atau terlarang. Dinamakan Muharram, karena pada  zaman dahulu, pada bulan ini dilarang berperang dan membunuh. Larangan itu terus berlaku hingga masa Islam. Bahkan bulan Muharram termasuk salah satu bulan haram, sebagaimana telah menjadi kesepakatan diantara kaum muslimin pada zaman khalifah yang mendapat petunjuk Umar bin Khathab semoga Allah meridhoinya,  bulan Muharram adalah salah satu bulan yang diharamkan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang telah disebutkan dalam kitab-Nya, Allah Ta’ala  berfirman: قال الله تعالى:  إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُۚ فَلَا تَظۡلِمُواْ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمۡۚ … [التوبة: 36] “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. [at-Taubah/9: 36]. Bulan Muharram juga dikenal sebagai “syahrullah” atau “bulan Allah”. Pada bulan ini umat islam yang melakukan haji telah menyelesaikan semua tuntunanya, pada bulan Muharram juga awal kemunculan tekad kaum muslimin untuk melakukan hijrah ke Madinah setelah baiat aqabah II. Puasa yang dilakukan pada bulan Muharram adalah puasa terbaik setelah puasa yang dilakukan pada bulan Ramadhan, seperti sabda Rasulullah Muhammad SAW : عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  :  أفضلُ الصيامِ بعدَ رمضانَ شهرُ اللهِ المحرَّمُ, وأفضلُ الصلاةِ بعدَ الفريضةِ صلاةُ الليل ) وفي رواية: ( الصلاة في جوف الليل – أخرجه مسلم Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan (Allah) Muharam, dan sebaik-baik sholat setelah sholat wajib adalah sholat malam“. Dan pada riwayat yang lain beliau mengatakan: “Sholat yang di kerjakan pada pertengahan malam“. HR Muslim, umat Islam  dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharam (puasa tasu’a) dan 11 Muharam. Inilah yang menjadi pembeda antara umat Islam dengan umat Yahudi, yang mana mereka (umat yahudi) hanya berpuasa di hari Asyura. Selain itu, keutamaan yang ada pada bulan Muharram terdapat pada dilipat gandakannya pahala dari amalan amalan baik yang dilakukan setiap umat muslim. Namun yang perlu kita pahami bersama bahwa dosa juga dicatat dengan perhitungan yang sama (dilipat gandakan). Dan firman Allah Ta’ala: “Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu”. Artinya yaitu didalam bulan Muharam, dikarenakan lebih keras dan kuat penegasanya akan larangan dalam melakukan dosa dibanding dengan bulan-bulan yang lainya. Abu Qatadah mengatakan: “Sesungguhnya berbuat dholim pada bulan Muharam lebih besar dosanya di banding dengan kedholiman yang dikerjakan pada bulan lainya, walaupun perbuatan dholim yang di kerjakan pada selain bulan itu tetap besar dosanya, akan tetapi Allah Ta’ala mengagungkan dari urusan-Nya sesuai yang dikehendaki-Nya.” Setelah kita memahami anjuran-anjuran yang disampaikan oleh junjungan kita Rasulullah SAW, mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan serta selalu mengharap ridho Allah SWT pada bulan Muharram yang mulia ini. Semoga kita dimasukkan kedalam golongan orang-orang mukmin dan termasuk kedalam umat Rasulullah SAW.       (Referensi : https://almanhaj.or.id/84659)

