Info

Mengapa Rezeki Setiap Orang Berbeda-beda

Dibuat Oleh : Administrator Selasa, 23 Juli 2024 / 17 Muharram 1445 H   Allah subhanahu wata’ala telah menjamin rezeki untuk seluruh makhluknya, akan tetapi masih banyak dari kita yang bertanya-tanya mengapa rezeki yang diterima setiap orang saling berbeda? Mengapa ada orang kaya dengan banyak harta namun ada juga fakir miskin yang perharinya belum tentu bisa makan? Mengapa semua ini dapat terjadi? Bahkan masih ada orang yang meragukan atas  keadilan yang Allah SWT miliki. Perlu kita pahami bersama bahwa rezeki yang diterima oleh setiap individu berbeda-beda karena Allah SWT menghendaki agar rezeki mengalir ke masing-masing orang dengan cara yang berbeda. Perbedaan ini memungkinkan hak rezeki diberikan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi individu. Ingatlah bahwa rezeki bukan hanya sebatas harta materi, tetapi juga melibatkan ilmu, akhlak, dan manfaat lain yang diberikan oleh Allah. Allah SWT Berfirman dalam surat Hud ayat 6 yang berbunyi : وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا ‘Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rizkinya.’ (QS. Hud: 6). Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia. ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ “Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim). Turunan dari prinsip ini bahwa siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakekatnya yang memberi rizki mereka adalah Allah dan bukan kepala keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara untuk rizki yang Allah berikan bagi anak-anaknya. Dikisahkan bahwa Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham  ( ulama generasi tabi’ tabi’in ) karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini, اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل “Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang ini pun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510) Telah kita pahami bersama bahwa rezeki pasti akan Allah berikan kepada makhluknya, akan tetapi ada beberapa point juga yang perlu kita pahami bahwa jaminan atas rezeki yang akan Allah berikan tidaklah semata-mata tiba tiba muncul tanpa usaha karena rezeki merupakan taqdir yang mana hal itu adalah rahasia Allah, sehingga kita tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasan untuk berpangku tangan serta Rasuullah menjelaskan bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan ikhtiyar (Berusaha dalam mencari rezeki) sesuai dengan sabda beliau yang berbunyi : لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth). Hadits tersebut menjelaskan bahwa kita tetap harus berikhtiyar terlebih dahulu seperti seekor burung yang keluar dari sarangnya dipagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang (karena berusaha mencari rezeki). Setelah kita memahami bagaimana konsep rezeki yang telah diatur sedemikian rupa oleh Allah SWT, mari kita bersama-sama berintrospeksi diri atas sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu (wahai manusia) hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa dihari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya). Rezeki bisa dibagi ke dalam dua kutub besar: rezeki halal dan haram. Perbedaan antara keduanya sangat jelas. Rezeki haram manfaatnya tidak bertahan lama, akan habis dalam waktu sekejap. Sedangkan, rezeki yang halal, sekalipun manfaatnya sedikit di mata sebagian orang, tetapi sejatinya harta itu terus bertambah keberkahannya. Umat Islam harus merenungkan makna ayat ke-71 dari surah an-Nahl:” Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberi rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka, mengapa mereka mengingkari nikmat Allah? Lalu, mengapa rezeki yang diterima oleh individu berbeda satu dengan yang lain? karena Perbedaan tersebut dimaksudkan agar rezeki dapat mengalir ke individu dengan cara yang berbeda-beda. Jika terjadi perbedaan rezeki, Allah akan memberikan haknya dalam bentuk yang lain. Hal ini karena, sekali lagi perlu ditegaskan dalam ingatan kita bahwa, rezeki bukan hanya uang semata, tetapi rezeki adalah segala sesuatu yang dirasakan manfaatnya oleh manusia. Karena itu, bentuk rezeki yang diberikan Allah tidak terbatas. Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (QS al-Baqarah [2]: 212). Pada saat ini sebagian besar dari kita lalu bersikap sinis dan terheran dengan rezeki lebih yang diterima oleh orang kafir. Tetapi, mengapa kaum Muslim itu tidak mencoba menghitung betapa besarnya nilai kebajikan yang Allah berikan kepada mereka? Belum lagi rezeki berupa rasa nyaman yang dirasakan oleh hati. Terlebih jika mereka mengetahui bahwa hari pembalasan pasti akan tiba. Allah akan memberi balasan sesuai dengan keyakinan dan amal yang telah diperbuat selama di dunia (QS an-Nahl [16]: 96-97). Marilah kita bersama-sama saling mengingatkan agar selalu bersyukur atas segala rezeki yang telah Allah berikan kepada kita, dan selalu yakin bahwa rezeki yang kita dapat itu cukup untuk memenuhi kebutuhan kita.