
Dibuat oleh: Admin
Rabu, 22 April 2026 / 5 Dzulqo’dah 1447 H
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita merasa cemas tentang rezeki: apakah cukup, kapan datangnya, atau mengapa terasa sulit. Padahal dalam ajaran Islam, kita meyakini bahwa rezeki setiap manusia sudah diatur oleh Allah. Keyakinan ini bukan untuk membuat kita pasif, melainkan justru menjadi sumber ketenangan sekaligus dorongan untuk terus berusaha.
Allah telah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa rezeki setiap makhluk berada dalam jaminan-Nya:
“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…”
(QS. Hud: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada satu pun makhluk yang luput dari perhatian Allah. Namun, jaminan tersebut bukan berarti kita boleh berpangku tangan.
Rasulullah ﷺ memberikan gambaran indah tentang hubungan antara usaha dan tawakal dalam sebuah hadits:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki; ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
(HR. Tirmidzi)
Perhatikan bahwa burung tetap “pergi” untuk mencari makan. Ini menunjukkan bahwa usaha adalah bagian dari tawakal itu sendiri.
Namun, penting untuk memahami bahwa rezeki tidak selalu berbentuk harta. Kesehatan, waktu luang, keluarga yang harmonis, hingga hati yang tenang juga merupakan rezeki yang sering kita lupakan. Ketika kita mempersempit makna rezeki hanya pada materi, di situlah kegelisahan mudah muncul.
Selain itu, Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa rezeki tidak akan tertukar dan telah ditetapkan:
“Sesungguhnya ruhul qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwa tidaklah satu jiwa akan mati hingga ia menyempurnakan rezekinya…”
(HR. Ibnu Majah)
Hadits ini memberi ketenangan bahwa apa yang menjadi bagian kita tidak akan diambil oleh orang lain.
Berusaha dengan sungguh-sungguh adalah bentuk ketaatan. Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal: bekerja keras seolah semuanya bergantung pada usaha kita, tetapi tetap berserah diri seolah semuanya bergantung pada Allah. Dengan cara ini, kita tidak mudah putus asa saat hasil belum sesuai harapan, dan tidak menjadi sombong saat keberhasilan datang. Selain itu, menjaga kehalalan dan keberkahan rezeki juga sangat penting. Rezeki yang sedikit namun halal dan berkah akan terasa cukup, sementara yang banyak namun tidak berkah justru sering membawa kegelisahan.
Akhirnya, keyakinan bahwa rezeki sudah diatur seharusnya membuat hati lebih tenang, bukan malas. Tugas kita adalah terus melangkah, berusaha, dan berdoa. Hasilnya kita serahkan kepada Allah, yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.