Info

Memahami Segala Bentuk Rezeki Yang Telah Allah Berikan

Dibuat oleh : Administrator Rabu, 3 Juli 2024 / 26 Dzulhijjah 1445  H Dalam pandangan Islam, rezeki adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada setiap hamba-Nya secara proporsional sesuai dengan firman Allah dalam QS.Hud ayat 6 yang berbunyi : وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا “Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya.” (QS. Hud: 6). Tidak ada yang namanya rezeki yang sempurna atau rezeki yang kurang, karena setiap rezeki yang kita terima adalah rezeki yang terbaik dari Allah SWT untuk kita, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893). Maka dari itu bisa kita pahami bersama bahwa rezeki bukan hanya materi semata seperti uang atau harta benda, tetapi juga mencakup berbagai aspek kehidupan lainnya seperti kesehatan, ilmu pengetahuan, kebahagiaan, dan ketenangan hati2. Jadi, kita sebaiknya bersyukur atas apa pun yang Allah berikan kepada kita, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Setelah kita kita pahami bersama apa itu rezeki, mari kita bersama sama mempelajari konsep rezeki yang Allah berikan kepada hambanya. Dalam pembagian  rezeki, Allah SWT  memberikan rezeki terbagi menjadi dua bentuk yakni rezeki yang sifatnya umum (الرزق العم) dan rezeki yang sifatnya khusus (الرزق الخاص). Rezeki yang bersifat umum (الرزق العم) Ini mencakup segala sesuatu yang memberikan manfaat bagi badan, seperti harta, rumah, kendaraan, dan kesehatan. Rezeki ini dapat berasal dari yang halal maupun haram, dan Allah memberikannya kepada seluruh makhluk-Nya, baik orang muslim maupun orang kafir. Rezeki yang bersifat khusus (الرزق الخاص) Ini melibatkan bentuk-bentuk rezeki yang lebih spesifik, seperti ilmu, akhlak, kecantikan, pangkat, dan lain sebagainya. Rezeki ini juga dapat berupa harta, tetapi memiliki dimensi yang lebih mendalam, terkait dengan ketakwaan dan keberkahan. Lalu mengapa Rezeki yang Allah berikan berbeda beda kepada setiap individu? Ada beberapa alasan mengapa Allah berbeda dalam membagi rezekinya Tujuan Ujian dan Cobaan: Rezeki adalah bagian dari ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada kita. Perbedaan rezeki memungkinkan kita mengalami berbagai situasi dan menguji ketakwaan serta kesyukuran kita, dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ “Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat.” (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Rezeki Halal dan Haram: Rezeki haram (yang diperoleh dengan cara yang tidak halal) memiliki manfaat yang tidak bertahan lama. Sedangkan rezeki yang halal, meskipun terlihat sedikit, memiliki keberkahan yang berkelanjutan. Dalam riwayat Saad bin Abi Waqqash mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ “Sesungguhnya tidaklah engkau memberikan nafkah, dengan mengharap Wajah Allah (ikhlas), kecuali engkau akan diberi pahala karenanya. Sekalipun nafkah itu (hanya berupa) sesuap (makanan) yang kau suapkan pada istrimu.” (H.R al-Bukhari). Bentuk Rezeki yang Luas: Rezeki bukan hanya tentang uang semata. namun Ilmu, akhlak, kecantikan, pangkat, dan kesehatan juga termasuk dalam kategori rezeki yang Allah berikan. Ketidakterbatasan Rezeki dari Allah sehingga terkadang, rezeki yang kita terima jumlahnya jauh lebih besar daripada yang kita usahakan. Perlu kita ingat kebali bahwa rezeki adalah suatu anugrah yang besar dari Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, marilah kita bersama sama selalu bersyukur atas apapun yang Allah berikan kepada diri kita, baik dalam bentuk materi berupa uang dan harta benda maupun bentuk non materi berupa kesehatan,ketakwaan kepadanya.

