Kemiskinan Dan Sikap Zuhud
Dibuat oleh: Admin Selasa, 8 Oktober 2024/5 Rabiulakhir 1446 H Kemiskinan Dan Sikap Zuhud Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman : ۞ يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ Hai manusia, Kalianlah yang membutuhkan Allah.(QS. Fatir : 15 ) Perlu kita pahami bersama bahwa orang fakir sesungguhnya ialah orang yang membutuhkan sesuatu yang tidak dimilikinya. Dan semua manusia itu pasti fakir kepada Allah Ta’ala, karena kenyataanya manusia membutuhkan-Nya demi kelangsungan hidup mereka. Awal wujud mereka berasal dari-Nya dan itu bukan untuk mereka, tetapi untuk Allah karena dialah yang maha kaya. Mereka yang miskin harta ialah orang yang tidak memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sesuai dari kitab Ihya’ Ulumuddin dalam pembahasan ke34 yang membahas seputar kemiskinan menyebutkan orang miskin memiliki beberapa keadaan. Yang pertama diantaranya ialah ia tidak menyukai harta dan cenderung menghindarinya. Orang yang memiliki keadaan seperti ini disebut sebagai orang yang zuhud (mengalihkan kesenangan dari sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik.). Kedua, orang yang tidak menghindari tetapi juga tidak menginginkan harta. Namun, jika ada (memiliki harta) ia tidak membenci harta tersebut. Hal ini disebut sebagai orang yang ridha. Ketiga adalah orang yang lebih suka harta daripada tidak memilikinya sehingga jika dia memiliki harta dia akan merasa senang, namun dia tidak berupaya untuk mencarinya. Keempat adalah orang yang merasa harus memiliki harta yang belum dia miliki, sehingga dia bagaikan seseorang yang telanjang dan tidak memiliki pakaian untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Orang yang seperti ini jika tidak memiliki keinginan maka keberadaanya jarang ditemui. Orang yang seperti ini dikatakan sebagai orang yang zuhud sejati. Dari segala keadaan yang tertulis diatas yang memiliki derajat lebih tinggi ialah orang yang menganggap ada atau tidaknya sebuah harta sama saja baginya, bagi harta yang berada ditanganya banyak maupun sedikit. Ia tidak peduli dan tidak pernah menolak apabila ada orang yang meminta hartanya, bahkan dia tidak lagi memikirkan kebutuhan dirinya sendiri (karena lebih memikirkan kebutuhan orang lain). Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Aisyah ra., sesungguhnya ia mendapat uang sebesar seratus ribu dirham sebagai pemberian, lalu ia membagi-bagikannya tanpa memikirkan kebutuhannya untuk berbuka, sehingga ada seorang pelayan yang berkata “ seandainya yang satu dirham engkau belikan daging, tentu engkau bisa berbuka dengannya.” Aisyah berkata “ coba kalau tadi engkau mau mengingatkan aku, tentu saranmu ini akan aku turuti.” Dari kisah diatas bisa kita simpulkan bahwa dalam keadaan tertentu, seseorang bisa saja memiliki sikap zuhud yang luar biasa, karena dirinya perlu untuk diingatkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya terlebih dahulu sebelum memikirkan kebutuhan orang lain. Dari kisah diatas penulis merasa bahwa riwayat tersebut merupakan tamparan keras karena pada saat ini penulis masih memiliki kecenderungan untuk memikirkan kebutuhan diri sendiri sehingga terlampau banyak keinginan keinginan semu. Naudzubillah