
Dibuat oleh : Admin
Kamis, 29 Januari 2026 / 10 Sya’ban 1447 H
Di antara bulan Rajab yang dimuliakan dan Ramadan yang dinanti, ada satu bulan yang sering luput dari perhatian: Sya’ban. Ia datang seperti tamu yang tenang, tidak terlalu dirayakan, tapi menyimpan hadiah besar bagi siapa yang mau memanfaatkannya. Padahal, justru di bulan inilah seorang mukmin seharusnya mulai menata hati, memperbaiki niat, dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan.
Rasulullah ﷺ memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Ketika ditanya alasannya, beliau menjelaskan bahwa Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia, dan di bulan itu amal-amal diangkat kepada Allah. Beliau ingin saat amalnya diangkat, beliau dalam keadaan berpuasa.
Betapa dalam maknanya. Sya’ban mengajarkan kita bahwa:
Bukan hanya Ramadan yang penting, tapi bagaimana kita mempersiapkan diri sebelum Ramadan datang.
Kalau hari ini kita masih malas ibadah, masih menunda taubat, masih berat meninggalkan maksiat, bisa jadi masalahnya bukan di Ramadan nanti, tapi karena kita tidak serius mempersiapkannya sejak Sya’ban.
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa pada malam pertengahan Sya’ban, Allah memberi ampunan kepada banyak hamba-Nya, kecuali mereka yang masih menyimpan kesyirikan dan permusuhan di hati.
Artinya, sebelum masuk Ramadan, kita diajak untuk:
- Memaafkan orang lain
- Melepaskan dendam
- Menghilangkan kebencian
- Memperbaiki hubungan yang rusak
Karena hati yang penuh amarah sulit merasakan manisnya ibadah. Berapa banyak orang yang berharap bisa bertemu Ramadan, tapi takdir berkata lain. Maka Sya’ban adalah pengingat lembut:
Jika Allah masih memberi kita umur sampai Sya’ban, itu tanda Dia masih memberi kita kesempatan untuk bersiap.
Jangan tunggu Ramadan untuk berubah. Berubahlah sekarang, agar Ramadan nanti menjadi puncak, bukan permulaan.
Ya Allah, sampaikan kami kepada Ramadan dalam keadaan hati yang bersih, iman yang kuat, dan dosa yang Engkau ampuni. Aamiin.