Info

Bahayanya Terlalu Mencintai Harta

Dibuat oleh: Administrator Senin,1 Juli 2024 / 24 Dzulhijjah 1445 H Rasa cinta kepada harta dunia adalah suatu perasaan yang cenderung dimiliki banyak orang, sangat banyak kisah yang telah disampaikan tentang orang-orang terdahulu seperti kisah Qarun yang mana harta mampu membuatnya sombong kepada Allah. Allah SWT telah melimpahkan kekayaan padanya bukan sebagai suatu berkah akan tetapi limpahan harta yang Allah berikan adalah istidraj sehingga Qarun makin tenggelam dengan keingkarannya kepada Allah. Kekayaan yang Allah limpahkan kepada Qarun tidaklah sedikit, bahkan dalam kisahnya disebutkan bahwa tumpukan kunci gudang yang ia gunakan untuk menyimpan hartanya tidaklah mampu diangkat oleh orang-orang kuat sekalipun,sehingga bisa kita bayangkan bersama seberapa banyak harta yang dimiliki Qarun sehingga dia bisa menjadi seorang yang sombong dan angkuh kepada Allah. Dalam hal ini, istidraj bagi Qarun adalah suatu jebakan berupa kelapangan rezeki, yang diberi dalam keadaan terus menerus meski ingkar kepada Allah SWT. Hal itu tergambar dalam hadis riwayat Uqbah bin Amir bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari [perkara] dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan] dari Allah),” (H.R. Ahmad). Kisah Qarun yang melampaui batas ini diabadikan dalam Al-Quran yang berbunyi “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. Ingatlah ketika kaumnya berkata kepadanya: ‘Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri,” (QS. Al-Qasas [28]: 76). Peringatan keras yang telah Allah sampaikan kepada manusia atas harta dunia terdapat dalam surat Al Munafiqun ayat 9 yang berbunyi : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ Artinya “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi ”. Rasulullah SAW juga berpesan, “ diantara keturunan Adam (manusia) ada yang berkata “ Hartaku adalah hartaku”. Padahal sesungguhnya kalian tidak memiliki sedikitpun bagian dari harta itu, kecuali yang telah kalian sedekahkan, sehingga menjadi kekal nilai pahalanya. Juga kalian makan sampai habis dan yang kalian pakai hingga usang.” Lalu ada seorang sahabat bertanya, “ wahai Rasulullah, kenapa aku merasa tidak menyukai mati.” Beliau balik bertanya “ Apakah lantaran engkau memiliki banyak harta?” sahabat menjawab “ Benar “ Rasulullah menyarankan padanya “ Nafkahkanlah hartamu, karena hati orang mukmin itu beserta harta yang dinafkahkannya (dijalan Allah). Dimana apabila hartanya itu dinafkahkan, makan ia pasti selalu menyertainya. Dan jika ditinggalkan, maka ia hanya ingin tinggal sementara bersamanya.” Yang perlu kita ketahui bersama bahwa harta juga memiliki sifat terpuji karena dalam beberapa firmanya Allah menyebutkan harta dengan menggunakan kata Khairan (kebaikan). Sebagaimana Allah berfirman : اِنْ تَرَكَ خَيْرًاۖ ࣙالْوَصِيَّةُ “ Jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiatlah” Diperkuat dengan statemen Rasulullah “ Sebaik baiknya harta yang halal ialah milik orang-orang sholeh.” Sesungguhnya apa yang dituju oleh orang-orang yang bijak adalah kebahagiaan yang abadi dan harta adalah salah satu sarana untuk mencapai kebahagiaan abadi tersebut. Perumpamaan harta ialah seperti ular yang mengandung racun sekaligus obat penawar. Diantara manfaatnya seperti obat penawar, sedsngkan bahaya yang dikandungnya seperti racun, maka barangsiapa mengetahui lalu bisa menghindar dari racunya dan memanfaatkan obat penawarnya, maka ditangannya harta menjadi terpuji. Lalu bagaimana sikap kita apabila menyaksikan seseorang yang memiliki kelebihan harta? Kita juga tidak diperkenankan untuk menyimpan rasa iri dengki kepada orang yang memiliki harta yang berlebih karena dengan keadaan yang sedang kita alami sekarang akan menjadi terpuji apabila kita tidak bersikap dengki terhadap milik orang lain (saudaranya), semua itu tidak akan terwujud kecuali jika kita melazimkan sifat qanaah (menerima bagian dengan ikhlas) sesuai dengan kadar yang kita butuhkan. Seperti makan,minum dan pakaian. Sehingga merasa cukup atas jumlah yang paling sedikit dan rendah sekalipun. Rasulullah SAW bersabda إِنَّ رُوْحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي إِنَّ نَفْسًا لاَ تَمُوْتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقُهَا ، فَاتَّقُوْا اللهَ وَأَجْمِلُوْا فِي الطَّلَبِ “Sesungguhnya malaikat Jibril, telah membisikkan ke dalam hatiku bahwa jiwa manusia tidak akan mati sebelum dipenuhi rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah permintaanmu. (HR. Musnad Ibnu Abi Syaibah 8: 129 dan Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 8: 166, hadits sahih. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah no. 2866). Semoga kita selalu terbiasa dalam menyikapi sifat qana ah dan menghindari rasa iri dengki kepada sesama yang dapat menyebabkan penyakit hati sehingga kita termasuk dalam golongan orang orang mukmin. Wallahua lam.  

Info

Zakat Dalam Pembangunan Nasional

Dibuat oleh: Adminintrator Rabu, 26 Juni 2024 / 19 Dzulhijjah 1445 H   Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam pembangunan nasional. Kewajiban bagi umat Islam yang mampu ini, selain membantu mereka yang membutuhkan, juga dapat menjadi sumber pendanaan signifikan untuk program sosial dan ekonomi. Potensi Zakat untuk Pemberdayaan Ekonomi Menurut Indikator Pemetaan Potensi Zakat (IPPZ) per tahun 2020, potensi zakat di Indonesia mencapai Rp327,6 Triliun. Angka ini menunjukkan besarnya potensi zakat untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional. Zakat dapat menjadi instrumen strategis dalam pengentasan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Pendistribusian zakat yang tepat dan efektif dapat membantu usaha mikro dan kecil, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Upaya Memaksimalkan Potensi Zakat Meskipun potensinya besar, realisasi penghimpunan zakat di Indonesia masih rendah. Pada tahun 2021, zakat yang berhasil dikumpulkan hanya sebesar Rp14 triliun, atau sekitar 8,9% dari potensi total. Untuk memaksimalkan potensi zakat, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk: Peningkatan literasi zakat: Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kewajiban dan manfaat zakat. Penguatan kelembagaan: Memperkuat peran Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dalam pengelolaan zakat yang profesional, transparan, dan akuntabel. Pengembangan sistem pengelolaan zakat yang modern: Memanfaatkan teknologi informasi untuk memudahkan penyaluran dan pendataan zakat. Peningkatan kerjasama: Meningkatkan kerjasama antara BAZNAS, LAZ, pemerintah, dan sektor swasta dalam program pemberdayaan masyarakat melalui zakat. Peran Strategis Zakat dalam Pembangunan Nasional Zakat memiliki peran strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional, yaitu: Pengentasan kemiskinan: Zakat dapat membantu masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan taraf hidup. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat: Zakat dapat digunakan untuk membiayai program pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang bermanfaat bagi masyarakat. Mewujudkan keadilan sosial: Zakat dapat membantu menjembatani kesenjangan ekonomi dan sosial antar kelompok masyarakat. Memperkuat nilai-nilai agama: Zakat dapat menjadi sarana untuk memperkuat nilai-nilai agama dan moral bangsa. Kesimpulan Zakat memiliki potensi besar untuk menjadi instrumen penting dalam pembangunan nasional. Dengan pengelolaan yang efektif dan akuntabel, zakat dapat berkontribusi signifikan dalam pengentasan kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mewujudkan keadilan sosial. Referensi: https://kemenag.go.id/nasional/potensi-zakat-nasional-mencapai-rp-100-triliun-gf0136 https://www.bappenas.go.id/tags-berita/443 https://baznas.go.id/  

Info

Keutamaan Menyantuni Anak Yatim dalam Islam

  Dibuat oleh : Administrator Selasa, 25 Juni 2024 / 18 Dzulhijjah 1445 H   Anjuran menyantuni anak yatim sangat ditekankan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, tak heran apabila anak yatim memiliki kedudukan yang sangat istimewa di mata Islam. Ada beragam keutamaan apabila kita menyantuni anak yatim. Allah SWT tidak hanya menjanjikan surga bagi orang-orang yang ikhlas dan tulus merawat dan menyayangi anak yatim. Tapi juga berbagai pahala lainnya yang akan diberikan kepada orang-orang tersebut, baik selama hidup di bumi maupun ketika sudah berada di akhirat. Anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati oleh ayahnya saat masih kecil atau belum memasuki usia baligh. Anak yatim yang kurang mampu memiliki kedudukan yang utama dan menjadi prioritas dalam menerima santunan, zakat, infaq, dan shodaqoh. Mereka sangat dimuliakan oleh Allah SWT hingga disebut sebanyak 23 kali di dalam Al-Quran. Melalui Al-Qur’an Allah SWT secara tegas mengatakan bahwa anak yatim adalah sosok yang harus dikasihi, dipelihara dan diperhatikan seperti yang tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 220: “Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakan lah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,”. Berikut adalah beberapa keutamaan menyantuni anak yatim yang perlu kita ketahui: Meraih Peluang Menjadi Teman Rasulullah SAW di Surga Dalam hadis, disebutkan bahwa orang yang mengasihani dan merawat anak yatim akan memiliki kedudukan dekat dengan Rasulullah SAW di surga. Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, « أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً “ “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta agak merenggangkan keduanya. Pengasuh Anak Yatim Mendapat Pahala Seperti Berjihad Orang yang mengasuh anak yatim dengan tulus akan mendapatkan balasan Pahala setara dengan pahala orang yang pergi berjihad dijalan Allah SWT. Rasulullah SAW juga menjelaskan di saat seseorang menyantuni anak yatim, maka orang tersebut sama seperti bangun di malam hari dan berpuasa di siang hari yang kemudian dilanjutkan pergi di pagi dan sore hari untuk jihad di jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. Mendapat Predikat Abror (Saleh atau Taat Kepada Allah) Menyantuni anak yatim termasuk golongan orang yang taat kepada Allah. Telah kita ketauhi bersama bahwasanya orang yang suka menghardik anak yatim dimasukkan kedalam golongan para pendusta. Begitupun sebaliknya, Bahwa orang-orang yang sangat mengasihi dan memberikan santunan kepada anak-anak yatim akan masuk dalam golongan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah: 177 “Dan memberikan harya yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” Menghindarkan Siksa Di Akhirat Orang yang menyayangi anak yatim akan kelak oleh Allah akan diselamatkan dari siksanya di akhirat kelak seperti sabda Rasulullah SAW : “Demi yang mengutusku dengan hak, Allah tidak akan menyiksa pada hari kiamat nanti orang yang menyayangi anak yatim, lemah lembut pembicaraan dengannya, menyayangi keyatiman dan kelemahannya.” [HR Thabrani dari Abu Hurairah] Investasi Amal untuk Akhirat Menyantuni anak yatim dapat menjadi pahala jariyah yang terus mengalir setelah kita meninggal dunia. Keutamaan menyantuni anak yatim berikutnya akan dijamin dengan surga kelak di akhirat. “ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ ضَمَّ يَتِيمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ “ Artinya: Dari Malik bin Harits salah seorang dari mereka bahwa ia mendengar Rasulullah Shallalahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjamin kehidupan seorang yatim yang ditinggal orang tuanya muslim, dengan memberinya makan dan minum hingga ia mandiri, maka wajib baginya surga.” (HR. Ahmad) [ No. 19442] Ingatlah bahwa mengasuh anak yatim bukanlah amalan yang mudah, tetapi pahalanya sangat besar. Semoga kita semua dapat berbuat baik kepada mereka dan meraih keberkahan.

Info

Makna Mendalam di Balik Telah Lewatnya Idul Adha : Refleksi dan Introspeksi Diri

Dibuat oleh: Administrator Senin, 24 Juni 2024 / 17 Dzulhijjah 1445 H Idul Adha, momen penuh makna dan pengorbanan, telah berlalu meninggalkan kenangan indah dan hikmah mendalam. Bagi umat Islam, Idul Adha bukan sekadar perayaan, tetapi juga momen refleksi dan introspeksi diri. Merenungkan Makna Pengorbanan Idul Adha identik dengan kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS, yang dihadapkan pada ujian terberat: mengorbankan Ismail sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Kesediaan Nabi Ibrahim untuk mengorbankan putranya yang tercinta menjadi bukti nyata keimanan dan ketaatannya yang luar biasa. Kisah ini mengingatkan kita tentang arti pengorbanan yang sesungguhnya. Pengorbanan bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang keikhlasan, ketaatan, dan komitmen untuk selalu patuh kepada Allah SWT, bahkan saat dihadapkan pada situasi yang berat. Meneladani Keikhlasan dan Kepedulian Idul Adha juga merupakan momen untuk meneladani keikhlasan Nabi Ismail AS yang rela dikorbankan demi ketaatannya kepada Allah SWT. Keikhlasan Ismail AS menunjukkan bahwa cinta dan ketaatan kepada Allah SWT jauh lebih besar daripada cintanya kepada diri sendiri dan orang lain. Semangat pengorbanan dan kepedulian juga terlihat dalam penyembelihan hewan kurban. Daging kurban tidak hanya dinikmati oleh yang berkurban, tetapi juga dibagikan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa. Hal ini merupakan wujud kepedulian terhadap sesama dan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Introspeksi Diri dan Memperkuat Keimanan Kini, Idul Adha telah berlalu, namun hikmahnya tidak boleh pudar. Mari jadikan momen ini sebagai refleksi diri untuk introspeksi dan memperkuat keimanan. * Apakah kita sudah memiliki keikhlasan dan ketaatan seperti Nabi Ibrahim AS? * Apakah kita sudah siap berkorban demi kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT * Sudahkah kita menunjukkan kepedulian terhadap sesama, seperti yang diajarkan dalam penyembelihan hewan kurban? Meskipun Idul Adha telah berlalu, mari jadikan hikmahnya sebagai pedoman hidup. Perkuat keimanan dan ketakwaan, perbanyak amal shaleh, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-Nya yang selalu patuh dan taat, serta senantiasa peduli terhadap sesama. Allahua’lam bishshowwab.  

Info

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

  Dibuat oleh: administrator Kamis, 13 Juni 2024 / 6 Dzulhijjah 1445 H Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam. Bulan ini memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Rasulullah menyebutkan dalam haditsnya yang berbunyi : إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان “Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya ). 3 bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Al Muharram, (dan yang terakhir ) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari). Ada beberapa keistimewaan didalam bulan Dzulhijjah, semoga setelah memahami apa saja keistimewaan-keistimewaan yang ada dalam bulan Dzulhijjah mampu membuat kita semakin dekat dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Beberapa keutamaan bulan Dzulhijjah yang perlu kita ketahui diantaranya: Salah Satu dari Empat Bulan Haram: Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa ada empat bulan haram, yaitu bulan-bulan yang di dalamnya dilarang berperang dan melakukan kezaliman. Dzulhijjah adalah salah satu dari bulan-bulan tersebut, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Qs.At taubah ayat 36 yang berarti “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa”. 10 Hari Pertama di bulan Dzulhijjah adalah Hari-Hari Terbaik Sepanjang Tahun: Allah bersumpah dengan fajar dan sepuluh malam dalam Surat Al-Fajr, yang para ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Ini adalah waktu untuk meningkatkan amalan dan ketaatan karena pahalanya sangat besar. Hari Arafah: Salah satu hari dalam bulan ini adalah Hari Arafah, yang merupakan hari dimana umat Islam yang sedang berhaji akan berwukuf di Padang Arafah. Hari ini juga memiliki keutamaan tersendiri, di mana puasa pada hari ini dapat menghapuskan dosa dua tahun yakni dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang. Ibadah Qurban: Di bulan Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk melakukan ibadah qurban, yaitu menyembelih hewan kurban sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah dan untuk berbagi dengan sesama. Penyempurnaan Islam: Islam disempurnakan oleh Allah pada bulan Dzulhijjah, yang menandai pentingnya bulan ini dalam sejarah Islam. Berkumpulnya Umat Islam Seluruh Dunia: Dalam bulan ini, umat Islam dari seluruh dunia berkumpul di tanah suci Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji, yang merupakan rukun Islam kelima. Dengan memahami keutamaan-keutamaan ini, kita dapat memanfaatkan bulan Dzulhijjah sebagai kesempatan emas dalam meningkatkan amalan dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan dan semakin memperbanyak ibadah di bulan yang mulia ini. Wallahu a’lam.

Info

Keutamaan Berqurban

Dibuat oleh : Administrator Rabu, 12 Juni 2024 05 Dzulhijjah 1445 H Keutamaan Berqurban Berqurban adalah suatu ibadah yang dilaksanakan pada hari raya idul adha. Kata kurban berasal dari bahasa arab qarriba – yaqrabu – qurbanan wa qirbanan, yang berarti dekat. Maksud dekat disini berarti mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengerjakan sebagian dari perintahnya. Kurban menjadi bentuk ibadah dalam mendekatkan diri kepada Allah supaya mendapatkan keridhaan-Nya. Sedangkan dalam lingkup sosial, kurban bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir miskin dan dhuafa pada Hari Raya Idul Adha. Karena itu, daging kurban hendaklah diberikan kepada mereka yang membutuhkan, boleh menyisakan secukupnya untuk dikonsumsi keluarga yang berkurban, dengan tetap mengutamakan kaum fakir dan miskin. Allah berfirman : فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” (QS. al-Hajj,). Berkurban termasuk salah satu syi’ar Islam dan termasuk bentuk ketaatan yang paling utama. Ia adalah syi’ar keikhlasan dalam beribadah kepada Allah semata, dan realisasi ketundukan kepada perintah dan larangan-Nya. Karenanya setiap muslim yang memiliki kelapangan rizki hendaknya ia berkurban. Ibadah kurban hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak diperintahkan sampai beliau wafat. Ketentuan kurban sebagai sunnah muakkad dikukuhkan oleh Imam Malik dan Imam al-Syafi’i. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa ibadah kurban bagi penduduk yang mampu dan tidak dalam keadaan bepergian (safar), hukumnya adalah wajib. Berkurban sarat dengan hikmah dan keutamaan, hal ini didasarkan dengan beberapa hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam : عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا Aisyah menuturkan dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya.” (Hadits Hasan, riwayat al-Tirmidzi ) Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa yang memiliki kemampuan untuk berkurban, tetapi ia tidak mau berkurban, maka sesekali janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Masih banyak lagi sabda Nabi yang lainnya, menjelaskan tentang keutamaan dalam berkurban. Bahkan pada haditst terakhir, disebutkan bahwa orang yang sudah mampu berkorban, tetapi tidak mau melaksanakanya, maka ia dilarang mendekati tempat shalat Rasulullah atau tempat (majelis) kebaikan lainya. Ibadah yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik bertujuan agar kita mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, kurban juga memiliki arti menghilangkan sikap egois, nafsu tamak dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, diharapkan seseorang akan mulai memaknai hidupnya untuk mencapai ridha Allah semata. Ia “korbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah daging atau darah hewan yang dikurbakan, melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang sampai kepada-Nya.